Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Penyaluran Kredit Bank Swasta Kurang Bergairah Ketimbang Bank BUMN. Kenapa?

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menyatakan pertumbuhan kredit yang mulai membaik pada Juli 2020 dengan pertumbuhan sebesar 1,53 persen YoY masih ditopang oleh bank milik pemerintah.
Ni Putu Eka Wiratmini
Ni Putu Eka Wiratmini - Bisnis.com 27 Agustus 2020  |  20:08 WIB
Karyawan merapikan uang di cash center Bank BNI, Jakarta, Selasa (11/2/2020). Bisnis - Himawan L Nugraha
Karyawan merapikan uang di cash center Bank BNI, Jakarta, Selasa (11/2/2020). Bisnis - Himawan L Nugraha

Bisnis.com, JAKARTA -- Penyaluran kredit perbankan swasta masih lebih rendah dibandingkan dengan bank milik negara.

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menyatakan pertumbuhan kredit yang mulai membaik pada Juli 2020 dengan pertumbuhan sebesar 1,53 persen YoY masih ditopang oleh bank milik pemerintah. Bank swasta dan asing masih ragu dalam menyalurkan kredit di tengah pandemi Covid-19.

Adapun pertumbuhan kredit perbankan pada Juni 2020 mencapai 1,49 persen yang dinilai menjadi yang terendah sejak 1998. Padahal, pada Mei 2020, pertumbuhan kredit masih berada pada angka 3,04 persen YoY.

Direktur Riset Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia Piter Abdullah mengatakan bank-bank swasta memang lebih berhati-hati dalam menyalurkan kredit.

Apalagi kebanyakan bank swasta berada pada bank umum kelompok usaha (BUKU) 1 dan BUKU 2 yang tidak memiliki kelonggaran likuiditas seperti bank milik negara. Di sisi lain bank milik negara juga mendapatkan bantuan likuiditas.

Menurutnya, di tengah kondisi peningkatan risiko kredit, bank sebaiknya tidak didorong menyalurkan pembiayaan. Sebaliknya, bank harus tetap berhati-hati dalam menyalurkan kredit untuk menghindari permasalahan di sektor riil merambat ke perbankan.

"Seharusnya tidak perlu khawatir dengan pertumbuhan kredit yang melambat, yang penting indikator utama perbankan tetap terjaga baik," katanya kepada Bisnis, Kamis (27/8/2020).

Ketua Dewan Komisioner OJK Wimboh Santoso mengatakan pertumbuhan kredit pada Juli 2020 yang mulai membaik memang ditopang oleh bank milik pemerintah dan bank pembangunan daerah.

Per Juli 2020, pertumbuhan kredit Himpunan Bank Milik Negara (Himbara) adalah sebesar 3,36 persen YoY, Bank Pembangunan Daerah (BPD) sebesar 8,23 persen YoY, bank umum swasta 0,91 persen YoY, dan bank milik asing yang terkontraksi.

Bank Himbara mendapatkan penempatan dana dari pemerintah senilai Rp30 triliun dengan realisasi 365 persen atau tersalurkan mencapai RP79,7 triliun kepada 950,1 ribu debitur. Penempatan dana ini dinilai memberikan kepercayaan diri pada pelaku industri keuangan dan masyarakat bahwa perbankan memiliki likuiditas yang kuat.

"Ini mengindikasikan bank swasta belum confidence pada perekonomian kita," katanya dalam paparan via streaming, Kamis (27/8/2020).

Sementara itu, apabila dilihat berdasarkan kategori bank umum kelompok usaha (BUKU), pertumbuhan kredit di BUKU 4 pada Juli 2020 sebesar 2,41 persen YoY. Pada periode sama, pertumbuhan kredit BUKU 2 mencapai 4,48 persen YoY, BUKU 1 sebesar 0,3 persen YoY, dan BUKU 3 terkontraksi 1,13 sebesar YoY.

Menurutnya, perolehan pertumbuhan kredit tersebut berkaitan dengan adanya merger bank. Sebanyak 4 bank pindah dari BUKU 1 ke BUKU 2 dan 2 bank pindah dari BUKU 3 ke BUKU 4.

"Perlu dicermati beberapa bank mengalami merger sehingga terjadi perpindahan BUKU," katanya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

perbankan kredit OJK
Editor : Annisa Sulistyo Rini
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top