Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

BTPN: Pengembangan Neo Bank Butuh Payung Hukum yang Akomodatif

Konsep digital dinilai membutuhkan regulasi yang mendukung bank untuk dapat memberikan kemudahan, kesederhanaan dan kecepatan bagi nasabah.
M. Richard
M. Richard - Bisnis.com 22 November 2020  |  12:43 WIB
Pejalan kaki melintas di dekat logo PT Bank Tabungan Pensiunan Nasional Tbk. di Jakarta, Selasa (16/10/2018). - JIBI/Dedi Gunawan
Pejalan kaki melintas di dekat logo PT Bank Tabungan Pensiunan Nasional Tbk. di Jakarta, Selasa (16/10/2018). - JIBI/Dedi Gunawan

Bisnis.com, JAKARTA -- PT Bank BTPN Tbk. menyatakan potensi kemunculan neo bank di Indonesia semakin dekat sehingga membutuhkan payung hukum yang lebih akomodatif dari semua otoritas.

Wakil Direktur Utama Bank BTPN Darmadi Sutanto menyampaikan regulasi diperlukan agar tetap memberikan solusi keuangan dalam mengakomodasi kebutuhan masyarakat akan digitalisasi serta membantu pertumbuhan ekonomi yang sejalan dengan perkembangan industri, khususnya perbankan.

"Hal ini juga sekaligus mampu memberi ruang untuk berinovasi untuk memberikan daya saing yang lebih baik," katanya kepada Bisnis, Jumat (22/11/2020).

Dia melanjutkan perseroan masih melihat regulasi masih sangat ketat dalam pengembangan digitalisasi. Padahal, dia menekankan konsep digital membutuhkan regulasi yang mendukung bank untuk dapat memberikan kemudahan, kesederhanaan dan kecepatan seperti dalam membuka rekening dan memproses transaksi bagi nasabah.

Di samping itu, dia berharap pemerintah juga fokus pada peningkatkan digital usage di segmen menengah-atas sehingga mendukung terciptanya cashless society.

"Daya jangkau digitalisasi tidak hanya dalam konteks inklusi keuangan tetapi juga," tutur Darmadi.

Di samping itu, otoritas juga perlu menyiapkan konsolidasi jaringan sistem pembayaran, yang akan meningkatkan aktivitas pembayaran digital yang lebih luas sehingga kebutuhan membuka rekening secara digital juga akan otomatis meningkat.

"Dengan QRIS, akses kepada sistim pembayaran sudah terbuka bagi semua pelaku bisnis, tetapi tetap masih perlu ada edukasi kepada merchant dan masyarakat tentang hal ini," sebutnya.

Dari sisi pemahaman masyarakat, otoritas perlu menekankan bahwa proses serta keamanan yang menjadi tanggung jawab yang berkesinambungan dari bank maupun nasabah penggunanya yang perlu ditingkatkan secara bersama-sama.

Terlebih, dalam digital banking yang lebih aktif, kejahatan siber yang terjadi menjadi tantangan bagi bank dan nasabah untuk selalu menjaga keamanan karena kemudahan akses digital sering dimanfaatkan oleh oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab untuk mencari keuntungan pribadi dengan melakukan kejahatan di dunia digital.

Peran aktif dari nasabah sangat diperlukan untuk selalu waspada dan melindungi diri terhadap segala upaya yang merugikan atau mengancam keamanan dana dan data pribadi.

"Hal ini juga yang saat ini masih membuat nasabah ragu dengan layanan total digital banking, terutama untuk mereka yang meyimpan dana cukup besar di bank yang masih memerlukan akses ke cabang dan layanan manusia, karena lebih memberikan rasa aman," sebutnya.

Meski demikian, perseroan memandang digitalisasi juga memberikan peluang untuk dapat memberikan solusi yang relevan kepada penggunanya sesuai perkembangan situasi saat ini.

Potensi digital yang sangat besar yang ada di Indonesia menjadi salah satu peluang yang menjanjikan. Peluang ini dipercepat dengan adanya pandemi Covid-19 dimana masyarakat secara tidak langsung terpapar dengan informasi dan kebutuhan akan akses digital untuk memenuhi kebutuhan Life Finance nya.

Kebutuhan digital ini tidak hanya dirasakan pada kalangan muda, namun sudah mulai merambah kepada segmen yang lebih senior di masa pandemi seperti sekarang ini. Bukan hanya nasabah sebagai individu tetapi juga sebagai entrepreneur.

Pada akhirnya, tentu saja tantangan-tantangan tersebut akan dapat terjawab dengan adanya kolaborasi antar pelaku industri digital di dalam ekosistem digital yang komprehensif termasuk partner online maupun offline, serta regulator yang secara aktif menerbitkan aturan-aturan untuk mendukung terciptanya ekonomi digital yang baik.

Dia menjelaskan, inovasi di Bank BTPN berkomitmen melakukan berbagai inovasi di dunia finansial demi memberikan solusi Life Finance bagi nasabahnya, salah satu bentuknya melalui aplikasi Jenius.

Jenius diluncurkan untuk dapat membantu dan memberdayakan masyarakat sesuai kebutuhan mereka akan Life Finance. Untuk itu, perseroan selalu berkokreasi dan berkolaborasi dengan digital savvy dan para pengguna Jenius agar dapat memberikan pengalaman perbankan terbaik bagi mereka.

"Hal ini merupakan komitmen kami untuk selalu menyediakan solusi Life Finance yang simpel, cerdas, dan aman bagi pengguna Jenius."

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

regulasi btpn OJK digital Digital Banking
Editor : Annisa Sulistyo Rini
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top