Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

'Ngegas', BRI Syariah Kejar Laba Hingga Rp200 Miliar Sampai Akhir 2020

Direktur Operasional BRI Syariah Fahmi Subandi mengatakan laba pada semester I/2020 sudah tumbuh lebih dari 200 persen secara year on year. Sampai dengan akhir tahun ini, kinerja laba perseroan diperkirakan akan tumbuh di kisaran 150 persen - 170 persen.
Azizah Nur Alfi
Azizah Nur Alfi - Bisnis.com 24 Agustus 2020  |  13:36 WIB
Karyawan menunjukan uang rupiah di salah satu kantor cabang BRI Syariah di Jakarta, Rabu (29/7/2020). Bisnis - Abdurachman
Karyawan menunjukan uang rupiah di salah satu kantor cabang BRI Syariah di Jakarta, Rabu (29/7/2020). Bisnis - Abdurachman

Bisnis.com, JAKARTA - PT Bank BRI Syariah Tbk. optimis perolehan laba bersih dapat mencapai sekitar Rp185 miliar - Rp199 miliar sampai dengan akhir 2020. Pada paruh pertama tahun ini, anak usaha PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. itu membukukan laba bersih sebesar Rp117,2 miliar.

Direktur Operasional BRI Syariah Fahmi Subandi mengatakan laba pada semester I/2020 sudah tumbuh lebih dari 200 persen secara year on year. Sampai dengan akhir tahun ini, kinerja laba perseroan diperkirakan akan tumbuh di kisaran 150 persen - 170 persen secara tahunan.

Jika mengacu pada realisasi laba bersih 2019 yang berjumlah sebesar Rp74,02 miliar dan target pertumbuhan perseroan, maka laba bersih sampai dengan akhir tahun diperkirakan dapat mencapai Rp185,05 miliar - Rp199,85 miliar.

"Laba sudah tumbuh di atas 200% di semester I. Kalau dilihat persentasenya, (target pertumbuhan laba) tidak akan setinggi sekarang, tetapi jika dibandingkan dengan tahun lalu, pertumbuhan 150%-170% akan bisa dicapai," katanya dalam paparan kinerja secara virtual, Senin (24/8/2020).

Dari fungsi intermediasi, pembiayaan perseroan dapat tumbuh 30%. Selain mendapatkan berkah dari implementasi Qanun Lembaga Keuangan Syariah di Aceh, BRI Syariah tetap menggarap pasar di luar Aceh agar tetap tumbuh. Selain itu, porsi dana murah terhadap total dana pihak ketiga (CASA Ratio) yang mencapai 54,34 persen per 30 Juni 2020, akan dipertahankan hingga akhir tahun.

Begitu pula, rasio pembiayaan bermasalah (nonperforming financing/NPF) gross sebesar 3,99 persen pada semester I/2020, akan dijaga agak tidak bertambah lagi pada paruh kedua tahun ini. Emiten berkode saham BRIS ini akan berupaya menjaga rasio NPF di kisaran 3,5%-4%.

Direktur Bisnis Rite BRI Syariah Fidri Arnaldy menyampaikan kinerja pembiayaan semakin membaik, terutama di segmen ritel, didorong oleh pemanfaatan digitalisasi proses pembiayaan melalui aplikasi i-Kurma.

Di segmen ritel, pembiayaan pada posisi Juni 2018 hanya mencapai Rp1,08 triliun, posisi Juni 2019 sebesar Rp626 miliar. Sementara itu, pada posisi Juni 2020, pembiayaan di segmen ini dapat tembus di angka Rp10,1 triliun di tengah pandemi Covid-19. 

Lebih lanjut, jumlah debitur meningkat dari posisi Desember 2018 sebesar 140.637 debitur menjadi 323.000 ribu debitur pada posisi Juni 2020. "Padahal kondisinya di tengah pandemi. Ini karena dampak dari produk i-Kurma yang mempercepat proses pembiayaan dan memitigasi risiko sehingga NPF terjaga," imbuhnya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

perbankan perbankan syariah bri syariah
Editor : Ropesta Sitorus
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top