Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Digitalisasi Asuransi Jiwa, Perusahaan IT Gandengan Paling Diincar

Dalam pembentukan ekosistem Insurtech sekaligus digitalisasi suatu perusahaan asuransi jiwa, kerja sama dengan perusahaan teknologi yang telah matang merupakan keniscayaan.
Aziz Rahardyan
Aziz Rahardyan - Bisnis.com 28 Oktober 2020  |  00:59 WIB
Ilustrasi asuransi - Reuters
Ilustrasi asuransi - Reuters

Bisnis.com, JAKARTA – Penerapan transformasi digital bagi perusahaan asuransi jiwa bisa lebih cepat, mudah, dan murah, lewat kerja sama dengan para perusahaan teknologi yang telah matang.

Direktur Eksekutif Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia (AAJI) Togar Pasaribu mengungkap pandemi Covid-19 mempercepat kebutuhan akan transformasi digital di semua lini bisnis, tak terkecuali di ranah asuransi jiwa.

Dia menjelaskan bahwa pengembangan digitalisasi di dunia asuransi sebenarnya sudah terselenggara dalam 5 tahun terakhir dengan harapan mampu menjangkau konsumen yang lebih luas. Namun, hal itu baru sebatas aktivitas back office serta recruitment & training. Penjualan produk dan pengajuan klaim belum tersentuh.

"Pada 5 tahun lalu itu tren yang ada baru aggregator, yaitu yang membanding-bandingkan produk. Selain itu, beberapa agen sudah menggunakan apps, tapi masih sedikit," paparnya dalam diskusi virtual pada Selasa (27/10/2020).

Menurutnya, inilah gambaran bahwa industri asuransi memang terbilang terlambat dalam digitalisasi ketimbang industri layanan keuangan lain.

Togar memberikan contoh perbankan sudah memiliki fitur membuka rekening hanya lewat smartphone. Di dunia pasar modal, membeli reksa dana pun bisa secara online. Bahkan, instrumen paling berisiko seperti saham sudah bisa dilakukan melalui aplikasi perusahaan sekuritas.

"Ini yang belum masif di industri asuransi jiwa. Padahal di Korea Selatan, klaim sudah dilayani robot, di India itu menggunakan voice recognition. Di beberapa negara lain, AS misalnya, sudah menggunakan face recognition. Ini harus ada di Indonesia, karena prosesnya sangat cepat. Hanya sekitar 30 menit uang klaim sudah cair ke pemegang polis," lanjutnya.

Oleh sebab itu, menurut Togar, ada empat langkah yang bisa diterapkan para perusahaan industri asuransi jiwa dalam mempercepat transformasi bisnis secara digital.

Pertama, kolaborasi untuk mengembangkan jembatan baru menjangkau exisiting & prospective customer melalui dialog dengan regulator, legislatif, fraud prevention, industri pendukung, dan lainnya.

Kedua, mulai membangun ekosistem perusahaan asuransi dengan asosiasi dan regulator serta ekosistem lain yang berkaitan. Contohnya, health provider, insuretech, payment processing, dan customer interaction platform.

Ketiga, edukasi dan peningkatan literasi masyarakat terkait asuransi, serta keempat, adanya regulasi yang mendukung asuransi jiwa terkait dengan ruang inovasi produk, dengan tetap melindungi konsumen dan masyarakat, serta tetap aman bagi pemegang polis.

"Penggunaan digital harapannya menghilangkan misinformation, janji berlebihan, dan sebagainya, sehingga tidak ada lagi dispute, 'kata si agen begini, agennya bilang begitu'. Digital akan membuat informasi terang-benderang," jelasnya.

Ekosistem & Kerja Sama

Direktur Utama PT BNI Life Insurance (BNI Life) Shadiq Akasya mengamini bahwa dalam digitalisasi, ujung-ujungnya pasti memerlukan dukungan ekosistem, terutama terkait dengan data.

Shadiq memberi contoh asuransi kesehatan dan jiwa akan lekat kaitannya dengan industri farmasi, data BPJS, data bank, aktivitas kebugaran seperti gym atau fitness center, serta layanan kesehatan seperti perawat, dokter, dan riwayat kesehatan yang pernah dialami.

Bahkan, termasuk juga data Kementerian Kesehatan dan catatan sipil. Karena satu dengan lainnya akan terkait, sebab semua orang pasti pernah memiliki riwayat sakit atau keturunan penyakit, pernah periksa ke dokter, atau memiliki medical check up.

Oleh sebab itu, dalam pembentukan ekosistem sekaligus digitalisasi suatu perusahaan asuransi jiwa, kerja sama merupakan kunci. "Semua ini tidak murah dan mudah kalau dikembangkan sendiri, tapi bisa kita lakukan lewat strategic partnership. Yang penting buat perusahaan asuransi adalah covering, penawaran, proses klaim, dan bisnis proses yang lebih mudah."

Hal itulah, ujarnya, alasan kerja sama dengan fintech, e-commerce, insurtech merupakan keniscayaan, diiringi pengembangan website dan aplikasi BNI Life Mobile, serta selalu melakukan penyesuaian produk demi penyesuaian dengan berbagai ekosistem dan keadaan.

"Kerja sama lanjutan, kami bekerja sama dengan sistem pembayaran ada LinkAja dan BNI Mobile. Kemudian ada yang kami proses bersama perusahaan aggregator dan marketplace. Ada insurtech intermediaris seperti Futuready, WE+, dan PasarPolis, yang bisa menambah, memperluas distribusi penjualan kami," paparnya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

asuransi jiwa
Editor : M. Syahran W. Lubis
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top