Kejar Target Akhir Tahun, Ini Andalan Multifinance

Industri multifinance meyakini mampu untuk menggenjot kinerja pada semester II/2019, setelah pada paruh pertama piutang pembiayaan hanya bertumbuh 4,29%.
Oktaviano DB Hana
Oktaviano DB Hana - Bisnis.com 25 Juli 2019  |  18:39 WIB
Kejar Target Akhir Tahun, Ini Andalan Multifinance
Ketua Umum Asosiasi Perusahaan Pembiayaan Indonesia Suwandi Wiratno (kiri) berbincang dengan Chief Risk Officer Akseleran Elquino Simanjuntak di sela-sela diskusi Digital Economic Forum, di Jakarta, Kamis (28/3/2019). - Bisnis/Dedi Gunawan

Bisnis.com, JAKARTA – Industri multifinance meyakini mampu untuk menggenjot kinerja pada semester II/2019, setelah pada paruh pertama piutang pembiayaan hanya bertumbuh 4,29%.

Sejumlah sektor dan lini pembiayaan potensial pun diyakini bisa meningkatkan pemasaran multifinace guna memenuhi target sepanjang tahun.

Ketua Umum Asosiasi Perusahaan Pembiayaan Indonesia (APPI) Suwandi Wiratno mengatakan, ruang pertumbuhan itu masih terbuka lantaran gearing ratio industri masih tercatat rendah pada akhir Juni 2019. Gearing ratio merupakan rasio perbandingan antara jumlah pinjaman dengan modal sendiri perusahaan.

Regulasi yang berlaku menetapkan bahwa gearing ratio perusahaan pembiayaan dibatasi maksimal 10 kali. Dengan kata lain, misalnya, perusahaan bermodal Rp100 miliar dapat memeroleh pinjaman atau utang sebagai sumber pendanaan untuk disalurkan lagi maksimal sebesar 10 kali dari modal, yaitu Rp1 triliun.

“Ada ruang untuk tumbuh. Saya masih yakin,” jelasnya, kepada Bisnis, Kamis (25/7/2019).

Suwandi juga mengatakan, industri pembiayaan mau tidak mau masih cukup dominan dipengaruhi oleh pasar otomotif. Menurutnya, pelaku usaha di sektor itu pun meyakini mampu meningkatkan kinerja setelah pemasarannya menurun pada semester I/2019.

Dengan optimisme itu, dia mengakui pihaknya juga berharap mampu memacu pembiayaan kendaraan bermotor, khusunya mobil.

“Kami tanya pemain [pelaku usaha] mobil, dan mereka optimistis [target] bisa dikejar. Mana mungkin kami turunkan target?”

Suwandi mengatakan, pemasaran dana tunai atau fasilitas dana bisa dipacu pada paruh kedua tahun ini.

Seperti diketahui, pembiayaan tunai atau fasilitas dana ini merupakan opsi atau jenis pembiayaan baru di lini multiguna yang termuat dalam Peraturan Otoritas Jasa Keuangan No.35/POJK.05/2018 tentang Penyelenggaraan Usaha Perusahaan Pembiayaan.

Di samping itu, dia meyakini tiga sektor, yakni batu bara, industri pengolahan dan rumah tangga, masih bisa diandalkan untuk memacu pembiayaan. Tiga sektor tersebut, dalam paparan Otoritas Jasa Keuangan di sela-sela Rapat Dewan Komisioner, menjadi pendorong utama bagi pertumbuhan piutang pembiayaan industri yang tercatat sebesar 4,29% pada akhir Juni 2019.

Suwandi, yang juga menjabat sebagai Direktur Utama PT Chandra Sakti Utama Leasing (CSUL), mengakui bahwa pembiayaan alat berat ke sektor batu bara mengalami pertumbuhan. CSUL, jelasnya, dengan portofolio hingga 35% di sektor tersebut juga masih mencatatkan pertumbuhan pembiayaan.

Portofolio pembiayaan CSUL pada sektor itu meningkat dari sebelumnya hanya sekitar 28%. Selebihnya, dia mengatakan pihaknya menyalurkan pembiayaan produktif ke sektor perkebunan, infrastruktur, konstruksi, dan kehutanan.

“Kami memang masih batu bara yang terbesar [porsinya di dalam protofolio].”

Sementara itu, Direktur Keuangan PT BFI Finance Indoneisa Tbk. Sudjono mengatakan, pihaknya bakal mendorong lini pembiayaan dan sektor potensial guna memacu penyaluran pembiayaan. Menurutnya, pembiayaan mobil bekas atau used car masih punya peluang untuk ditingkatkan pada paruh kedua tahun ini.

“Saya yakin bisa lebih baik pada semester II/2019,” ujarnya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
appi

Editor : Emanuel B. Caesario
KOMENTAR


Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top