Pegawai Bank Terus Berkurang, Pekerjaan Rutin Diambil Alih Teknologi

Pelaku industri perbankan harus segera melakukan transformasi bisnis di era disrupsi teknologi, seiring dengan tren penurunan jumlah pekerja bank dalam 3 tahun terakhir.
Ipak Ayu H.N/Ropesta Sitorus/Muhammad Khadafi
Ipak Ayu H.N/Ropesta Sitorus/Muhammad Khadafi - Bisnis.com 20 Maret 2019  |  12:38 WIB
Pegawai Bank Terus Berkurang, Pekerjaan Rutin Diambil Alih Teknologi
Jumlah pegawai dari 9 bank besar di Indonesia selama 2014-2018. - Bisnis/Tri Utomo

Bisnis.com, JAKARTA — Pelaku industri perbankan harus segera melakukan transformasi bisnis di era disrupsi teknologi, seiring dengan tren penurunan jumlah pekerja bank dalam 3 tahun terakhir.

Dinamika karyawan bank menjadi topik headline koran cetak Bisnis Indonesia edisi Rabu (20/3/2019). Berikut laporannya.

Hal itu selaras dengan data yang dilaporkan oleh sembilan bank skala besar dan menengah dalam 5 tahun terakhir.

Sepanjang periode itu, jumlah karyawan sebagian besar bank berada dalam tren penurunan sejak 2016. (Lihat grafis).

Bahkan, jumlah karyawan bank besar seperti PT Bank Central Asia Tbk. juga mulai turun sejak 2017 setelah terus meningkat dalam 3 tahun sebelumnya. PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk. pun dalam kondisi yang sama.

Hanya dua bank pelat merah, yaitu PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. dan PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk., yang masih konsisten menambah jumlah karyawannya dalam 3 tahun terakhir.

Endang Hidayatullah, Direktur Kepatuan Bank Negara Indonesia (BNI), menuturkan bahwa kebutuhan pegawai akan terus berubah seiring dengan perkembangan teknologi digital.

“Arah kami adalah tetap mengoptimalkan pegawai yang ada dengan sistem alih fungsi, misalnya dulu teller, sekarang jadi sales,” ujarnya, Selasa (19/3/2019).

Dia menambahkan, komposisi alih fungsi tugas tersebut mencapai 60 persen dari total karyawan. Jumlah tersebut merupakan pekerjaan rutin dan kini sudah digantikan oleh teknologi.

Rico Usthania Frans, Direktur Teknologi Informasi dan Operasi Bank Mandiri, mengatakan bahwa 50 persen posisi kerja karyawan perbankan yang ada saat ini akan hilang dalam waktu 10 tahun mendatang. “Ini perlu dipikirkan bersama. Kita butuh relokasi sumber daya manusia.”

CEO Citi Indonesia Batara Sianturi menuturkan tidak lama lagi perbankan akan butuh sumber daya manusia (SDM) yang memiliki daya analisis tinggi, bukan lagi kemampuan administrasi dan pelayanan seperti teller.

Secara umum, pekerjaan yang akan paling cepat terdampak adalah posisi front office. Citibank berencana tidak akan menambah jaringan secara fisik.

“Digital itu shifting. Jangan heran nanti kalau ada bank yang butuh banyak kemampuan IT , bukan ekonomi, karena ada perubahan model bisnis.”

PT Bank Danamon Indonesia Tbk. tercatat menjadi bank yang paling masif memotong jumlah karyawan. Sejak 2014—2018, bank yang akan melebur dengan Mitsubishi UFJ Financial Group telah mengurangi 10.177 karyawan.

Ketua Umum Serikat Kerja Bank Danamon Abdoel Moedjib mengatakan bahwa hal itu mutlak terjadi dan merupakan bagian dari implementasi teknologi.

“Hampir semua bagian terkena dampak, mulai dari front office hingga back office. Analis kredit ini dulu bisa butuh sampai 12 orang satu cabang, sekarang 2—3 orang,” ujarnya.

KONDISI KEUANGAN

Dari sisi bisnis, implementasi teknologi diyakini akan menguntungkan kondisi keuangan perbankan. PT Standard Chartered Bank Indonesia, misalnya, menghemat beban operasional dari belanja pegawai pada tahun lalu.

Beban gaji tenaga kerja turun 18,7% secara tahunan menjadi Rp875 miliar. Efisiensi tersebut adalah imbas dari berkurangnya jumlah pegawai sebesar 4,7% secara tahunan menjadi 1.510 orang.

Rino Donosepoetro, CEO­­ Standard Chartered Bank Indonesia, mengatakan bahwa hal itu adalah dampak dari transformasi menuju pemasaran dalam jaringan. Namun, penurunan jumlah karyawan bukan berarti perusahaan memberhentikan tenaga kerja.

“Lebih karena staf kami yang pindah ke bank lain atau industri dan juga karena promosi kami di internal,” kata Rino.

Namun, pengurangan pegawai tidak secara langsung membuat beban tenaga kerja berkurang. Jumlah karyawan BNI turun 2,1% pada tahun lalu, tetapi beban tenaga kerja naik 9,7%.

Direktur Keuagan BNI Anggoro Eko Cahyo menjelaskan bahwa ada pergeseran alokasi belanja pegawai. “Karena biaya pengembangan SDM untuk setiap strata pegawai naik melalui pendidikan dan pelatihan,” katanya.

Menurutnya, biaya ini merupakan investasi yang bernilai positif. Dia yakin pembekalan tersebut akan memberi manfaat bagi SDM perusahaan pada masa mendatang.

Bhima Yudhistira, Ekonom Institute For Development of Economics and Finance, menjelaskan bahwa penurunan jumlah pegawai akan menimpa bank dengan modal inti Rp5 triliun hingga lebih dari Rp30 triliun karena memiliki modal besar untuk melakukan digitalisasi bisnis.

“Teknologi dalam jangka panjang itu lebih murah dibandingkan dengan membuka kantor cabang baru yang harus diisi oleh karyawan,” katanya.

 

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
perbankan, pegawai bank

Editor : Sutarno

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top