Modal Ventura: Equity Participation Masih Mini

Berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan, total pembiayaan dan/atau penyertaan saham perusahaan modal ventura (PMV) mencapai Rp10,14 triliun. Lini usaha pembiayaan bagi hasil mencapai Rp8,24 triliun atau 81,26 persen.
Nindya Aldila
Nindya Aldila - Bisnis.com 09 Agustus 2019  |  04:49 WIB
Modal Ventura: Equity Participation Masih Mini
Ilustrasi - investama.co.id

Bisnis.com, JAKARTA – Porsi penyertaan ekuitas industri modal ventura masih mini ketimbang lini usaha pembiayaan.

Berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan, total pembiayaan dan/atau penyertaan saham perusahaan modal ventura (PMV) mencapai Rp10,14 triliun. Lini usaha pembiayaan bagi hasil mencapai Rp8,24 triliun atau 81,26 persen. Sementara itu, porsi penyertaan saham masih mini yakni senilai Rp1,40 triliun atau sebesar 13,86 persen dan sisanya obligasi konversi senilai Rp496 miliar.

Ketua Asosiasi Modal Ventura untuk Startup Indonesia (Amvesindo) Jefri R. Sirait menjelaskan  bahwa penyertaan saham adalah salah satu kegiatan usaha PMV yang unik, tetapi berisiko besar. Sementara, financing bagi sektor usaha risikonya lebih terawasi dengan adanya jaminan.

Equity menjadi modal untuk melakukan investasi pada startup. Kalau perusahaan masih baru tentu belum menghasilkan apapun, berarti butuh modal untuk tetap tumbuh. Profit juga belum bisa dalam waktu cepat. Lain halnya dengan perusahaan yang sudah cukup bagus,” katanya kepada Bisnis, Kamis (8/8/2019).

Berdasarkan POJK No.35/2019 tentang Penyelenggaraan Usaha Perusahaan Modal Ventura, PMV atau PMV syariah harus memenuhi minimal 15 persen dalam memperdagangkan sahamnya di bursa efek.

Dia mengakui, dari total industri, porsi equity participation sedang turun. Namun, hal itu masih positif mengingat total aset tumbuh signifikan hingga 27,77 persen (year on year/yoy) menjadi Rp14,52 triliun per Juni 2019. 

“Jadi kami masih dalam proses transformasi. Sementara kami masih ada persoalan untuk memenuhi ekuitas senilai Rp50 miliar [wajib pada 2020] belum bisa. Jadi butuh waktu,” katanya.

Saat ini, jumlah PMV yang terdaftar di OJK mencapai 61 perusahaan. Namun, anggota Amvesindo telah mencapai sekitar 75 perusahaan. Artinya, potensi pembiayaan/penyertaan ekuitas dari PMV jauh lebih besar dibandingkan data yang disajikan OJK.

Di samping itu, non performing financing (NPF) industri juga menunjukkan tren yang menurun, yakni tercatat sebesar 4,02 persen per Juni 2019, jauh lebih rendah ketimbang Juni 2018 yang mencapai 5,02 persen. Hal ini menunjukkan bahwa industri PMV terus mengalami pertumbuhan dan perbaikan. Dengan demikian, Jefri juga meyakini pertumbuhan industri PMV bakal mencapai dua digit hingga akhir tahun ini.  

Bendahara Amvesindo Edward Ismawan Chamdani mengatakan saat ini PMV terus mengembangkan mekanisme pembiayaan untuk menyasar pelaku usaha yang baru memulai bisnisnya, salah satunya dengan menggagas venture debt.

Jenis pembiayaan ini mengkombinasikan loan financing dan penyertaan saham bagi perusahaan rintisan yang mendapat pendanaan dari PMV. Salah satu keuntungannya adalah pemilik usaha tidak perlu takut kehilangan saham yang lebih banyak ketika membutuhkan tambahan modal. 

Dengan kombinasi dengan teknologi kehadiran venture debt dapat menjadi solusi bagi inefisiensi yang terjadi dalam industri agrikultur, logistik, kelautan, energi. Venture debt dapat digabungkan dengan layanan fintech lending untuk memberikan pembiayaan lebih cepat.

“Model ini akan sangat menarik karena skala funding yang dibutuhkan sangat besar. Dengan venture debt, investor dapat mendapatkan bagi hasil dari dana yang dimasuki dan dikombinasikan dengan mendapat ekuitas dari pelaku usaha yang menjalankan bisnis tersebut,” ujarnya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
modal ventura, fintech

Editor : M. Taufikul Basari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top