Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Asbisindo: Literasi dan Digitalisasi Kunci Pengembangan Perbankan Syariah

Sampai dengan Juli 2020, aset perbankan syariah tumbuh 9,88% secara yoy, pembiayaan tumbuh 10,23% yoy, dan dana pihak ketiga tumbuh 8,78% yoy.
Azizah Nur Alfi
Azizah Nur Alfi - Bisnis.com 25 September 2020  |  17:06 WIB
Bank syariah - Ilustrasi/bisnisaceh.com
Bank syariah - Ilustrasi/bisnisaceh.com

Bisnis.com, JAKARTA - PT Bank Syariah Mandiri (Mandiri Syariah) berkomitmen meningkatkan literasi perbankan syariah untuk mendukung perkembangan ekonomi syariah di Indonesia. Selain itu, perseroan terus mengembangkan inovasi layanan dan produk digital.

Keuangan dan perbankan syariah terbukti dapat bertahan di tengah situasi pandemi Covid-19. Hal ini membuktikan bahwa perbankan syariah bisa menjadi penopang ekonomi nasional bersama dengan perbankan konvensional.

Toni EB Subari, Direktur Utama Mandiri Syariah sekaligus Ketua Umum Perkumpulan Bank Syariah Indonesia (Asbisindo), mengungkapkan bahwa perbankan syariah di Indonesia saat ini terus berkembang dan terus menunjukkan pertumbuhan.

Perkembangan ini tampak dari pertumbuhan sejumlah indikator, baik dari aset, pembiayaan, maupun DPK yang mampu lebih tinggi dari perbankan konvensional maupun perbankan nasional. Sampai dengan Juli 2020, aset perbankan syariah tumbuh 9,88% secara yoy, pembiayaan tumbuh 10,23% yoy, dan dana pihak ketiga tumbuh 8,78% yoy.

Namun market share perbankan syariah dari tahun ke tahun tidak naik signifikan. Secara aset, market share perbankan syariah 5,78% pada Desember 2017 menjadi 6,11% pada Juli 2020. Demikian pula dari sisi pembiayaan, market share perbankan syariah sebesar 6,07% pada Desember 2017 menjadi 6,71% pada Juli 2020.

Menurutnya, peningkatan literasi menjadi kunci dalam mendukung perkembangan perbankan syariah. Pasalnya, indeks literasi bank syariah masih sebesar 8,11% dan indeks inklusi sebesar 11,06%. Angka ini di bawah indeks literasi bank nasional sebesar 29,66%, sedangkan indeks inklusi 67,82%.

"Isu pertama perbankan syariah adalah literasi. Masih banyak yang bertanya apa beda bank syariah dan bank konvensional. Mayoritas memahaminya hanya masalah beda istilah," katanya dalam webinar, Jumat (25/9/2020).

Di samping itu, kata dia, digitalisasi menjadi semakin penting dan wajib bagi perbankan syariah untuk memenuhi kebutuhan nasabah. Kondisi pandemi Covid-19 menjadi momentum untuk berinovasi sekaligus mengoptimalkan teknologi digital.

Direktur IT, Operations & Digital Banking Mandiri Syariah Achmad Syafii menyampaikan Mandiri Syariah telah fokus mengembangkan digitalisasi sejak dua tahun lalu. Selanjutnya, perseroan terus melakukan pengembangan dan peningkatan infrastruktur digital agar dapat memenuhi kebutuhan nasabah terlebih di tengah situasi pandemi Covid-19.

Dalam transformasi digital Mandiri Syariah, digital banking memainkan peranan besar dalam akuisisi nasabah baru sebesar 40% dan transaksi mencapai 95% melalui digital. Sampai dengan 19 September 2020, terdapat 1,4 juta user Mandiri Syariah mobile. Sebanyak 1.500 rekening per hari dilakukan melalui aplikasi tersebut.

Sepanjang 2018-2020, transaksi e-channel telah tumbuh 67%. Per Juni 2020, transaksi mobile tumbuh 94% secara yoy, sedangkan transaksi cabang turun 36% yoy. "Saat ini 40% pembukaan rekening melalui online instant. Dan 140.000 ribu rekening yang kita bukukan secara online," imbuhnya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

bank syariah perbankan inklusi keuangan
Editor : Ropesta Sitorus
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top