Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Efek Perombakan Direksi ke BBNI dan BMRI Berkebalikan

Bank BNK (BBNI) dinilai akan mendapatkan sentimen positif dari berpindahnya sejumlah nama BMRI ke emiten tersebut dan nasib sebaliknya kemungkinan akan dialami oleh Bank Mandiri (BMRI).
Ni Putu Eka Wiratmini
Ni Putu Eka Wiratmini - Bisnis.com 02 September 2020  |  18:22 WIB
RUPSLB Bank BNI Rabu (2/9/2020) memutuskan melakukan perombakan besar-besaran dalam susunan direksi PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk.  - Istimewa
RUPSLB Bank BNI Rabu (2/9/2020) memutuskan melakukan perombakan besar-besaran dalam susunan direksi PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk. - Istimewa

Bisnis.com, JAKARTA - Perpindahan bankir senior dari PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. ke PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk. dinilai akan memberikan dampak yang bertolak belakang terhadap pergerakan saham kedua emiten tersebut. 

Bank BNK (BBNI) dinilai akan mendapatkan sentimen positif dari berpindahnya sejumlah nama BMRI ke emiten tersebut dan nasib sebaliknya kemungkinan akan dialami oleh Bank Mandiri (BMRI).

Head of Equity Trading MNC Sekuritas Medan Frankie Wijoyo Prasetio mengatakan Royke Tumilaar yang ditunjuk sebagai Direktur Utama BNI memiliki rekam jejak yang mumpuni. Royke dinilai sukses memperbaiki kualitas aset BMRI yang dulunya memiliki rasio kredit bermasalah atau non performing loan (NPL) 3,96% (gross) menjadi 2,39% pada 2019.

Apabila ada sentimen negatif dari pasar, lanjutnya, kemungkinan akan ditujukan ke BMRI. Pasalnya, BMRI memiliki aset dan kapitalisasi pasar yang lebih besar dibandingkan dengan BBNI yakni Rp283 triliun berbanding Rp97 triliun.

"Jadi dalam hal ini BBNI mendapatkan sentimen yang positif dengan kedatangan jajaran direksi yang diimpor dari Bank Mandiri ini, yakni sebanyak 5 dari 8 Direksi yang baru didatangkan dari Bank Mandiri," katanya kepada Bisnis, Rabu (2/9/2020).

Selain dari kapitalisasi pasar yang lebih rendah, laba BBNI pada semester I/2020 juga tidak setinggi BMRI. Hingga paruh pertama 2020, BBNI membukukan laba bersih senilai Rp4,46 triliun atau turun 41,54% dibandingkan periode sama tahun lalu (year on year/yoy) yang senilai Rp7,63 triliun.

Sebaliknya, BMRI mampu membukukan laba bersih senilai Rp10,29 triliun pada semester I/2020 atau turun 23,94% (yoy).

"Jadi memang boleh dikatakan BBNI memiliki ruang untuk perbaikan yang cukup besar, dan hal inilah yang diharapkan akan dilakukan oleh jajaran direksi yang baru," katanya.

Frankie pun menilai keputusan Kementerian BUMN sebagai pemegang saham dalam merombak pengurus BBNI memiliki rencana yang baik. Apalagi jika melihat perbandingan kinerja saham year to date (ytd) dari BBNI yang mengalami penurunan sebesar 33% dan BMRI yang turun sebesar 20%.

Penurunan tersebut menunjukkan confidence level atau tingkat kepercayaan dari investor terhadap performa dan manajemen perusahaan.

Meskipun sejumlah bankir senior dari BMRI berpindah ke BBNI, nama-nama lama yang masih menduduki posisi penting masih akan menjaga Bank Mandiri dari sentimen negatif.

"Saya yakin Menteri BUMN, Erick Thohir memiliki rencana yang matang untuk Bank Mandiri karena tidak mungkin perusahaan sebesar dan sepenting Bank Mandiri dibiarkan dalam kondisi leadership vacuum," katanya.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

saham bni perbankan bank mandiri bank bni emiten perbankan
Editor : Ropesta Sitorus

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top