Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Merger Bank Syariah BUMN, Ekonom: Wajar Tapi Perlu Hati-Hati

Peneliti senior INDEF Enny Sri Hartati menganggap bahwa konsolidasi perbankan BUMN harusnya sudah dilakukan sejak dahulu di Indonesia. Namun, hingga saat tidak pernah direalisasikan oleh pemerintah.
Ni Putu Eka Wiratmini
Ni Putu Eka Wiratmini - Bisnis.com 03 Juli 2020  |  18:45 WIB
Logo bank/bank BUMN.
Logo bank/bank BUMN.

Bisnis.com, JAKARTA - Rencana Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Erick Thohir yang kembali mengajukan wacana merger dianggap pengamat ekonomi sebagai sesuatu yang wajar. Namun, harus dilakukan dengan penuh kehati-hatian.

Peneliti senior INDEF Enny Sri Hartati menganggap bahwa konsolidasi perbankan BUMN harusnya sudah dilakukan sejak dahulu di Indonesia. Namun, hingga saat tidak pernah direalisasikan oleh pemerintah.

Enny menganggap tidak ada yang salah dengan wacana merger yang diajukan oleh Erick Thohir, tetapi dengan kondisi Indonesia saat ini maka mengharuskan proses konsolidasi berjalan tepat dan hati-hati.

“Konsolidasi bank-bank itu kan sudah dari dulu mestinya dilakukan, tapi tidak dilakukan. Jadi satu poin itu adalah wacana yang bagus. Tapi konsolidasi ini juga perlu kecepatan dan ketepatan program karena saat ini sedang ada Pandemi Covid-19," katanya seperti dikutip dalam rilis, Jumat (3/7/2020).

Enny menilai pemerintah memang perlu mengkaji lebih jauh detail terkait rencana merger tersebut karena akan mengubah kelembagaan. Merger perlu dilakukan dengan persiapan matang dan terencana. Jika konsolidasi berhasil dijalankan dengan baik dan benar, maka bank-bank BUMN juga bisa dikonsolidasi seluruhnya, tidak hanya yang syariah.

“Perubahan kelembagaan harus terencana dengan baik dan sebagainya karena menyangkut berbagai aspek, tidak hanya sekadar digabungkan. Jika proses konsolidasi dilakukan dengan benar, jangankan yang syariah, seluruh bank BUMN konvensional juga perlu berkonsolidasi, kalau tidak kita sulit untuk bertarung dengan global,” sambungnya.

Adapun bank-bank syariah yang rencananya akan dimerger adalah PT Bank BRI Syariah Tbk., PT Bank Syariah Mandiri, dan PT Bank BNI Syariah.

BSM memiliki fokus di segmen kredit korporasi, sedangkan BRI Syariah memiliki fokus pada penyaluran kredit di segmen UMKM. Kemudian BNI Syariah fokus ke consumer banking, menyasar milenial, dan international funding karena BNI memiliki sejumlah cabang di luar negeri.

Sepanjang kuartal I/2020, kinerja tiga bank tersebut tercatat kokoh dalam menghadapi kondisi krisis pandemi Covid-19. BRI Syariah mengalami peningkatan pembiayaan di segmen ritel yang tumbuh 49,74% menjadi Rp20,5 triliun.

Sementara itu, BNI Syariah yang baru saja menjadi bank umum kegiatan usaha (BUKU) III pada kuartal I/2020 berhasil mencatatkan kenaikan laba bersih 58,1% dibandingkan periode yang sama tahun lalu menjadi Rp 214 miliar.

Adapun, Bank Mandiri Syariah membukukan laba bersih sebesar Rp368 miliar pada kuartal I-2020 dimana angka tersebut naik 51,53% dibanding periode yang sama tahun lalu (YoY).

Saat ini Kementerian BUMN masih tengah mengkaji lebih lanjut rencana merger tersebut. Sebelumnya, Presiden Joko Widodo (Jokowi) telah meneken Keputusan Presiden (Keppres) terkait penggabungan dan penutupan perusahaan BUMN pada 19 Mei 2020.

Nantinya, perusahaan-perusahaan plat merah tersebut akan mengalami konsolidasi, merger, rasionalisasi hingga penutupan agar kinerja BUMN secara menyeluruh bisa lebih efektif.

Rencana penggabungan dan konsolidasi perusahaan ini adalah langkah Menteri BUMN Erick Thohir untuk merestrukturisasi BUMN yang sudah dilakukan sejak awal dirinya menjabat.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

BUMN perbankan bri syariah bni syariah
Editor : Ropesta Sitorus
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top