Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Minim Bakar Uang, Pelaku Digital Lending Mulai Dulang Cuan

Teknologi finansial di bidang pinjaman atau akrab disebut digital lending, tampak lebih mudah mendulang profit apabila dibandingkan perusahaan teknologi di sektor lain, bahkan dengan sesama fintech di klaster lain.
Aziz Rahardyan
Aziz Rahardyan - Bisnis.com 16 September 2021  |  17:57 WIB
Ilustrasi teknologi finansial - Flickr
Ilustrasi teknologi finansial - Flickr

Bisnis.com, JAKARTA - Pemain teknologi finansial (tekfin/fintech) di bidang pinjam-meminjam atau digital lending disebut sebagai segmen usaha rintisan dengan potensi 'bakar uang' paling minim.

Tak ayal, para pemain yang berlisensi multifinance atau fintech peer-to-peer (P2P) lending pun mulai tampak mencapai break even point dan mendulang profit, kendati masih berumur balita.

Direktur Utama PT Mandiri Capital Indonesia sekaligus Sekretaris Jenderal Asosiasi Modal Ventura untuk Startup Indonesia (Amvesindo) Eddi Danusaputro mengungkap bahwa potensi monetisasi dari layanan digital lending memang mudah dicapai dalam jangka pendek-menengah.

"Fintech tetep bakar uang, tapi terkhusus sektor lending, manfaatnya jelas. Jadi mereka tidak perlu agresif terkait customer acquisition cost. Mandiri Capital ada 4 fintech P2P di portofolio, Investree, KoinWorks, Amartha, dan Crowde, dan setahu saya mayoritas sudah profitable," ujarnya, Kamis (16/9/2021).

Oleh sebab itu, tak heran startup teknologi seperti dari e-commerce, dompet digital, sampai layanan ride-hailing, mau ikut terjun menyelenggarakan financial services, terutama layanan pinjam-meminjam.

Hal ini kerap terealisasi lewat kerja sama strategis, mencaplok lembaga keuangan eksisting sebagai bagian dari entitas grup, atau bahkan merintis sendiri usaha di bidang digital lending.

Eddi menjelaskan bahwa fenomena ini memang sedang diperhatikan oleh para pemain fintech. Pasalnya, seperti diketahui persaingan industri digital sangat ketat. Fokus hanya melayani lending saja tak akan cukup membawa pertumbuhan, sehingga ekspansi horizontal merupakan keniscayaan.

"Strategi horizontal sudah marak dimulai. Ekspansinya, dari segi produk atau segmen pengguna. Apalagi jika mereka sudah punya cash flow positif," tambahnya.

Sebagai gambaran, PT Lunaria Annua Teknologi (KoinWorks) menjadi salah satu platform P2P lending yang telah mencapai titik profitabilitas sejak kuartal II/2021.

Chief Marketing Officer KoinWorks Jonathan Bryan sepakat bahwa titik profit merupakan batu loncatan yang justru menjadi titik permulaan era baru suatu platform menambah pengaruhnya, menjadi tak sekadar platform layanan marketplace pinjam-meminjam dana.

"Profitability yang kita dapat, menandakan strategi dan produk kita sudah sesuai jalur. Jadi, pertama tentu scaling produk yang sama, terutama ke luar Jawa. Kedua, mencoba produk baru untuk melengkapi layanan dari aplikasi kita. Ketiga, soal hiring sumber daya manusia [SDM]. Selama tiga bulan terakhir saja kita baru hire dua C-level baru. Jadi perkembangan bukan hanya soal produk, tapi juga man-power yang tepat," jelasnya kepada Bisnis.

Sekadar informasi, platform yang mem-branding dirinya sebagai Super Financial App ini tengah mengincar layanan integrasi dengan Neobank bagi para penggunanya yang didominasi UKM digital sektor produktif.

Layanan baru bertajuk KoinWorks Neo tersebut akan menyediakan rekening bank digital instan, debit, dan kartu kredit yang dikhususkan untuk para pelaku bisnis UKM. Harapannya, kendala terbesar UKM yang kini masih didominasi manajemen buruk akibat penggunaan rekening 'campur' bisa teratasi.

Salah satu fintech 'centaur' asli Tanah Air ini berencana memperkuat kapasitas bisnis lewat putaran pendanaan ke Series-C dalam waktu dekat. Terutama untuk memperluas jangkauan produk eksisting-nya, yaitu P2P lending produktif, pinjaman karyawan, investasi emas, dan menjadi mitra distribusi surat berharga negara (SBN) resmi pemerintah.

Senada, PT Akseleran Keuangan Inklusif Indonesia (Akseleran) bakal memanfaatkan momentum profit perdananya pada Juli 2021 untuk mempercepat ekspansi.

Christopher Gultom, Chief Credit Officer & Co-Founder Akseleran mengungkap bahwa pertumbuhan jumlah peminjam dan nominal pinjaman yang rencananya mencapai Rp4 triliun sepanjang 2022, bakal dimotori oleh perluasan kerja sama dengan para mitra.

Hal ini termasuk dalam hal pengembangan potensi integrasi sistem Application Programming Interfaces (API) yang mendukung koneksi berbagai layanan Akseleran bisa diakses langsung dari platform mitra.

"Gambarannya, kita ingin menjadi penyedia paylater, tapi untuk para pelaku usaha. Konkretnya sebagai contoh, ketika UMKM butuh barang modal membeli dari partner kami, Bhinneka misalnya, ketika checkout pembayaran nanti sudah ada pilihan bayar dari pinjaman Akseleran," jelasnya.

Setidaknya ada empat produk baru yang akan didorong melalui strategi tersebut, antara lain supply chain financing yang bekerja sama dengan perusahaan besar untuk mengakomodasi fasilitas pinjaman ke vendor atau supplier mereka.

Selain itu, ada juga consumer loan yang berfokus ke employment loan atau pinjaman karyawan, memfasilitasi karyawan mitra yang butuh pinjaman lewat pencairan gaji lebih awal. Ada pula buyer financing, untuk memfasilitasi kebutuhan modal para distributor perusahaan besar. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

akseleran P2P lending Koinworks Amvesindo
Editor : Azizah Nur Alfi

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

To top