Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Merger Bank Syariah BUMN, Jokowi: Bangunkan Raksasa Tidur

Industri keuangan syariah Tanah Air saat ini adalah raksasa yang sedang tertidur. Pemerintah pun memiliki perhatian besar untuk membangkitkan raksasa ini, salah satunya melalui merger bank syariah.
Annisa Sulistyo Rini
Annisa Sulistyo Rini - Bisnis.com 28 Oktober 2020  |  21:08 WIB
Presiden Joko Widodo menyampaikan sambutan dalam Puncak Acara Peringatan hari Sumpah Pemuda Ke/92 dan Peresmian TVRI Stasiun Papua Barat, Rabu 28 Oktober 2020 / Youtube Sekretariat Presiden
Presiden Joko Widodo menyampaikan sambutan dalam Puncak Acara Peringatan hari Sumpah Pemuda Ke/92 dan Peresmian TVRI Stasiun Papua Barat, Rabu 28 Oktober 2020 / Youtube Sekretariat Presiden

Bisnis.com, JAKARTA - Presiden Joko Widodo mengatakan merger 3 bank syariah BUMN sebagai upaya membangkitkan ekonomi syariah di Indonesia.

Menurutnya, industri keuangan syariah Tanah Air saat ini adalah raksasa yang sedang tertidur. Pemerintah pun memiliki perhatian besar untuk membangkitkan raksasa ini, salah satunya melalui merger bank syariah.

"Pemerintah memiliki concern besar untuk membangkitkan raksasa ini, salah satunya dengan membangun satu bank syariah terbesar di Indonesia," ujarnya dalam pembukaan Indonesia Sharia Economic Festival 2020 secara virtual, Rabu (28/10/2020).

Sederhananya, kata Jokowi, dalam merger tersebut semua aset bank syariah milik negara akan dilebur menjadi satu sehingga melahirkan bank syariah raksasa.

Ketiga bank tersebut memiliki aset Rp214 triliun per semester I/2020. Bank hasil merger berpotensi menjadi satu bank syariah terbesar di dunia.

Setelah resmi bergabung, secara legal yang ditargetkan pada Februari 2021 nanti, bank hasil merger ini akan memiliki total aset senilai Rp220 triliun hingga Rp225 triliun.

Aset bank gabungan diproyeksikan akan melesat hingga Rp390 triliun atau naik 73,3 persen pada 2025. Pertumbuhan aset ini seiring dengan pembiayaan yang akan mencapai Rp272 triliun dan penghimpunan dana senilai Rp335 triliun pada 2025.

Sementara itu, unit usaha syariah milik PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk. pada tahun ini tidak ikut dalam mega merger syariah BUMN. Perusahaan akan fokus untuk spin off menjadi bank umum syariah hingga paling lambat 2023.

Tak hanya itu, Presiden juga menegaskan ekonomi dan keuangan syariah di Indonesia memiliki potensi untuk dikembangkan melihat pangsa pasarnya yang luas.

Menurutnya, pasar ekonomi dan keuangan syariah tidak hanya negara mayoritas muslim, Jepang, Inggris dan lain sebagainya juga meminati sektor ini. Indonesia harus bisa menangkap peluang tersebut mengingat jumlah penduduk muslim yang terbesar di dunia.

"Ekonomi dan keuangan syariah masih memiliki potensi yang sangat besar untuk dikembangkan, tidak hanya diminati oleh negara dengan mayoritas penduduk muslim, tapi juga oleh negara lain seperti Jepang, Thailand, Inggris dan Amerika Serikat," kata Jokowi.

Adapun, dia menegaskan Indonesia harus mendorong akselerasi dan pembangunan ekonomi dan keuangan syariah, dalam rangka mendorong Indonesia menjadi pusat ekonomi syariah global.

Saat ini, Indonesia telah memiliki Komite Nasional Ekonomi dan Keuangan Syariah (KNEKS) untuk mengakselerasi pertumbuhan ekonomi dan keuangan syariah dengan strategi besar memperkuat halal value chain.

Presiden menambahkan saat ini merupakan momen yang tepat untuk membuat peta jalan ekonomi dan keuangan syariah yang segera dilakukan untuk pengembangan sektor ini.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Jokowi bank syariah keuangan syariah merger bank syariah
Editor : Annisa Sulistyo Rini
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top