Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Manfaatkan Momen Lebaran, Begini Strategi Akulaku

Terdapat sejumlah tren yang perlu dicermati oleh pelaku UMKM dalam menentukan strategi penjualan pada Lebaran 2021 bernuansa era new normal.
Aziz Rahardyan
Aziz Rahardyan - Bisnis.com 30 April 2021  |  22:09 WIB
Logo Akulaku - akulaku.com
Logo Akulaku - akulaku.com

Bisnis.com, JAKARTA — Perusahaan pembiayaan PT Akulaku Finance Indonesia mendukung merchant UMKM memanfaatkan momentum lonjakan transaksi pada periode Hari Raya Idul Fitri 1442 H atau Lebaran 2021.

Head of Business Development Akulaku Silvrr Indonesia Yudhistira Luntungan menyebutkan terdapat sejumlah tren yang perlu dicermati oleh pelaku UMKM dalam menentukan strategi penjualan di Lebaran bernuansa era new normal.

Dalam pemaparannya di Webinar Literasi Keuangan & Wirausaha Akulaku pada Jumat (30/4/2021), Yudhis menyebut setidaknya ada tiga fenomena yang menjadi sorotan pihaknya.

"Jadi, strateginya kalau kami sudah pasti mempersiapkan kalender promo. Kami mengumpulkan sebanyak mungkin produk dan merchant untuk memeriahkan karena kami tahu potensi transaksi bisa 10 kali lipat dari hari biasa. Apalagi, nilai transaksi bisa lebih tinggi karena sekarang biaya pulang kampung tidak terpakai," jelasnya.

Fenomena pertama yaitu trafik belanja online mengalami kenaikan yang signifikan dalam setahun terakhir dengan adanya kebijakan pembatasan sosial. Hal tersebut dikonfirmasi oleh riset United Nations Conference on Trade and Development (UNCTAD) yang menyebut bahwa volume belanja konsumen di platform marketplace mengalami kenaikan sebesar 65 persen selama masa pandemi.

"Pandemi memberikan kesempatan yang lebih baik bagi merchants karena pola belanja konsumen sekarang terdorong menjadi serba online," ujarnya.

Kedua, pandemi turut meningkatkan kecenderungan konsumen untuk berbelanja brand lokal. Hal tersebut terlihat dengan terus meningkatnya volume pencarian terhadap sejumlah kategori produk yang identik dengan brand lokal selama masa pandemi.

"Produk dari brand lokal yang berkualitas bagus dan harganya bersaing semakin dicari. Hal ini mesti dimanfaatkan oleh pemilik brand lokal yang berarti eksposur terhadap produk mereka meningkat signifikan secara organik tanpa harus mengeluarkan biaya," jelasnya.

Ketiga, dirinya menekankan bahwa volume transaksi belanja online secara historis selalu mencapai titik tertinggi saat menjelang periode Lebaran maupun festival belanja online menjelang pergantian tahun.

"Pelaku usaha perlu memperhatikan momentum menjelang periode Lebaran. Pada periode tersebut pekerja memperoleh THR yang meningkatkan kemungkinan mereka untuk berbelanja lebih banyak," ujarnya.

Akulaku berkomitmen untuk memberikan dukungan penuh kepada pelaku usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) agar semakin adaptif menghadapi perubahan perilaku konsumen akibat pandemi Covid-19.

Corporate Secretary Akulaku Finance Indonesia Wildan Kesuma mengungkapkan hal tersebut dalam diskusi bersama beberapa merchant Akulaku, di mana bisnis saat ini mesti dapat beradaptasi dengan mengoptimalkan penggunaan platform digital untuk merespons situasi keterbatasan interaksi fisik yang terjadi.

"Akulaku menyadari UMKM memiliki peranan penting terhadap perputaran roda ekonomi Indonesia. Untuk itu, kami berkomitmen untuk menghadirkan inisiatif serta edukasi berkelanjutan bagi pelaku usaha mikro agar semakin adaptif dan dapat menyusun strategi yang tepat di era kebiasaan baru," ujarnya.

Sejumlah UMKM yang tergabung sebagai merchant Akulaku pun berbagi tips dan strategi agar dapat membantu sesama pelaku usaha untuk meningkatkan transaksi penjualan secara online di masa pandemi.

Merchant kategori peralatan pancing, King Fishing, menilai pelaku usaha tidak bisa lagi hanya sekedar mengandalkan penjualan door-to-door secara langsung.

Pelaku usaha mesti segera bergabung ke dalam ekosistem platform digital yang dipercaya oleh konsumen. Bisnis yang didirikan sejak 3 tahun silam tersebut sepenuhnya mengandalkan penjualan dari platform online sejak berlakunya kebijakan pembatasan sosial.

Sejak memfokuskan pemasaran produk secara online, brand tersebut mengalami kenaikan omzet tahunan rata-rata sebesar 200 persen bila dibanding sebelum mulai terjun ke ranah digital.

"Dengan mengandalkan platform online kami bisa menjangkau target pasar yang sebelumnya tidak pernah terbayang. Bisa saja pesanan pengiriman diperoleh dari banyak pulau lain yang sangat jauh, tapi karena ini adalah barang kebutuhan hobi pasti selalu dicari oleh konsumen," ujar pemilik King Fishing, Tony Cahyadi.

Produsen helm yang berasal dari Bandung, RSV Helmet, menilai pelaku usaha lokal juga perlu gencar memanfaatkan media sosial sebagai sarana promosi.

Brand yang pada awal usahanya dipercaya untuk menjadi pemasok helm salah satu perusahaan ojek online terbesar di Indonesia tersebut selalu memanfaatkan sosial media sebagai medium untuk membangun komunitas pembeli yang loyal.

Penurunan penjualan yang sempat dirasakan saat awal terjadinya pandemi pun dapat diatasi dengan memfokuskan target pasar helm premium kepada komunitas pecinta touring. Strategi tersebut berbuah manis, lantaran penjualan produk helm tersebut kini mampu melampaui 3 kali lipat omzet tahunannya sebelum masa pandemi Covid-19.

"Kami juga mengoptimalkan sosial media untuk membangun segmen audiens yang loyal. Itu juga tidak kalah penting agar bisa meningkatkan awareness konsumen atas ketersediaan beberapa lineup produk terbaru yang memang disiapkan secara khusus," ujar Digital Sales & Marketing RSV Helmet Ivan Dwi Putra.

Turut hadir secara virtual pada hari ini adalah merchant kategori fashion pria, Triad Official, yang menilai bahwa pelaku usaha perlu memastikan agar produk yang dipasarkan secara online juga terhubung dengan sistem pembayaran digital sehingga dapat mempermudah konsumen melakukan pembelian.

Pemilik brand Triad Official Steven Huang berpendapat ketersediaan fitur paylater dapat semakin menarik minat konsumen untuk menyelesaikan pembayaran tanpa harus membebani arus kas.

"Kami melihat bahwa konsumen tidak suka menggunakan sistem pembayaran yang masih manual sehingga menjadi kurang praktis dan nyaman ketika berbelanja. Dengan adanya paylater, kemungkinan bagi konsumen untuk membatalkan pembelian menjadi lebih kecil karena prosesnya mudah dan tidak membebani arus kas. Pelaku usaha pun juga tidak kehilangan kesempatan meningkatkan potensi penjualannya dari calon konsumen," ujarnya.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

multifinance pembiayaan ecommerce Akulaku
Editor : M. Nurhadi Pratomo

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode bisnis indonesia logo epaper

BisnisRegional

To top