Kerek Kinerja, Bank Dinar Pangkas Suku Bunga Deposito

Pemangkasan suku bunga deposito dilakukan menyusul kebijakan Bank Indonesia (BI) yang menurunkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin (bps).
Muhammad Khadafi
Muhammad Khadafi - Bisnis.com 08 Agustus 2019  |  15:28 WIB
Kerek Kinerja, Bank Dinar Pangkas Suku Bunga Deposito
Direktur Utama PT Bank Dinar Indonesia Tbk Hendra Lie (dari kanan) berbincang dengan Komisaris Utama Syaiful Amir, Kuasa Pemegang Saham APRO Financial Kim Dong Hoon dan Komisaris Independen Efen Lingga Utama, usai paparan publik di Jakarta, Kamis (23/5/2019). - Bisnis/Abdullah Azzam

Bisnis.com, JAKARTA -- PT Bank Dinar Indonesia Tbk. memangkas suku bunga deposito sebanyak 25 basis poin (bps) per awal Juli 2019. Hal ini merupakan penyesuaian terhadap kebijakan Bank Indonesia (BI) yang juga telah menurunkan suku bunga acuan sebanyak 25 bps.

Wakil Direktur Utama Bank Dinar Hendra Lie mengatakan kebijakan itu akan membantu menurunkan biaya dana (Cost of Fund/COF) dan dengan demikian akan membantu kembali meningkatkan margin bunga bersih (Net Interest Margin/NIM). Berdasarkan laporan publikasi per Juni 2019, NIM Bank Dinar sebesar 3,6 persen atau turun dari sebelumnya 4,26 persen.

“Kalau COF turun, lending rate juga bisa kami pasang lebih kompetitif di pasar,” terangnya kepada Bisnis, Kamis (8/8/2019).

Hendra berharap BI bakal kembali memangkas suku bunga, setidaknya satu kali sebelum tahun ini berakhir. Penurunan biaya dana akan membantu memastikan kinerja bank berjalan dengan baik pascapenggabungan dengan PT Bank Oke Indonesia.

Mengutip laporan kuartal II/2019, pendapatan bunga bersih Bank Dinar tertekan akibat tergerusnya margin bunga bersih. Hal itu pun membuat laba bersih setelah pajak bank anjlok 82,2 persen secara year-on-year (yoy) menjadi Rp917 juta.

Dia melanjutkan pascamerger dan penurunan suku bunga simpanan, rentabilitas perusahaan akan membaik. Pasalnya, bank hasil penggabungan juga akan ekspansif menyalurkan kredit.

Per Juni 2019, Bank Dinar memiliki portofolio kredit sebesar Rp1,3 triliun, sedangkan Bank Oke 1,7 triliun. Dengan demikian, perseroan mengincar kredit baru sebesar Rp1 triliun.

Perseroan akan mulai menggarap penyaluran kredit modal kerja kepada pedagang-pedagang dalam jaringan atau online serta menjalin kerja sama dengan perusahaan finansial berbasis teknologi untuk menyalurkan kredit konsumsi.

Upaya tersebut akan diiringi dengan penurunan beban operasional. Bank menargerkan rasio Beban Operasional terhadap Pendapatan Operasional (BOPO) menyentuh 60 persen dalam 5-10 tahun ke depan. Pascamerger, posisi BOPO berada di level 80 persen.

Hendra menjelaskan beban operasional akan dapat ditekan karena pihaknya bakal segera mengganti core banking menjadi digital, khususnya terkait pembiayaan. Sebelumnya Bank Dinar mengalami batasan pengembangan teknologi karena berstatus Bank Umum Kelompok Usaha (BUKU) I atau bank bermodal inti kurang dari Rp1 triliun.

Seperti diketahui, aksi korporasi tersebut melambungkan modal inti bank. Modal dasar Bank Dinar diperkirakan meningkat hingga Rp2 triliun pada tahun ini.

Perinciannya, modal inti Bank Dinar Rp460 miliar, Bank Oke Rp1 triliun, dan penerbitan saham baru senilai Rp500 miliar pada akhir kuartal ketiga atau awal kuartal keempat 2019.

Adapun per 8 Juli 2019, APRO Finansial Co. Ltd. menggenggam 91,33 persen saham Bank Dinar yang telah melebur dengan Bank Oke. Pemilik saham sebelumnya di Bank Dinar dan Bank Oke memiliki komposisi saham kurang dari 1 persen dan publik menguasai 5,48 persen saham.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
bank dinar, Suku Bunga

Editor : Annisa Margrit

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top