Surat Berharga Komersial Jadi Alternatif Multifinance

Bisnis.com, JAKARTA Surat berharga komersial atau SBK dinilai dapat menjadi alternatif diversifikasi sumber pendanaan bagi perusahaan pembiayaan, di luar sumber dana selama ini dari kredit perbankan, obligasi, dan medium term note (MTN).
Denis Riantiza Meilanova
Denis Riantiza Meilanova - Bisnis.com 14 September 2017  |  13:52 WIB
Surat Berharga Komersial Jadi Alternatif Multifinance
Multifinance - Istimewa

Bisnis.com, JAKARTA – Surat berharga komersial atau SBK dinilai dapat menjadi alternatif diversifikasi sumber pendanaan bagi perusahaan pembiayaan, di luar sumber dana selama ini dari kredit perbankan, obligasi, dan medium term note (MTN).

Wakil Ketua Asosiasi Perusahaan Pembiayaan Indonesia (APPI) Jodjana Joddy mengatakan perusahaan pembiayaan dalam mencari pendanaan tidak bisa mengakses dana tunai.  Oleh karena itu, perusahaan pembiayaan masih sangat bergantung pada perbankan atau penerbitan obligasi dalam mencari sumber pendanaan.

Akan tetapi, lanjut Jodjana, sekarang ini karena rasio kredit bermasalah atau nonperforming loan (NPL) perbankan sedang kurang baik, perbankan lebih berhati-hati dalam menyalurkan kredit ke korporasi. Suku bunga kredit perbankan ke korporasi pun masih dinilai lebih tinggi daripada suku bunga kredit ritel.

Di sisi lain, sumber pendanaan lain, seperti obligasi (bond), global bond, atau medium term note (MTN) memakan waktu yang cukup lama dan biaya yang mahal.

Sehingga menurut Jodjana, bila penerbitan SBK juga dapat dimanfaatkan oleh perusahaan pembiayaan merupakan peluang bagus bagi perusahaan pembiayaan untuk mencari alternatif sumber pendanaan yang lebih cepat dan murah.

"Kalau sudah dibuka bagus.  Apalagi kalau bisa 100 bps lebih murah, itu satu kemajuan.  Berharap cepat diimplementasikan," kata Jodjana kepada Bisnis.

Seperti diketahui, Bank Indonesia menerbitkan aturan baru yang mengizinkan korporasi nonbank menerbitkan SBK untuk menghimpun dana jangka pendek di pasar uang.

Aturan tersebut termaktub dalam Peraturan Bank Indonesia (PBI) No.19/9/PBI/2017 tentang Penerbitan dan Transaksi Surat Berharga Komersial di Pasar Uang.  Diterbitkannya aturan tersebut bertujuan menyediakan alternatif sumber pendanaan bagi dunia usaha selain kredit perbankan yang sifatnya jangka pendek.

BI mengestimasi biaya penerbitan SBK akan lebih murah dengan rata-rata persentase biaya lebih rendah sekitar 100 basis points (bps) dibandingkan dengan suku bunga kredit modal kerja yang disalurkan oleh perbankan.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
multifinance

Editor : Anggi Oktarinda

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top
Tutup