Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Kejar Momentum, Pengusaha Minta BI Turunkan Suku Bunga

Kalangan pelaku usaha meminta bank sentral mempertimbangkan penurunan suku bunga pasca pengumuman hasil Pemilihan Umum 2019.
Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Hariyadi B. Sukamdani menjawab pertanyaan wartawan, di Jakarta, Kamis (11/4/2019)./Bisnis-Endang Muchtar
Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Hariyadi B. Sukamdani menjawab pertanyaan wartawan, di Jakarta, Kamis (11/4/2019)./Bisnis-Endang Muchtar

Bisnis.com, JAKARTA - Kalangan pelaku usaha meminta bank sentral mempertimbangkan penurunan suku bunga pasca pengumuman hasil Pemilihan Umum 2019.

Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Hariyadi B. Sukamdani meyakini, kepercayaan pengusaha dan pasar terhadap ekonomi setelah pengumuman hasil Pemilu 2019 dipastikan sangat besar dan positif.

"Kami berharap BI mengambil kesempatan pertama untuk mengkoreksi itu [suku bunga]," kata Hariyadi dalam peluncuran buku KSK di Gedung BI, Jumat (03/05/2019).

Dia berharap, BI dapat mengkaji keputusan penurunan suku bunga melihat momentum yang sangat positif pasca Pemilu tahun ini.

Seperti diketahui, Komisi Pemilihan Umum (KPU) akan memberikan pengumuman resmi hasil Pemilu 2019, termasuk hasil pemilihan presiden (Pilpres) pada 22 Mei 2019.

Hariyadi menuturkan, pihaknya berharap BI dapat menurunkan suku bunga sebesar 50 basis poin secara bertahap. "Menurut saya kalau bisa sampai 50 bps lebih bagus, jadi turun ke 5,5 persen atau 5 persen," ungkapnya.

Dia mengakui, risiko global akan selalu ada. Namun, dia berharap faktor domestik juga tetap diperhatikan karena investasi dari domestik saat ini cukup berperan. "Yang mendrive kita invetasi dari domestik, dalam 5 tahun terakhir domestik itu signifikan," tambah Hariyadi.

Sementara itu, bank sentral menepis adanya kemungkinan penurunan suku bunga pada semester kedua tahun ini, mengingat masih tingginya ketidakpastian global.

Deputi Gubernur BI Erwin Rijanto mengatakan, ketidakpastian global memang telah berkurang, namun risiko tetap tinggi karena adanya bayang-bayang perang dagang, Brexit, dan geopolitik lainnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Penulis : Hadijah Alaydrus
Editor : Tegar Arief
Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper