Hafid Hadeli: Harus Rajin Jemput Bola

PT Adira Dinamika Multi Finance Tbk., kian memantapkan diri sebagai salah satu perusahaan pembiayaan otomotif terkemuka di Tanah Air. Untuk memahami lebih dalam strategi bisnis Adira Finance, peluang dan tantangan pembiayaan di Tanah Air, Bisnis mewawancarai Direktur Utama PT Adira Dinamika Multi Finance Tbk. (Adira Finance) Hafid Hadeli.
Fitri Sartina Dewi/Thomas Mola | 31 Mei 2018 11:33 WIB

Bisnis.com, JAKARTA – PT Adira Dinamika Multi Finance Tbk., kian memantapkan diri sebagai salah satu perusahaan pembiayaan otomotif terkemuka di Tanah Air. Untuk memahami lebih dalam strategi bisnis Adira Finance, peluang dan tantangan pembiayaan di Tanah Air, Bisnis mewawancarai Direktur Utama PT Adira Dinamika Multi Finance Tbk. (Adira Finance) Hafid Hadeli. Berikut kutipannya:

Bisakah Anda jelaskan perkembangan bisnis Adira Finance sejauh ini?

Adira Finance berdiri pada 1990, dan baru beroperasi pada 1991. Fokus awal kami di mobil, tetapi setelah krisis tahun 1998 Adira Finance mulai masuk ke pembiayaan kendaraan roda dua.

Saat itu, penjualan kendaraan roda dua mulai tumbuh. Pada 2003, aset kami Rp3,9 triliun, dan punya 120 jaringan usaha. Pada 2004, Adira Finance dipinang Bank Danamon. Lalu, Adira melakukan IPO , dan pada tahun yang sama Danamon mengambil alih 75% saham Adira Finance.

Laba Bersih pada 2008 sudah tembus Rp1 triliun, dan jaringan usaha dalam waktu 5 tahun sudah mencapai 300 outlet, karena saat itu pertumbuhan penjualan kendaraan roda dua pesat sekali sehingga pada 2010 jumlah piutang pembiayaan kami sudah naik menjadi Rp30,8 triliun.

Pada 2009, Danamon mengeksekusi hak belinya. Pada beli awal 75% dengan opsi tambahan beli lagi 20% sehingga kepemilikan Danamon menjadi 95%, dan 5% sisanya publik.

Apakah lantas Adira Finance gencar berekspansi kala itu?

Bisnis pembiayaan kami terus berkembang. Setelah 2011, kami mulai membuat produk pembiayaan syariah. Pada 2015 Adira Finance mulai merambah pembiayaan elektronik atau durable. Pada 2017, kami punya inisiatif digital dengan meluncurkan situs Momobil.id. Jadi pada tahun ini kami sudah beroperasi selama 28 tahun.

Apa visi besar Anda terhadap perusahaan?

Visi besarnya adalah menciptakan nilai bersama demi kesinambungan perusahaan dan menyejahterakan masyarakat Indonesia. Kami membantu kebutuhan-kebutuhan dari sisi keuangan, maupun transportasi supaya masyarakat bisa lebih produktif. Kami lihat transportasi publik di Indonesia belum begitu masif, jadi orang-orang masih membutuhkan kendaraan pribadi.

Bagaimana Anda memandang prospek pembiayaan kendaraan bermotor ini?

Kebutuhan transportasi di mana-mana pasti akan tumbuh, terutama di Indonesia penetrasi motor sudah cukup banyak. Ke depannya, kami perkirakan penetrasi mobil yang akan naik, karena penetrasi pasarnya relatif rendah dibandingkan dengan negara-negara lain.

Dengan penduduk sekitar 250 juta, mungkin penetrasinya masih di bawah 10%. Jadi, kami lihat bagaimanapun juga pasar transportasi di Indonesia akan tetap tumbuh.

