Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Kehadiran Bank Digital Dinilai Sangat Mendesak, Ini Alasannya

Kehadiran fintech yang memiliki banyak fleksibilitas, telah menjadi tantangan bagi perbankan dalam menjaga pangsa pasar.
Puput Ady Sukarno
Puput Ady Sukarno - Bisnis.com 03 Desember 2020  |  20:03 WIB
Ilustrasi pembayaran menggunakan barcode di ponsel pintar - Wikimedia Common
Ilustrasi pembayaran menggunakan barcode di ponsel pintar - Wikimedia Common

Bisnis.com, JAKARTA - Seiring berkembangnya industri financial technology (fintech) saat ini, mendorong sektor perbankan mulai melakukan inovasi dan transformasi ke sektor digital. Apalagi akibat pandemi Covid-19 aktivitas transaksi keuangan lebih banyak menggunakan jalur digital daripada konvensional.

"Digitalisasi adalah keniscayaan menjadi kebutuhan bagi industri padat modal seperti halnya perbankan," ujar Direktur Riset Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia Piter Abdullah, seperti dikutip, Kamis (3/12/2020).

Piter menjelaskan bahwa kehadiran fintech yang memiliki banyak fleksibilitas, telah menjadi tantangan bagi perbankan dalam menjaga pangsa pasar mereka.

Sebagai contoh, kata dia, segmen UMKM yang lebih banyak menjadi target pasar industri fintech melalui layanan peer to peer (P2P) lending. Padahal segmen inilah yang paling banyak menjadi target pasar hampir semua bank.

"Perbankan saat ini harus bersaing dengan fintech P2P lending karena itu bank harus lebih mengambil inisiatif untuk mengoptimalkan produk dan layanan digital agar mampu bersaing," jelasnya.

Piter menilai arah pengembangan bank digital sudah sejalan dengan upaya OJK mendorong bank kecil dan menengah untuk melakukan merger dan akuisisi guna memperkuat struktur modal. Sebab investasi di bidang digital ini membutuhkan biaya dan modal yang tinggi.

"OJK ingin dengan modal bank yang kuat maka bank-bank kecil dan menengah bisa masuk ke era digital dan mampu beradaptasi sesuai dengan kebutuhan masa kini. Saat ini bank-bank masih fokus ke digitalisasi transaksi, belum masuk ke produk dan layanan digital yang lebih menantang," jelasnya.

Menurut Piter, konsep bank digital yang dimaksud, saat ini dikenal dengan istilah Neo Bank, sebuah wajah baru perbankan di era digital yang memungkinkan menjalankan layanan dan produknya seperti dijalankan oleh financial technology (fintech).

Dengan mengadopsi strategi menjadi bank digital, jelas Piter, justru perbankan konvensional akan lebih mudah menjalankan layanan seperti yang sudah dijalankan oleh fintech.

"Dengan digitalisasi, bank akan lebih efisien karena tak perlu banyak kantor cabang dan pengeluaran biaya operasional. Semuanya bisa dilayani melalui fasilitas digital," tambahnya.

Senior Faculty Lembaga Pengembangan Perbankan Indonesia (LPPI) Moch. Amin Nurdin mengatakan digitalisasi akan membantu pengembangan Bank Buku 3 dan Buku 4 untuk berkompetisi mengoptimalkan perubahan gaya hidup dan tuntutan dari para konsumen.

"Bagi bank kecil dan menengah menjadi bank digital adalah strategi yang tepat untuk masuk ke pasar yang menginginkan produk dan layanan yang lebih cepat dan simpel. Melalui digitalisasi inilah bank-bank itu akan bisa survive," ujarnya.

Menurut Amin, sudah ada beberapa bank yang membuat platform sebagai bank digital. Salah satu contohnya adalah aliansi kerja sama antara perbankan konvensional dengan fintech. Cara tersebut cukup efisien untuk menjangkau pasar yang lebih luas dengan biaya efisien.

Beberapa contoh termasuk Bank BCA yang telah mengakuisisi Bank Royal dan mengubahnya menjadi Bank Digital BCA, BTPN dengan produknya Jenius, serta Bank Artos yang dari awal dibentuk sebagai digital-first bank. Adapun bank asing yang juga telah menerapkan strategi digital bank, seperti Bank DBS dengan layanan Digibank dan UOB dengan produk TMRW.

"Dengan digitalisasi berarti ada pengalaman baru bagi nasabah. Tapi yang lebih penting, bank digital mampu menjangkau konsumen di wilayah yang sulit untuk dapat bertransaksi di bank dengan cepat dan taat proses," imbuhnya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

perbankan fintech Digital Banking Teknologi Finansial P2P lending
Editor : Annisa Sulistyo Rini
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top