Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

OJK Ungkap Dua Faktor Penolong Kinerja Multifinance pada 2021

Dua faktor tersebut, antara lain mulai tumbuhnya pembiayaan sektor otomotif dan bangkitnya kepercayaan perbankan untuk menggelontorkan likuiditas mereka melalui pinjaman kepada leasing atau menggelar pembiayaan bersama (joint financing).
Aziz Rahardyan
Aziz Rahardyan - Bisnis.com 25 Maret 2021  |  19:21 WIB
Multifinance - Istimewa
Multifinance - Istimewa

Bisnis.com, JAKARTA - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) meyakini ada dua faktor yang mampu membawa kinerja industri pembiayaan (multifinance) bertumbuh pada periode 2021.

Direktur Pengawasan Lembaga Pembiayaan OJK Yustianus Dapot menyampaikan faktor tersebut yakni mulai tumbuhnya pembiayaan sektor otomotif dan bangkitnya kepercayaan perbankan untuk menggelontorkan likuiditas mereka melalui pinjaman kepada leasing atau menggelar pembiayaan bersama (joint financing).

Dua faktor tersebut, kata dia, merupakan kesimpulan dari hasil asesemen pihaknya terhadap beberapa pemain industri sebagai sampel.

"Maka, subsidi pajak mobil baru diharapkan dapat mempercepat lagi pertumbuhan pembiayaan otomotif di Indonesia yang sempat lesu sejak pandemi. Karena dari diskusi dengan beberapa perusahaan di awal tahun, otomotif membawa optimisme di 2021," ujarnya dalam diskusi virtual, Kamis (25/3/2021). 

Dari laporan rencana bisnis beberapa perusahaan sampel tersebut, Yustianus menjelaskan bahwa beberapa perusahaan bakal mengandalkan kredit barang otomotif dan barang konsumsi lain-lain, serta kredit modal kerja. 

OJK memproyeksikan piutang pembiayaan pelaku industri multifinance bisa meningkat setidaknya 5,6 persen pada 2021, kendati total aset masih belum ada peningkatan signifikan akibat dampak pandemi. Adapun, kepercayaan perbankan sebagai faktor berikutnya, merupakan kunci mengamankan likuiditas para pelaku industri multifinance.

Hal ini karena OJK memahami tantangan utama yang dihadapi multifinance bukan hanya turunnya kemampuan bayar debitur yang bisa menyebabkan naiknya rasio non-performing financing (NPF), namun juga dari turunnya kemampuan penghimpunan dana dari para kreditur, seperti perbankan, pasar modal, dan pihak lainnya. 

"Indikatornya, penerbitan surat berharga diproyeksi naik 5,3 persen. Kita bisa melihat bagaimana mereka switch dalam hal pendanaan. Karena walaupun sumber dana dari perbankan dalam negeri meningkat 4,1 persen, pinjaman luar negeri berpotensi turun 15,2 persen," ungkapnya. 

Oleh sebab itu, OJK berharap para multifinance juga terus menggelar inovasi bisnis, di samping terus menjaga kesehatan bisnis, kredibel, memiliki daya tahan krisis, dan menjaga keseimbangan antara pertumbuhan piutang dengan perlindungan konsumen, sehingga tercipta market confidence

"Penggunaan strategi tertentu melalui digitisasi proses bisnis maupun produk, harapannya bisa mendorong efisiensi, dan membuat peningkatan piutang pembiayaan di tengah PSBB, WFH, melalui beragam layanan yang tidak lagi memerlukan tatap muka," tambahnya. 

Yustianus mengungkap bahwa kepercayaan perbankan kepada multifinance sebelumnya sempat menurun akibat kasus praktik penjaminan aset ganda atau double pledging, jaminan fiktif, serta double financing

"Oleh karenanya, dengan diwajibkannya para pemain industri pembiayaan bergabung ke sistem asset registry, diharapkan kalangan perbankan bisa semakin percaya dengan perusahaan pembiayaan, karena praktik-praktik double pledge tidak akan terjadi lagi," ungkap Yustianus.  


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

multifinance pembiayaan OJK
Editor : Ropesta Sitorus

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode bisnis indonesia logo epaper

BisnisRegional

To top