Bagaimana dengan portofolio pembiayaan Adira selama ini?

Pembiayaan kami pada tahun kemarin kurang lebih Rp32,7 triliun, terdiri dari motor sekitar 55%, mobil 43%, sisanya 2% adalah pembiayaan elektronik atau durable.

Adakah potensi pergeseran portofolio pembiayaan?

Hingga saat ini, gambaran komposisi pembiayaannya masih sama dengan realisasi akhir tahun lalu. Namun ke depannya, kami melihat pertumbuhan pembiayaan kendaraan roda empat portofolionya cenderung lebih besar karena kalau income bertambah pasti semua orang mau yang nyaman, yaitu punya mobil untuk keluarga.

Kalau punya uang, daripada naik motor maunya naik mobil. Income Indonesia (GDP) secara nasional sekarang masih di bawah US$4.000. Jadi, kalau naik terus orang akan mencari transportasi yang lebih nyaman, yaitu mobil sendiri.

Di tengah persaingan yang ketat, di mana posisi Adira Finance pada industri?

Memang ada banyak pemain di sektor pembiayaan, tetapi Adira agak unik dibandingkan dengan perusahaan pembiayaan lain. Adira adalah perusahaan pembiayaan yang independen. Artinya, kami tidak captive atau tidak terhubung dengan merek tertentu, dan tipe tertentu.

Jadi, semua alat transportasi kami biayai, segala merek, jenis dan tipe. Kami menggarap semua, tidak hanya kendaraan tetapi juga pembiayaan elektronik. Untuk pembiayaan kendaraan kami tidak hanya membiayai kendaraan yang baru saja, tetapi juga kendaraan bekas.

Di manakah letak keunikan Adira dibandingkan dengan perusahaan lainnya?

Kami memberikan service kepada konsumen untuk segala macam kebutuhan mereka, mulai dari transportasi hingga kebutuhan pendanaan. Kami punya konsep bahwa keuntungan dari menggarap berbagai macam portofolio supaya konsumen kami bisa tetap loyal.

Misalnya, konsumen pasti ingin ganti mobil. Kami berupaya untuk bisa memenuhi kebutuhan itu. Itulah yang membedakan kami dengan perusahaan pembiayaan lainnya. Adira juga menjadi salah satu perusahaan pembiayaan dengan aset terbesar.

Jika tidak memiliki captive, bagaimana strategi perusahaan menarik pelanggan?

Pertama, adalah jangkauan. Kami punya jaringan sekitar 450 titik lokasi di seluruh Indonesia. Itu cukup besar, dan itu juga yang membuat portofolio kami cukup besar. Kedua, service level. Kalau orang perlu kendaraan, persaingannya sekarang lebih kepada seberapa cepat kita memberi keputusan untuk memberikan fasilitas kredit.

Untuk proses tersebut, bisa dibilang kami cukup cepat, sehingga pelanggan juga lebih nyaman tidak perlu menunggu terlalu lama.

Pada kuartal I/2018, penjualan mobil dan motor masih pada kisaran single digit, bagaimana dengan realisasi pembiayaan Adira Finance?

Penjualan mobil dan motor memang pada kisaran single digit, tetapi pembiayaan kami pada kuartal I/2018 justru tumbuh cukup tinggi, sekitar 19% dibandingkan dengan kuartal pertama tahun sebelumnya.

Apa faktor yang mendorong pertumbuhan pembiayaan bisa lebih tinggi?

Kalau bicara pertumbuhan single digit itu hanya ketahuan dari data penjualan motor dan mobil baru. Kami juga ada pembiayaan motor dan mobil bekas yang datanya penjualannya tidak ada. Kami juga ada pembiayaan durable.

Itulah yang mendorong kami bisa tumbuh cukup tinggi mencapai 19%. Jadi, pertumbuhannya ditopang dari luar segmen kendaraan baru. Namun, persentase pembiayaan segmen kendaraan baru masih lebih besar yaitu sekitar 70%, sedangkan 30% sisanya kendaraan bekas.

