Ditopang Saham & Reksa Dana, Hasil Investasi Asuransi Jiwa Sepanjang Semester I/2019 Diyakini Positif

Sektor asuransi jiwa dinilai mencatatkan hasil investasi yang positif sepanjang semester I/2019 setelah sepanjang tahun lalu turun signifikan.
Oktaviano DB Hana | 14 Juni 2019 11:15 WIB
Pengunjung beraktivitas di dekat logo asuransi jiwa di gedung Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia (AAJI), Jakarta, Rabu (9/1/2019). - Bisnis/Felix Jody Kinarwan

Bisnis.com, JAKARTA – Sektor asuransi jiwa dinilai mencatatkan hasil investasi yang positif sepanjang semester I/2019 setelah sepanjang tahun lalu turun signifikan.

Data Otoritas Jasa Keuangan tentang statistik perasuransian menunjukkan hingga April 2019 sektor jasa keuangan ini membukukan hasil investasi senilai Rp10,11 triliun. Realisasi itu meningkat hampir 400% sebab pada April 2018 hasil investasi industri asuransi jiwa minus Rp3,37 triliun.

Sejak Januari hingga April 2019, hasil investasi sektor jasa keuangan ini pun tercatat positif dengan rerata sekitar Rp8,63 triliun.

Padahal, pada akhir 2018, total hasil investasi sektor asuransi jiwa tercatat senilai Rp6,62 triliun turun hingga 86,13% dibandingkan realisasi akhir 2017 (year-on-year/yoy).

Direktur Eksekutif Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia (AAJI) Togar Pasaribu mengatak an realisasi peningkatan hasil investasi itu sudah terlihat sejak awal tahun ini. Dia pun meyakini kinerja positif itu masih berlanjut hingga akhir semester I/2019.

“Awal tahun kan memang kelihatan, karena tahun lalu kan turun cukup banyak. Dan biasanya setelah turun cukup banyak, persepsi investor itu harga sudah murah sehingga memang sudah waktunya memang mereka masuk,” jelasnya kepada Bisnis, Kamis (13/6/2019).

Menurutnya, arus investasi asing ke pasar modal kembali meningkat  setelah pada tahun lalu secara signifikan ke luar negeri. Di samping itu, jelas dia, kondisi politik di tengah kontestasi pemilihan umum di Indonesia dinilai tidak terlalu memengaruhi dinamikan investasi di pasar modal.

Dengan begitu, jelasnya, indeks harga saham gabungan masih bisa terjaga dan memunculkan optimisme investor, termasuk perusahaan asuransi jiwa.

“Ini sebenarnya cycle yang normal, kecuali kalau memang ada hal yang krusial, seperti krisis ekonomi. Bahkan kondisi politik tidak berpengaruh. Dengan kondisi internal dan global, arus investasi asing tetap masuk, artinya kepercayaan masih tinggi,” ujarnya.

Togar pun mengakui bahwa dua instrumen dominan di sektor asuransi jiwa, yakni reksa dana dan saham, masih menjadi penopang utama bagi peningkatan hasil investasi industri.

Data OJK juga menunjukkan pada akhir April 2019, alokasi investasi sektor asuransi jiwa ke reksa dana mencapai Rp171,58 triliun atau sekitar 36,53% dari total nilai investasi industri yang tercatat senilai Rp469,65 triliun. Nilai alokasi investasi asuransi jiwa ke instrumen itu pun naik 2,31% (yoy).

Porsi investasi asuransi jiwa ke saham bahkan meningkat 7,62% (yoy) menjadi Rp145,61 triliun atau 31,00% dari total investasi asuransi jiwa. Adapun total nilai investasi asuransi jiwa meningkat 2,21% (yoy).

Di samping dua instrumen itu, Togar mengatakan asuransi jiwa tetap mendiversifikasikan penempatan dana ke sejumlah instrumen lain dengan risiko lebih rendah dan imbal hasil yang cukup kompetitif, terutama surat berharga negara (SBN) dan obligasi korporasi.

Alokasi investasi sektor jasa keuangan ini, berdasarkan laporan OJK per April 2019, pun masing-masing tercatat sebesar 13,97% dan 5,18% dari total nilai investasi. Sekitar 6,89% dana investasi sektor jasa asuransi jiwa pun masih ditempatkan di deposito, sedangkan selebihnya tersebar di berbagai instrumen lain.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
asuransi jiwa

Editor : Anggi Oktarinda

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top