Aset Bank Kecil Terancam Menyusut

Meskipun secara nasional aset perbankan sempat menembus Rp8 kuadiriliun pada akhir 2018, namun pertumbuhannya tidak merata. Aset bank-bank kecil terancam menyusut.
Ropesta Sitorus
Ropesta Sitorus - Bisnis.com 22 April 2019  |  11:13 WIB
Aset Bank Kecil Terancam Menyusut
Uang rupiah. - Bloomberg/Brent Lewin

Bisnis.com, JAKARTA – Meskipun secara nasional aset perbankan sempat menembus Rp8 kuadiriliun pada akhir 2018, namun pertumbuhannya tidak merata. Aset bank-bank kecil terancam menyusut.

Direktur Riset Center of Reform on Economy (CORE) Piter Abdullah mengatakan dari sisi penyebaran aset dilihat dari kategorinya, ada kelompok bank yang berpotensi mengalami penurunan aset.

Menurutnya, potensi penurunan terutama pada kategori bank umum kegiatan usaha (BUKU) I dan BUKU II, sedangkan kategori BUKU III masih berpotensi naik kendati lambat. Adapun BUKU IV mayoritas memiliki kelebihan dalam memupuk aset karena memiliki likuiditas yang lebih besar sehingga mampu menggenjot kredit.

“Aset bank sangat bergantung pada proses penyaluran kredit yang mendorong penciptaan uang dan aset baru. Dalam 3 tahun terakhir pertumbuhan kredit perbankan rendah sekali dan menurut saya pertumbuhan aset bank akan cenderung turun tapi tidak merata,” katanya kepada Bisnis, belum lama ini.

Piter memproyeksikan pertumbuhan kredit akan melambat dan lebih tersegmentasi di bank bermodal besar. Hal ini dengan memperhitungkan strategi BI yang kendati menahan suku bunga acuan tapi dari sisi moneter terlihat sangat ekspansif.

Dampaknya, kondisi likuiditas bank besar jadi lebih longgar sehingga mereka memiliki kesempatan untuk melakukan ekspansi kredit yang berdampak pada peningkatan aset. Di sisi lain, bank-bank kecil dari kelompok BUKU I dan BUKU II sulit mengimbanginya.

“Ada kemungkinan target pertumbuhan kredit yang ditetapkan OJK [Otoritas Jasa Keuangan] bisa tercapai tapi akan sangat tersegmentasi, sehingga BUKU III dan IV kemungkinan asetnya naik tapi bank kecil tidak naik,” paparnya.

Per akhir 2018, aset bank umum di Indonesia untuk pertama kalinya menembus angka Rp8 kuadriliun, kendati dari sisi pertumbuhan sedikit melambat. Kenaikan aset tersebut lebih banyak ditopang oleh kenaikan penyaluran kredit dibandingkan dengan kenaikan penghimpunan dana.

Berdasarkan data Statistik Perbankan Indonesia yang dirilis Otoritas Jasa Keuangan (OJK), menutup tahun 2018 lalu bank umum komesial di Tanah Air tidak termasuk bank perkreditan rakyat, membukukan aset total sebesar Rp8.068,35 triliun.

Jumlah tersebut tumbuh 9,21% secara year on year (YoY) dibandingkan dengan total aset bank umum pada 2017 sebesar Rp7.387,63 triliun. Pertumbuhan tersebut sedikit melambat dibandingkan dengan laju kenaikan total aset bank umum pada 2016 dan 2017, masing-masing sebesar 10,39% dan 9,78% menjadi Rp6.729,79 triliun dan Rp7.387,63 triliun.

Capaian rekor Rp8 kuadriliun ditopang oleh pertumbuhan kredit bank umum yang mencapai Rp12,04% atau dari Rp4.781,93 triliun pada akhir 2017 menjadi Rp5.358,01 triliun pada akhir Desember 2018. Adapun, penghimpunan dana pihak ketiga hanya tumbuh moderat di level 6,44% (YoY) yakni dari Rp5.289,38 triliun menjadi Rp5.630,45 triliun.

Pembentukan aset bank umum sepanjang 2018 lalu cukup positif karena mencapai rekor baru dengan menembus level Rp8.000 triliun dengan total jumlah bank umum 115 bank. Jumlah ini menanjak 62,87% dibandingkan dengan kondisi pada lima tahun atau akhir 2013 di mana total aset 120 bank umum di Indonesia sebesar Rp4.954 triliun

Meski demikian, pada bulan pertama 2019, total aset 115 bank umum di dalam negeri kembali turun tipis ke level Rp7.913,49 triliun.

Juru Bicara Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Sekar Putih Djarot mengatakan turunnya jumlah aset bank dari level Rp8 kuadriliun pada Januari lalu merupakan efek awal tahun.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
aset perbankan

Editor : Farodilah Muqoddam

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top
Tutup