Berapa target pembiayaan yang akan disalurkan pada tahun ini?

Target kami tumbuh 5%—10% hingga akhir tahun ini dibandingkan dengan realisasi pembiayaan pada tahun lalu. Target ini bisa dicapai dengan syarat pertumbuhan ekonomi bagus. Bagaimanapun, kinerja bisnis bergantung pada pertumbuhan ekonomi yang menjadi motor penggerak utama.

Berikutnya adalah membaiknya daya beli dan penjualan otomotif. Itulah yang diharapkan bisa menopang pembiayaan Adira. Itu merupakan faktor eksternal yang bisa mendorong pemenuhan target. Dari sisi internal, kami juga terus melakukan pembenahan-pembenahan melalui digitalisasi pada berbagai proses.

Pertumbuhan Adira pada kuartal I/2018 saja sudah 19%, mengapa target pertumbuhan sepanjang 2018 hanya dipatok 5%—10%?

Siklusnya biasanya Januari agak lemah, tetapi kemudian meningkat sampai menjelang Lebaran. Setiap momen jelang Lebaran pembiayaan biasanya tumbuh 10%. Mudah-mudahan tahun ini pertumbuhan pembiayaan jelang Lebaran bisa mencapai 20%.

Yang menjadi tantangan adalah setelah Lebaran karena biasanya turun lagi, dan meningkat lagi pada Desember. Secara industri , perbaikannya memang belum terlalu banyak. Namun, Adira terbantu dengan efisiensi proses, sehingga penjualannya meningkat. Berbagai proses yang lebih efisien itu tidak hanya menarik minat pelanggan, tetapi juga mitra diler kami.

Bagaimana strategi perusahaan mencapai target pertumbuhan pembiayaan?

Untuk meningkatkan pembiaayaan, kami sudah punya beberapa saluran pemasaran melalui Momobil, kerja sama dengan OLX, dan Tokopedia.

Kami juga sudah meluncurkan aplikasi Akses yaitu sebuah aplikasi yang bisa diunduh oleh konsumen sehingga mereka bisa melihat sisa angsuran, dan angsuran yang jatuh tempo. Aplikasinya sudah kami luncurkan pada tahun ini.

Untuk strategi penjualan, kami lebih menggalakkan event bersama diler melalui kegiatan pameran-pameran. Kebiasaan finance company itu mereka menunggu konsumen beli kendaraan di diler.

Kami justru jemput bola bersama dengan diler menawarkan produk motor, dan mengadakan pameran-pameran di berbagai lokasi. Program itu kita namakan Sobat atau yang lebih dikenal dengan ‘sering order banyak tawaran’.

Bagaimana proses digitalisasi yang dilakukan untuk menopang kegiatan bisnis?

Dulu, proses kredit sifatnya masih manual, dari pengajuan kredit, approval, hingga pembayaran ke diler. Sekarang, kami sudah paperless, dan secara organisasi juga kami lebih siap. Kami punya organisasi yaitu sentralisasi kredit approval, dan sentralisasi operasional.

Di Jawa Tengah, ada sekitar 30 cabang yang beroperasi, semua ada divisi penjualan, divisi kredit approval, divisi collection, dan divisi operasi. Sekarang cabang-cabang tersebut fokus ke penjualan, lebih mendekatkan diri kepada konsumen dan mitra diler kami.

Proses kredit approval dan proses operasi sudah tersentralisasi di satu kota. Proses untuk menghubungkan antara kantor cabang, sentral operasi dan sentral kredit itu—kalau bentuknya masih manual—suatu hal yang tidak mungkin.

Dengan proses digitalisasi, semua sales officer kami bisa memasukkan data melalui gadget. Adapun, datanya dikirmkan secara online ke sentral operasi dan sentral kredit, sehingga tingkat kecepatan kami juga bertambah.

