BNI Jaga Suku Bunga KPR

PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk. menahan imbal hasil sesuai dengan kondisi pasar. Hal itu termasuk dalam menetapkan suku bunga dari kredit pemilikan rumah (KPR).
Muhammad Khadafi
Muhammad Khadafi - Bisnis.com 29 Agustus 2019  |  19:59 WIB
BNI Jaga Suku Bunga KPR
Direktur BNI Tambok P Setyawati (tengah) bersama Direktur Catur Budi Harto (kiri) dan Direktur Dadang Setiabudi (kanan) menunjukkan aplikasi BNI Experience yang memberikan informasi promo-promo Ramadan BNI, di Jakarta, Rabu (15/5/2019). - Bisnis/Abdullah Azzam

Bisnis.com, JAKARTA - PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk. menahan imbal hasil sesuai dengan kondisi pasar. Hal itu termasuk dalam menetapkan suku bunga dari kredit pemilikan rumah (KPR).

Pasalnya bank memanfaatkan suku bunga yang kompetitif sebagai bagian dari upaya menarik debitur baru. Seperti diketahui permintaan KPR secara industri masih terbilang menantang, khususnya untuk pembiayaan di atas Rp1 miliar.

“BNI masih memberlakukan suku bunga berjalan yang sama,” kata Direktur Bisnis Konsumer BNI Tambok P. Setyawati di Jakarta, Kamis (29/8/2019).

Seperti diketahui, Bank Indonesia menaikan suku bunga acuan sebanyak 175 basis poin (bps) sepanjang 2018. Kemudian bank sentral telah memangkas 50 bps pada paruh kedua tahun ini.

Dalam tempo itu, beban bunga bank pun meningkat dan menggerus margin bunga bersih (net interest margin/NIM) industri perbankan. BNI sendiri mencatat penurunan NIM dari 5,4 persen per Juni 2018, menjadi 4,9 persen per Juni 2019.

Imbal hasil dari kredit konsumsi pun cenderung turun sejak paruh pertama tahun lalu. Data perseroan mencatat imbal hasil kredit konsumsi sebesar 11,5 persen per Juni 2018, dan menjadi 11,0 persen pada Juni tahun ini.

Selain menjaga tingkat suku bunga KPR, BNI juga menstimulus permintaan baru melalui kanal digital. Per Februari 2019, perseroan meluncurkan pengajuan dalam jaringan.

“Cukup mengakses handphone [ponsel pintar], mereka dapat mengakses BNI e-Form," ujarnya.

BNI mengklaim animo masyarakat terbilang baik. Sepanjang 5 bulan pertama sejak diluncurkan bank mencatat pengajuan dari 2.500 debitur dengan rata-rata bernilai Rp300 juta hingga Rp500 juta.

Dalam jangka panjang digitalisasi tersebut akan mengikis overhead cost. Bank tidak perlu menggunakan kertas dan juga biaya operasional lain dalam mencari debitur baru.

Sementara itu, per Juni 2019, KPR naik 8,9 persen secara tahunan (year-on-year/yoy) menjadi Rp42,25 triliun. Realisasi tersebut menguat tipis dibandingkan dengan Juni 2018, 8,2 persen yoy. Komposisi KPR pun meningkat tipis dari sebelumnya 51,4 persen menjadi 51,7 persen.  

Hal tersebut dicapai di tengah perlambatan kredit konsumsi perseroan. Per Juni 2018, kredit konsumsi naik 12,6 persen yoy dan menjadi 8,3 persen yoy tahun ini.

Selain menjadi tulang punggung kredit konsumsi, kualitas debitur KPR pun membaik. Rasio kredit bermasalah (non performing loan/NPL) turun dari 3,4 persen menjadi 2,7 persen.

Hal itu merupakan dampak dari komposisi debitur KPR. Saat ini sebanyak 70 persen peminjam KPR merupakan pekerja dengan penghasilan tetap.

BNI akan melanjutkan strategi tersebut hingga penghujung tahun ini. Selain itu bank juga akan menyasar generasi milenial.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
bni, kpr

Editor : Akhirul Anwar

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top