Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Mega Corpora Tender Wajib Saham Publik Bank Harda (BBHI) Terlalu Murah. Apa Efeknya?

Mega Corpora sebagai pengendali baru memang telah menyiapkan rencana pengembangan untuk Bank Harda. Perusahaan milik Chairul Tanjung itu berencana untuk melakukan perubahan model bisnis BBHI dari bank konvensional menjadi bank digital.
Azizah Nur Alfi
Azizah Nur Alfi - Bisnis.com 19 April 2021  |  16:34 WIB
Kantor Bank Harda Internasional - bankbhi.co.id
Kantor Bank Harda Internasional - bankbhi.co.id

Bisnis.com, JAKARTA - PT Mega Corpora telah menyelesaikan pengambilalihan PT Bank Harda Internasional Tbk. pada 15 Maret 2021. Dengan begitu, Mega Corpora resmi menjadi pengendali baru Bank Harda dengan kepemilikan saham sebesar 73,71%.

Sebagai pengendali baru, maka Mega Corpora wajib melakukan penawaran tender wajib sesuai dengan Peraturan No.09/POJK.04/2018. Mega Corpora melakukan penawaran untuk membeli sisa saham Bank Harda yang dimiliki masyarakat sebanyak-banyaknya 1.099.970.795 atau 26,29%.

Periode penawaran tender berlaku mulai 20 April 2021 sampai dengan 20 Mei 2021. Harga penawaran tender wajib ditetapkan sebesar Rp160,26 per saham.

Namun harga penawaran untuk pembelian saham publik tersebut jauh di bawah harga pasar. Pada perdagangan Senin (19/4/2021), harga saham Bank Harda ditutup menguat 5,95% ke level Rp1.425 atau naik 80 poin.

Dalam pernyataan penawaran tender wajib yang dipublikasikan hari ini (19/4/2021), disampaikan bahwa harga yang ditetapkan untuk penawaran tender wajib yang akan dilaksanakan merupakan harga rata-rata dari harga tertinggi perdagangan harian di Bursa Efek selama 90 hari kalender sebelum tanggal pengumuman negosiasi yakni periode 4 Agustus 2020 sampai dengan 1 November 2020.

Total harga tertinggi selama periode tersebut sebesar Rp9.295, dibagi dengan total hari bursa sebanyak 58 hari sehingga ditemukan harga rata-rata sebesar Rp160,26 per saham.

Lantai bagaimana efeknya terhadap harga saham Bank Harda?

Analis Binaartha Sekuritas Muhammad Nafan Aji Gusta Utama mengatakan harga saham Bank Harda sudah sangat overvalued dengan PBV 16,05 kali. Kenaikan harga sahamnya yang sangat signifikan lebih dipengaruhi oleh sentimen transformasi menuju bank digital.

Dalam tiga bulan terakhir, harga saham Bank Harda sudah melonjak 124,41%. Sementara dalam enam bulan terakhir harga sahamnya sudah melesat 917,86%.

Mega Corpora sebagai pengendali baru memang telah menyiapkan rencana pengembangan untuk Bank Harda. Perusahaan milik Chairul Tanjung itu berencana untuk melakukan perubahan model bisnis BBHI dari bank konvensional menjadi bank digital.

Bank Harda nantinya akan menyediakan produk dan layanan perbankan digital inovatif yang memberikan solusi dan seamless customer experience bagi nasabah serta memberikan nilai tambah yang tinggi kepada seluruh pemangku kepentingan.

Menurut Nafan, harga penawaran tender wajib yang ditetapkan jauh di bawah harga pasar akan memberikan efek kepada penyesuaian harga sahamnya. Dia memberikan rekomendasi hold terhadap saham BBHI dengan target price Rp1.160 dalam jangka pendek.

"Semestinya harga saham akan mengalami penyesuaian," ujarnya, Senin (19/4/2021).

Adapun, untuk ikut serta dalam penawaran tender wajib, kata Nafan, pemegang saham publik akan menunggu koreksi untuk pergerakan harga saham Bank Harda. Sebab, investor akan melihat dari sisi valuasinya.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

perbankan tender offer Bank Harda
Editor : Ropesta Sitorus

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode bisnis indonesia logo epaper

BisnisRegional

To top