Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Ada Pelonggaran ATMR dan DP 0 Persen, Bagaimana Efeknya ke Kredit?

Trioksa mengatakan stimulus lebih dibutuhkan untuk kredit di sektor produktif, terutama UMKM. Dari situ, dapat membuka lapangan pekerjaan baru dan berpenghasilan.
Azizah Nur Alfi
Azizah Nur Alfi - Bisnis.com 19 Februari 2021  |  19:55 WIB
Mobil baru Honda dipajang di diler Jalan MT Haryono, Cawang, Jakarta Selatan, Selasa (31/7/2018). - JIBI/Nurul Hidayat
Mobil baru Honda dipajang di diler Jalan MT Haryono, Cawang, Jakarta Selatan, Selasa (31/7/2018). - JIBI/Nurul Hidayat

Bisnis.com, JAKARTA - Senior Faculty Lembaga Pengembangan Perbankan Indonesia (LPPI) Trioksa Siahaan menjelaskan ATMR yang ditetapkan menjadi 50% dari sebelumnya 100%, membuat permodalan bank lebih longgar.

Adanya penurunan ATMR tersebut membuat bank tidak perlu mencadangkan modal lebih besar untu mengatasi risiko kredit. Dari situ, sesuai dengan tujuan pemerintah dan regulator, harapannya kebijakan tersebut akan mendorong ekspansi kredit bank di sektor yang memperoleh stimulus.

Data Bank Indonesia mencatat kredit konsumsi turun 0,7% yoy pada Desember 2020 menjadi Rp1.602,1 triliun. Dari segmen tersebut, kredit kendaraan bermotor mengalami penurunan terdalam sebesar 24,4% yoy menjadi Rp107,3 triliun. Sementara kredit pemilikan rumah tumbuh 3,4% yoy menjadi Rp521,6 triliun, mengalami perlambatan dari pertumbuhan pada November 2020 sebesar 3,7% yoy.

"Apakah ini akan efektif? Ini yang perlu diperhatikan dari sisi kemampuan masyarakat. Kalau pendapatannya bagus, pasti dari sisi demand [kredit] akan naik. Regulasi ini baru dari sisi supply, memberikan kelonggaran kepada perbankan," katanya, Jumat (19/2/2021).

Trioksa mengatakan stimulus lebih dibutuhkan untuk kredit di sektor produktif, terutama UMKM. Dari situ, dapat membuka lapangan pekerjaan baru dan berpenghasilan. Dia berharap sejumlah stimulus kepada UMKM yang telah diberikan tahun lalu, lebih digenjot pada tahun ini.

"[Stimulus] di sektor produktifnya yang perlu digenjot. Tujuannya, kalau masyarakat sudah punya penghasilan pasti akan lari ke konsumtif. Di masa saat ini yang lebih diprioritaskan masyarakat adalah bagaimana agar bisa mendapatkan pekerjaan, penghasilan. Mereka akan berpikir beberapa kali sebelum mengajukan kredit di konsumtif," ujarnya.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

perbankan kredit kredit kendaraan
Editor : Ropesta Sitorus

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode bisnis indonesia logo epaper

BisnisRegional

To top