Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia tokotbisnis Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Perusahaan Asuransi Minta Pungutan Iuran OJK Diturunkan

Bisnis.com, JAKARTA-Besaran pungutan iuran Otoritas Jasa Keuangan (OJK) terhadap lembaga keuangan sebesar 0,03%-0,04% dari total aset dinilai masih terlalu tinggi.
Farodilah Muqoddam
Farodilah Muqoddam - Bisnis.com 03 Oktober 2013  |  18:49 WIB
Perusahaan Asuransi Minta Pungutan Iuran OJK Diturunkan
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA-Besaran pungutan iuran Otoritas Jasa Keuangan (OJK) terhadap lembaga keuangan sebesar 0,03%-0,04% dari total aset dinilai masih terlalu tinggi.

Julian Noor, Direktur Eksekutif Asosiasi Asuransi Umum Indonesia (AAUI), meminta OJK mempertimbangkan kembali perhitungan besaran pungutan berdasarkan aset.

Menurut asosiasi, katanya, perhitungan iuran lebih tepat didasarkan pada ekuitas karena lebih menggambarkan kondisi perusahaan.

Selain itu, AAUI juga berharap agar beban iuran hanya berupa iuran tunggal yakni iuran tahunan tanpa ditambahi komponen iuran lainnya.

“Meskipun besarannya menurun dibandingkan sebelumnya, namun secara kumulatif masih besar jika dihitung dari aset. Mudah-mudahan masih diberi kesempatan untuk memberikan masukan,” katanya kepada Bisnis, Kamis (3/10/2013).

Sebelumnya, dalam sosialisasi Rancangan Peraturan Pemerintah (RPP) mengenai iuran OJK pada akhir tahun lalu, besaran iuran diusulkan sebesar 0,06% dari aset.

Menurut laporan triwulan II/2013 OJK, jumlah aset industri asuransi konvensional hingga Maret 2013 mencapai Rp609,5 triliun. Jika diberlakukan pungutan sebesar 0,03%, maka nominal iuran yang dibayarkan industri asuransi untuk membiayai operasional OJK akan mencapai sekitar Rp182,85 miliar.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

asosiasi asuransi umum indonesia perusahaan asuransi iuran ojk pungutan ojk
Editor : Nurbaiti
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

Terpopuler

Banner E-paper
back to top To top