Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Diakui Dunia, Ini Resep Jitu Bank Indonesia Jaga Stabilitas Rupiah di Tengah Pandemi

Dalam upaya menstabilkan nilai tukar, BI secara serentak melakukan intervensi melalui kebijakan DNDF dalam denominasi rupiah untuk memitigasi risiko nilai tukar dan pasar spot dengan menjual dolar AS, serta membeli obligasi pemerintah dalam mata uang rupiah di pasar sekunder.
Maria Elena
Maria Elena - Bisnis.com 05 April 2021  |  16:54 WIB
Kantor Bank Indonesia di Jakarta - Reuters/Iqro Rinaldi
Kantor Bank Indonesia di Jakarta - Reuters/Iqro Rinaldi

Bisnis.com, JAKARTA - Bank Indonesia (BI) dinilai mampu menstabilkan nilai tukar rupiah setelah sempat terjatuh saat periode awal merebaknya Covid-19 di Tanah Air pada 2020 lalu.

Tak hanya berhasil melewati krisis Covid-19, BI juga berhasil meningkatkan cadangan devisa ke rekor tertinggi pada Januari 2021, yaitu mencapai US$138 miliar, meski mengalami penurunan pada kuartal pertama 2020.

Posisi cadangan devisa pada Januari 2021 ini setara dengan 12,5 persen dari PDB Indonesia, dapat membiayai 10 bulan impor dan jauh di atas standar kecukupan internasional sekitar 3 bulan impor.

Dilansir melalui centralbanking.com, Senin (5/3/2021), disebutkan pencapaian tersebut sebagian besar merupakan hasil dari penerapan alokasi aset strategis (strategic asset allocation/SAA) berdasarkan pendekatan faktor-makro pada 2018. SAA memperhitungkan aset dan lialibilitas yang terkait dengan risiko mata uang dan siklus aset.

Di samping itu, BI juga mencermati risiko nilai tukar berdasarkan posisi bersih antara ekspor dan impor, yang sbeagian mendorong kebutuhan likuiditas dolar AS dalam perekonomian domestik, serta dampak daya saing di pasar domestik.

Untuk mengatasi risiko mata uang, BI telah mengembangkan strategi untuk menyesuaikan eksposur mata uang yang diharapkan sesuai dengan operasi moneter. Hal ini juga mendorong mengurangi siklus dalam aliran portofolio. Di sisi aset pun, BI telah meningkatkan diversifikasi asetnya dengan tetap menjaga tingkat risiko yang terbatas.

“Krisis mengajarkan bank sentral pentingnya memiliki cadangan yang memadai. Namun, cadangan yang lebih tinggi meningkatkan biaya untuk menahannya,” kata Hariyadi Ramelan saat masih menjadi Kepala Departemen Penegelolaan Devisa BI.

Sebagaimana diketahui, pada Maret 2020 lalu pasar keuangan Indonesia mengalami arus keluar modal yang tajam, yang mana saat itu terjadi penurunan likuiditas di pasar treasury Amerika Serikat (AS) yang menyebabkan investor tiba-tiba menjual obligasi untuk mendapatkan akses tunai.

Hal ini menyebabkan antara 31 Januari hingga 24 Maret 2020, nilai tukar rupiah mengalami penurunan hingga 17,6 persen terhadap dolar AS. Oleh karena itu, BI menjalankan kebijakan berupa triple intervention mulai 2 Maret 2020 lalu.

Dalam upaya menstabilkan nilai tukar, BI secara serentak melakukan intervensi melalui kebijakan Domestic Non Deliverable Forward (DNDF) dalam denominasi rupiah untuk memitigasi risiko nilai tukar dan pasar spot dengan menjual dolar AS, serta membeli obligasi pemerintah dalam mata uang rupiah di pasar sekunder.

Pendekatan tersebut terbukti mahal dalam jangka pendek, tercermin dari cadangan devisa Indonesia yang turun lebih dari US$9,5 miliar pada akhir Maret 2020. Namun, Ramelan mengatakan kebijakan triple intervention dinilai efektir dalam menenangkan permintaan dolar AS di pasar domestik dan menenangkan pembalikan tiba-tiba dari investor global.

Alhasil, sejal akhir Maret 2020, rupiah kembali pulih, dan pada 10 Juni 2020, nilai tukar rupiah meningkat 19,2 persen dari level terendahnya di Maret 2020. Pada periode selanjutnya, nilai tukar rupiah cenderung stabil.

Ramelan menjelaskan, BI mencoba mengurangi tekanan permintaan dari investor global atau bank yang membutuhkan uang tunai dalam dolar AS dengan mengelola tingkat kematangan melalui kebijakan DNDF tersebut.

“Melalui kebijakan itu, kami dapat mengurangi tekanan pada likuiditas dalam jangka pendek, jadi kami mencoba untuk menyalurkan sebagian dari permintaan dolar ke jangka waktu enam bulan dan sembilan bulan yang lebih panjang. Ini juga mengurangi kebutuhan intervensi di pasar spot dolar AS,” jelasnya.

Atas kesuksesan ini, BI meraih penghargaan Reserve Manager of The Year dari Central Banking Publications (CBP). Kendati demikian, BI masih harus berupaya untuk menjaga stabilitas rupiah serta cadangan devisa ke depannya. Pasalnya, jalan pemulihan masih panjang dan risiko global menanti. 


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

bank indonesia Rupiah intervensi pasar
Editor : Hadijah Alaydrus

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode bisnis indonesia logo epaper

BisnisRegional

To top