Bisnis.com, JAKARTA – Asosiasi Fintech Pendanaan Bersama Indonesia (AFPI) optimistis tahun ini industri fintech P2P lending bisa menekan angka kredit macet pinjaman online atau pinjaman daring (pindar).
Adapun outstanding pinjaman macet P2P lending lebih dari 90 hari per Desember 2024 tercatat sebesar Rp2,01 triliun, meningkat 14,8% year on year (YoY).
"Kami optimis untuk lebih baik," kata Ketua Umum AFPI Entjik S.Djafar kepada Bisnis, Rabu (26/3/2025).
Apabila pinjaman macet P2P lending pada periode 2024 tersebut dibedah, pinjaman macet dari perseorangan mencapai Rp1,50 triliun atau mencapai 75% dari total pinjaman macet. Angka tersebut tumbuh 15% YoY.
Apabila diklasifikasikan berdasarkan usia, pinjaman macet perseorangan dikontribusikan terbesar dari peminjam berusia 19-34 tahun dengan nominal pinjaman macet sebesar Rp779,73 miliar, tumbuh 6,8% YoY.
Besarnya komponen kredit macet dari peminjam berusia produktif ini disebut sebagai salah satu imbas dari meningkatnya Pemutusan Hubungan Kerja (PHK).
Baca Juga
Sepanjang 2024, pemerintah mencatat ada 77.965 orang mengalami PHK. Jumlah tersebut meningkat 20,2% dibanding 2023 yang tercatat mencapai 64.855 tenaga kerja. Mereka yang kehilangan pekerjaan, memilih P2P lending sebagai pembiayaan alternatif karena menawarkan kemudahan.
Meski ada pendapat demikian, Entjik menilai yang terjadi bukan seperti itu. "Mendominasinya usia produktif pada pindar dikarenakan market pindar itu memang ada pada usia 18-34 tahun sehingga wajar apabila pada area umur tersebut agak tinggi," kata Entjik.
Sebagai strategi industri P2P lending menekan kredit macetnya. Entjik menjabarkan apa yang dilakukan antara lain adalah melakukan pengetatan pada credit scoring agar lebih konservatif dan prudent.
"Strategi ini sudah kami lakukan sebelum puasa, terutama pada algoritma risk acceptance criteria pada mesin kami karena menjelang Lebaran permintaan akan naik dikhawatirkan NPL pun akan naik," pungkasnya.
Sebelumnya, Direktur Ekonomi Digital Center of Economic and Law Studies (Celios), Nailul Huda menyoroti bagaimana hubungan fenomena maraknya PHK dengan kredit macet P2P lending yang didominasi usia produktif.
"Ketika marak PHK, pendapatan masyarakat kurang, daya beli melemah, sedangkan kebutuhan primer masih mengalami kenaikan, maka masyarakat akan melakukan pembiayaan. Salah satu pembiayaan yang melejit adalah pinjaman daring," kata Huda.