Ini termasuk proses pembayaran ke diler. Sebelumnya, kalau ada persetujuan kredit kami kasih informasi ke diler pakai kertas, tetapi sekarang sudah paperless. Digitalisasi membuat proses persetujuan kredit jauh lebih cepat, rerata hanya sekitar 4 jam. Sebelumnya prosesnya butuh waktu sekitar 8 jam.

Apakah proses digitalisasi ini menyebabkan jumlah outlet Adira berkurang?

Belum, karena saya pikir perlu waktu mengubah secara full digital. Bayangkan bagaimana jualan motor, dan pembiayaan semuanya lewat Internet. Apalagi di daerah-daerah itu masih sulit. Kalau kami terlalu ideal jangan juga, kami harus mengikuti perkembangan pasarnya. Jadi perlu mengimbangi yang online dengan yang offline.

Bagaimana manajemen risiko untuk mencegah kenaikan rasio kredit bermasalah?

Kredit bermasalah itu berkaitan dengan dua hal yaitu internal dan eksternal. Faktor internal itu bagaimana orang-orang kami bisa mengevaluasi dengan benar sebelum menyalurkan kredit.

Faktor eksternalnya, kalau ekonomi turun dan daya beli turun, daya bayar juga akan turun. Kenyatannya, NPF kami pada Desember 1,6%, sedangkan September 1,9%. Sampai sekarang NPF masih flat di kisaran 1,6%, jadi ada perbaikan untuk NPF.

Bagaimana upaya sinergi Adira Finance dengan Danamon Group sejauh ini?

Kalau dengan Bank Danamon, bisnis kami ini sebenarnya complementary. Sekitar 80% customer kami belum masuk ke sektor perbankan yaitu segmen menengah ke bawah, sedangkan bank lebih banyak bermain di segmen menengah ke atas. Jadi, keberadaan Adira ini untuk complementary bisnis perbankan yang ada di Indonesia.

Kami juga mengarahkan konsumen-konsumen kami untuk buka rekeningnya ke Bank Danamon. Kami berharap konsumen kami bisa terangkul induk kami Bank Danamon. Sinergi juga dilakukan dengan Adira Insurance sebagai sesama entitas di bawah Danamon Group.

OJK sedang mengkaji aturan yang mengizinkan kegiatan usaha pembiayaan tunai kepada perusahaan pembiayaan, bagaimana tanggapan Anda?

Kami menyambut baik usulan tersebut. Kami berharap bisa membantu masalah keuangan pada segmen yang belum dicapai perbankan mengingat jangkauan kami memang sampai pelosok. Harapannya, kami bisa memberikan solusi keuangan apapun bentuknya.

OJK telah banyak membantu kami karena OJK berkepentingan menjaga kesehatan di perusahaan pembiayaan.

 

BIODATA

Nama: Hafid Hadeli

Tempat tanggal lahir: 23 Agustus 1963

Riwayat pendidikan:

- Sajana akuntansi Universitas Trisaksi (1988)

Riwayat karir:

- Direktur Utama PT Adira Dinamika Multi Finance Tbk. (2017—Sekarang)

- Direktur Pemasaran Pembiayaan Mobil PT Adira Dinamika Multi Finance Tbk. (2012—2017)

- Direktur Keuangan dan Direktur Kepatuhan PT Adira Dinamika Multi Finance Tbk. (2010—2012)

- Direktur PT Broadband Multimedia Tbk. (2002—2005)

- Wakil Direktur Utama PT Bank Lippo Tbk. (2001—2002)

- Berbagai posisi senior di Citibank Jakarta (1988—2001)

- Auditor di Arthur Andersen & Co. (1985—1988)

 

*) Artikel Lunch with CEO di koran Bisnis Indonesia edisi Kamis 31 Mei 2018.

Tag : adira dinamika multi finance
Editor : Sutarno

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top