Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Gelontorkan Rp682 Triliun, Bos BI Sebut Terbesar di Antara Emerging Market

Gubernur BI Perry Warjiyo mengatakan injeksi likuiditas tersebut setara dengan 4,4 persen produk domestik bruto (PDB) Indonesia.
Maria Elena
Maria Elena - Bisnis.com 03 Desember 2020  |  16:41 WIB
Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo memberikan keterangan melalui streaming di Jakarta, Rabu (18/8 - 2020), Dok. Bank Indonesia
Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo memberikan keterangan melalui streaming di Jakarta, Rabu (18/8 - 2020), Dok. Bank Indonesia

Bisnis.com, JAKARTA - Bank Indonesia (BI) mencatat realisasi penambahan likuiditas di perbankan atau quantitative easing (QE) telah mencapai Rp682 triliun.

Gubernur BI Perry Warjiyo mengatakan injeksi likuiditas tersebut setara dengan 4,4 persen produk domestik bruto (PDB) Indonesia. Bahkan, imbuhnya, stimulus ini merupakan yang terbesar di antara negara-negara emerging market.

"BI telah melakukan quantitative easing Rp682 triliun atau 4,4 persen PDB, stimulus moneter terbesar di antara emerging market," katanya, Kamis (3/12/2020).

Longgarnya likuiditas ini diharapkan dapat mendukung penyaluran kredit di perbankan. Di samping itu, BI juga memberikan dukungan dalam bentuk kebijakan suku bunga.

Suku bunga acuan BI telah dipangkas sebesar 125 basis poin sejak awal 2020, menjadi 3,75 persen. Tingkat suku bunga ini pun terendah sepanjang sejarah Indonesia.

Perry meminta industri perbankan untuk gerak cepat dalam merespon penurunan suku bunga acuan BI tersebut. "Sudah saatnya bank turunkan suku bunga sebagai komitmen bersama untuk pemulihan ekonomi nasional," ujarnya.

Adapun untuk 2021, Perry mengatakan stimulus kebijakan moneter akan tetap berlanjut sehingga pemulihan ekonomi dapat semakin terakselerasi.

Stabilitas nilai tukar rupiah akan terus dijaga sesuai dengan fundamentalnya dan mekanisme pasar. Kemudian, BI juga akan tetap menerapkan kebijakan suku bunga rendah hingga tekanan terhadap inflasi meningkat.

Inflasi pada tahun ini diperkirakan akan berada pada tingkat yang rendah, jauh di bawah batas kisaran target BI sebesar 2 hingga 4 persen. Pada 2021, tingkat inflasi diperkirakan akan kembali berada pada kisaran 3±1 persen.

"Suku bunga akan tetap rendah sampai muncul tanda-tanda tekanan inflasi akan meningkat. Suku bunga BI yang sekarang 3,75 persen terendah sepanjang sejarah," katanya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

bank indonesia perbankan perry warjiyo quantitative easing likuiditas
Editor : Annisa Sulistyo Rini
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top