FIT & PROPER TEST GUBERNUR BI: 2 Jam Lebih Perry Warjiyo Dicecar Anggota Dewan

Anggota Komisi XI DPR RI mencecar calon tunggal Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo dengan berbagai pertanyaan dalam proses uji kepatutan dan kelayakan (fit and proper test) yang dilakukan hari ini, Rabu (28/3/2018).
Ropesta Sitorus | 28 Maret 2018 12:39 WIB
Deputi Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo berbicara pada seminar ekonomi internasional di Bank Indonesia, Jakarta, Jumat (28/4). - Antara/Hafidz Mubarak A.

Bisnis.com, JAKARTA –Anggota Komisi XI DPR RI mencecar calon tunggal Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo dengan berbagai pertanyaan dalam proses uji kepatutan dan kelayakan (fit and proper test) yang dilakukan hari ini, Rabu (28/3/2018).

Setelah Perry menyampaikan presentasi tentang visi dan misinya, anggota Komisi XI DPR melakukan pendalaman materi lewat tanya jawab. Uji kepatutan dan kelayakan yang telah dimulai sejak pukul 10.30 WIB masih terus berlangsung hingga berita ini dimuat.

Jon Erizal, Politisi dari Partai PAN, mempertanyakan pandangan Perry terkait perkembangan teknologi yang dan dampaknya terhadap sistem finansial serta perkembangan industri perbankan syariah.

“Blockchain technology luar biasa, perkembangannya sangat drastis, diperkirakan banyak bank account yang drop dan di luar negeri banyak sekali outlet bank yang tutup. Sejauh mana bapak akan melindungi BI dalam pelaksanaannya nanti, bagaimana roadmapnya,” katanya saat sesi tanya jawab.

Jon juga mempertanyakan terkait penerapan big data dan bisnis peer to peer yang akan semakin menjadi tantangan bagi perbankan. Selain itu, Jon melemparkan pertanyaan terkait efisiensi anggaran yang dapat dilakukan Perry kelak mengingat 40% pengawas perbankan telah pindah ke Otoritas Jasa Keuangan.

Eva Kusuma Sundari, anggota Komisi XI dari partai PDIP menambahkan dengan menanyakan skenario BI untuk mendorong stabilitas dan pertumbuhan yang berkeadilan sosial.  

“Terakhir, ini permintaan, kalau bisa Bank Indonesiia membantu Baleg mengani standar penggajian nasional,” tuturnya.

Anggota Komisi XI lainnya, Michael Jeno, menilai ide-ide yang disampaikan oleh Perry kebanyakan di luar tugas utama BI yakni menjaga nilai tukar, suku bunga dan inflasi.

“Kemarin fit and proper test dengan 3 orang calon deputi Gubernur BI dan hari ini dengan Pak Perry. Kalau saya tangkap, banyak yang disampaikan di luar core penugasan utama yang dimandatkan oleh UU BI yang ada sekarang, seperti pendalaman pasar keuangan dan pasar moneter. Itu bagus, tapi apakah UU BI yang ada sekarang perlu direvisi supaya ide-ide itu bisa dilakukan?,” tanyanya.

Pada kesempatan yang sama, anggota DPR Elviana mengkritisi terkait asumsi-asumsi makro yang disampaikan BI kerap kali meleset.

“Saya juga kurang happy ketika di awal-awal PaK perry menyatakan kinerja ekonomi mulai membaik, nilai tukar bagus dan soal utang,” katanya.

Sebagai informasi, setelah pendalaman materi, Komisi XI akan melanjutkan prosesnya dengan rapat internal untuk mengambil keputusan hasil fit and proper test yang akan disampaikan pada malam nanti pukul 19.00 WIB.

Perry merupakan calon tunggal yang ditunjuk oleh Presiden Joko Widodo sebagai Gubernur BI untuk menggantikan Agus DW Martowardojo yang berakhir masa jabatannya pada Mei 2018.

Perry menjabat sebagai Deputi Gubernur BI dan dikenal sebagai ahli di bidang moneter. Dia mengenyam pendidikan di Fakultas Ekonomi Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta serta pendidikan magister dan doktoral di Iowa State University, AS.

Sehari sebelumnya, DPR juga menggelar uji kepatutan dan kelayakan tiga orang calon Deputi Gubernur BI yang akan menggantikan Perry. Ketiganya yakni Asisten Gubernur Kepala Departemen Kebijakan Ekonomi dan Moneter BI Dody Budi Waluyo, Kepala Kantor Perwakilan BI Jawa Barat Wiwiek Sisto Widayat, dan Kepala Departemen Pengelolaan Moneter BI Doddy Zulverdi.

Tag : gubernur bi
Editor : Hendri Tri Widi Asworo

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top