Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Ramai Aksi Akuisisi, Perbankan Indonesia Bikin Banyak Investor Naksir

Ramainya minat investor untuk mengambil alih bank-bank lokal tidak terlepas dari daya pikat industri perbankan nasional.
Dionisio Damara
Dionisio Damara - Bisnis.com 08 Desember 2021  |  21:29 WIB
Ilustrasi Bank - Istimewa
Ilustrasi Bank - Istimewa

Bisnis.com, JAKARTA – Salah satu raksasa fintech asal Hong Kong, WeLab mengumumkan akuisisi PT Bank Jasa Jakarta, yang akan menjadi bank digital keduanya di Asia. Adapun, bank digital pertama milik WeLab berada di Hong Kong, yakni WeLab Bank.

Dalam pernyataan resmi WeLab, Selasa (7/12/2021), aksi korporasi ini menelan biaya US$240 juta yang dihimpun dari investor baru maupun lama. Dana tersebut akan digunakan untuk mengakuisisi saham pengendali dari pemegang saham lama sekaligus modal investasi teknologi.

Langkah WeLab untuk mengakuisisi bank lokal kian memperpanjang deretan konglomerasi yang masuk ke bisnis perbankan. Pada awal November 2021, Grup konglomerasi PT Elang Mahkota Teknologi Tbk. (EMTK) mengambil langkah akuisisi PT Bank Fama International.

Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Heru Kristiyana mengatakan ramainya minat investor untuk mengambil alih bank-bank lokal tidak terlepas dari daya pikat industri perbankan nasional, yang tengah mengarah ke digitalisasi.

“Trennya seperti itu. Didukung percepatan digitalisasi, sehingga memang bank kita sangat menarik dikembangkan untuk menjadi bank-bank digital,” ujar Heru dalam webinar yang berlangsung pada akhir November 2021.

Otoritas pun menyambut baik para investor yang berminat untuk mengakuisisi bank-bank lokal dan tidak membedakan siapa pun pemiliknya. Hal terpenting bagi OJK adalah para pemilik bank harus lulus uji kepatutan dan kelayakan.

Selain itu, kata Heru, pemilik bank juga harus memiliki kemampuan keuangan sehingga dapat mendukung kinerja pengembangan bank. Pemilik juga wajib mempunyai komitmen jangka panjang, serta mampu mengatasi berbagai masalah semisal dari sisi solvabilitas bank.

“Kalau kami lihat komitmen mereka hanya setengah-setengah tidak akan kami izinkan. Jadi, meskipun banyak yang datang, namun OJK akan memilah-milah siapa yang bisa memiliki bank di Indonesia,” tutur Heru.

Di sisi lain, tingginya daya pikat perbankan dalam negeri tidak terlepas dari ekonomi digital yang berakselerasi di tengah pandemi. Data dari Google, Temasek, dan Bain & Company, akumulasi nilai transaksi daring di Indonesia sepanjang tahun ini mencapai US$70 miliar.

Heru menyatakan bahwa jumlah tersebut merupakan tertinggi di Asia Tenggara. E-commerce menjadi penyokong utama ekonomi digital Tanah Air dengan nilai mencapai US$53 Miliar dan memiliki pertumbuhan sebesar 52 persen.

Dia menambahkan, bonus demografi juga membawa Indonesia menjadi salah satu negara berpotensi tinggi dalam peningkatan ekonomi dan keuangan digital.

“Selama 2020 hingga semester I/2021, sebanyak 72 persen dari konsumen baru yang mendaftar atau sebanyak 15 juta orang berasal dari area nonmetropolitan,” pungkasnya.

Sementara itu, laporan We Are Social pada Januari 2021 menyebutkan lebih dari 90 persen pengguna e-commerce membeli produk secara online. Dari sisi pemilik usaha, digital merchants sebagian besar akan meningkatkan layanan keuangan digital dalam 1–2 tahun ke depan.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

perbankan OJK fintech Bank Digital
Editor : Annisa Sulistyo Rini

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode bisnis indonesia logo epaper
To top