Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Rasio Pembiayaan Bermasalah Stabil, Industri Multifinance Dinilai Lebih Sehat

Industri pembiayaan dinilai lebih sehat, kendati sepanjang semester I/2019 total piutang pembiayaan hanya bertumbuh 4,29%.
Oktaviano DB Hana
Oktaviano DB Hana - Bisnis.com 25 Juli 2019  |  18:25 WIB
Ketua Asosiasi Perusahaan Pembiayaan Indonesia (APPI) Suwandi Wiratno (kanan) memberikan paparan dalam konferensi pers Fidusia dan Penerapannya di Jakarta, Rabu (5/9/2018). - JIBI/Felix Jody Kinarwan
Ketua Asosiasi Perusahaan Pembiayaan Indonesia (APPI) Suwandi Wiratno (kanan) memberikan paparan dalam konferensi pers Fidusia dan Penerapannya di Jakarta, Rabu (5/9/2018). - JIBI/Felix Jody Kinarwan

Bisnis.com, JAKARTA – Industri pembiayaan dinilai lebih sehat, kendati sepanjang semester I/2019 total piutang pembiayaan hanya bertumbuh 4,29%.

Ketua Umum Asosiasi Perusahaan Pembiayaan Indonesia (APPI) Suwandi Wiratno mengatakan, hal ini tampak dari tingkat rasio pembiayaan bermasalah atau non performing finance (NPF) yang tetap terjaga dalam kondisi aman dan laba yang meningkat.

“Industri berarti lebih sehat, lebih terkontrol,” jelasnya kepada Bisnis, Kamis (25/7/2019).

Otoritas Jasa Keuangan memang mencatat per Juni 2019 NPF industri pembiayaan di kisaran 2,82% atau stabil. Suwandi menjelaskan, NPF bersih atau netto sektor jasa keuangan ini bahkan masih berada di bawah kisaran 1%, tepatnya sekitar 0,6%.

Di samping itu, dia mengklaim industri multifinance bahkan masih mampu membukukan pertumbuhan laba bersih hingga kisaran 15% pada akhir Juni 2019 dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

“Walau pun tidak tumbuh signifikan. Artinya kualitas membaik,” tegas Suwandi.

Dalam konferensi pers di sela-sela Rapat Dewan Komisioner OJK, Rabu (24/7/2019), Kepala Eksekutif Industri Keuangan Non-Bank (IKNB) OJK Riswinandi mengatakan bahwa pada akhir semester I/2019 piutang pembiayaan industri multifinance tumbuh sekitar 4,29%.

Dia mengakui realisasi itu meleset dari perkiraan awal, yakni di kisaran 7% - 8% untuk sepanjang tahun.

Kondisi itu, jelasnya, disebabkan oleh sejumlah hal, termasuk konsolidasi sejumlah multifinance. Di samping itu, jelasnya, OJK juga meninjau kemampuan usaha sejumlah multifinance dan pada akhirnya tidak beroperasi lagi.

Di sisi lain, jelas dia, dampak lesunya pasar kendaraan bermotor turut memengaruhi penyaluran pembiayaan dari multifinance.

Kendati begitu, Riswinandi mengakui bahwa ruang pertumbuhan bagi pelaku industri pembiayaan dinilai masih terbuka pada semester II/2019. Potensi itu, jelasnya, tampak dari gearing ratio industri yang masih rendah dan juga NPF yang terjaga.

“Mudah-mudahan Desember 2019 akan naik lagi. Saya kira akan lebih baik, karena NPF terjaga, gearing ratio juga masih rendah, sehingga masih punya kemampuan,” jelasnya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

appi npf
Editor : Emanuel B. Caesario
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top