Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Kinerja Saham Masih Loyo, Industri Asuransi Akan Ubah Portofolio Investasi?

Berdasarkan Statistik Asuransi Otoritas Jasa Keuangan (OJK), penempatan di saham mencakup 27,5 persen dari total investasi asuransi.
Wibi Pangestu Pratama
Wibi Pangestu Pratama - Bisnis.com 28 September 2020  |  12:16 WIB
Karyawan berkomunikasi didekat logo beberapa perusahaan asuransi di kantor Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia (AAJI) di Jakarta, Selasa (15/1/2020). Bisnis - Nurul Hidayat
Karyawan berkomunikasi didekat logo beberapa perusahaan asuransi di kantor Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia (AAJI) di Jakarta, Selasa (15/1/2020). Bisnis - Nurul Hidayat

Bisnis.com, JAKARTA — Kinerja pasar modal belum tumbuh optimal selama adanya pandemi virus corona, yang berakibat pada rendahnya perolehan investasi industri asuransi jiwa. Akankah industri memindahkan portofolio investasinya dalam kondisi berat?

Ketua Bidang Aktuaria dan Manajemen Risiko Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia (AAJI) Fauzi Arfan menjelaskan bahwa sebagian besar dana asuransi jiwa ditempatkan di instrumen saham. Berdasarkan Statistik Asuransi Otoritas Jasa Keuangan (OJK), penempatan di saham mencakup 27,5 persen dari total investasi asuransi.

Menurutnya, penempatan investasi di pasar modal itu beralasan karena asuransi jiwa merupakan produk jangka panjang sehingga penempatan dananya pun berorientasi lama. Oleh karena itu, lebih dari seperempat dana ditempatkan di instrumen saham, berada di posisi kedua setelah reksadana yang mencakup 33,8 persen dari total portofolio.

Fauzi menilai bahwa meskipun terdapat pergolakan kinerja pasar modal, industri asuransi jiwa cenderung tidak akan melakukan perubahan portofolio investasi. Selain itu, nasabah produk unit-linked pun cenderung tidak terusik oleh gejolak jangka pendek, sehingga penempatan investasinya di saham tidak berubah.

"Saham itu karakteristiknya selalu volatil, kalau dibuat grafik lebih lama 10 tahun ke depan return-nya positif. Gonjang-ganjing bukan pertama kali cukup dalam, kalau saya lihat market membeli unit-linked, mereka rata-rata tidak rush memindahkan [portofolio investasinya saat kinerja pasar modal menurun]," ujar Fauzi kepada Bisnis, Jumat (25/9/2020).

Dia menjelaskan bahwa sekitar 63 persen portofolio asuransi jiwa saat ini merupakan produk unit-linked. Baiknya literasi nasabah terhadap produk itu pun memengaruhi terjaganya penempatan investasi di pasar modal, baik melalui saham maupun reksadana.

Menurut Fauzi, dalam kondisi pasar modal yang lesu sejumlah nasabah justru 'menyerok' saham dengan melakukan penambahan investasi. Langkah tersebut dilakukan para nasabah karena investasinya yang berorientasi jangka panjang.

Adapun, Ketua Bidang Marketing dan Komunikasi (AAJI) Albertus Wiroyo Karsono menjelaskan bahwa komposisi saham terhadap total investasi asuransi jiwa memang mengalami perubahan, dari tahun lalu berkisar 32,7 persen dan pada semester I/2020 menjadi 26 persen. Namun, perubahan itu terjadi karena kinerja pasar modal yang anjlok, bukan pemindahan portofolio.

"Apakah ada switching atau perubahan? Total investasi saham agak berkurang karena nilainya, yang lain-lain stabil," ujar Wiroyo.

Pada perdagangan hari ini, Senin (28/9/2020), Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dibuka di level 4.923. Catatan tersebut menurun 21,6 persen (year-to-date/ytd) dibandingkan dengan posisi IHSG pada awal tahun yang berada di level 6.283.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

saham asuransi aaji
Editor : Ropesta Sitorus
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top