Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Bank BJB: Penurunan Saham BJBR Tidak Terkait dengan Merger Bank Banten

Koreksi harga saham PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Barat Tbk. (BJBR) masih terus berlanjut pada awal pekan ini.
Leo Dwi Jatmiko
Leo Dwi Jatmiko - Bisnis.com 27 April 2020  |  20:19 WIB
Pengunjung menggunakan smarphone didekat papan elektronik yang menampilkan perdagangan harga saham di Jakarta, Rabu (22/4/2020). Bisnis - Dedi Gunawan
Pengunjung menggunakan smarphone didekat papan elektronik yang menampilkan perdagangan harga saham di Jakarta, Rabu (22/4/2020). Bisnis - Dedi Gunawan

Bisnis.com, BANDUNG – Koreksi harga saham PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Barat Tbk. (BJBR) masih terus berlanjut pada awal pekan ini.

Pada penutupan perdagangan Senin (27/4/2020), harga saham BJBR tercatat sebesar Rp855, turun Rp60 atau 6,56 persen dari posisi akhir perdagangan Jumat (24/4/2020).

Adapun, sepanjang tahun berjalan, saham BJBR sudah terkoreksi sebesar 27,2 persen (year-to-date/ytd) dari posisi awal Januari yang masih bertengger di level Rp1.175.

Jika diamati lebih rinci, pergerakan saham BJBR sudah menunjukkan penurunan dan sempat berada di titik terendah Rp665 pada 19 Maret 2020. Namun, setelah periode itu, kurvanya mulai berbalik arah dan mulai naik hingga puncaknya pada level Rp945 pada 23 April 2020. Sayangnya, setelah tanggal tersebut, saham BJBR kembali memerah.

Pengumuman dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) terkait penggabungan Bank Banten ke Bank BJB pada 23 April malam direspons pasar dengan penurunan harga saham sebesar 3,17% keesokan harinya.

Ketika dikonfirmasi, Divisi Corporate Secretary Bank BJB Widi Hartoto mengatakan bahwa penurunan harga saham tersebut disebabkan oleh banyak faktor. Menurutnya, kondisi ini tidak dapat serta merta dikaitkan dengan keputusan merger yang diambil oleh Bank BJB dan Bank Banten.

Wibi mengatakan bahwa naik turunnya harga saham merupakan bagian dari mekanisme pasar, di luar kendali bank BJB.

“Terdapat banyak faktor yang mempengaruhi harga saham bank BJB, mulai dari kondisi makro, pasar modal sampai dengan persepsi pasar,” kata Widi kepada Bisnis, Senin (27/4/2020).

Dia menegaskan bahwa Bank BJB tetap fokus menjalankan bisnis sebagai perbankan dan memberikan keuntungan bagi pemegang saham melalui kinerja yang baik.

Lebih lanjut, dia juga meminta kepada masyarakat untuk tidak panik dan khawatir terkait rencana merger antara bank BJB dengan PT Bank Pembangunan Daerah Banten Tbk. (BEKS). 

Wibi menuturkan, saat ini Bank BJB bersama Bank Banten terus melakukan sinergi termasuk dalam hal kredit dan potensi gagal bayar untuk dana Pemda Banten sebesar Rp900 miliar. 

“Saat ini kami Bank BJB sebagai sesama BPD tentu bersinergi, baik dalam hal likuiditas maupun pengalihan kredit yang secara bertahap akan dilakukan,” tuturnya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

perbankan bank bjb merger
Editor : Ropesta Sitorus
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top