Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Mau Rights Issue Senilai Rp5 Triliun, Bagaimana Potensi Bisnis BSI (BRIS) ke Depan?

PT Bank Syariah Indonesia Tbk. atau BSI akan melaksanakan rights issue senilai Rp5 triliun atau lebih pada 2022. Aksi tersebut bertujuan untuk memenuhi aturan free float serta ekspansi bisnis perseroan.
Dionisio Damara
Dionisio Damara - Bisnis.com 19 Mei 2022  |  19:35 WIB
Gedung berlogo Bank Syariah Indonesia yang berada di Jalan Gatot Subroto, Jakarta, Minggu (31/1/2021).  Bisnis - Arief Hermawan P
Gedung berlogo Bank Syariah Indonesia yang berada di Jalan Gatot Subroto, Jakarta, Minggu (31/1/2021). Bisnis - Arief Hermawan P

Bisnis.com, JAKARTA – Prospek cerah membayangi aksi rights issue PT Bank Syariah Indonesia Tbk. atau BSI (BRIS) yang disebut akan berlangsung pada kuartal III/2022.

Rencana aksi korporasi BSI diutarakan oleh Wakil Menteri BUMN II Kartika Wirjoatmodjo. Dia mengatakan BSI akan melaksanakan rights issue senilai Rp5 triliun atau lebih pada 2022. Aksi tersebut bertujuan untuk memenuhi aturan free float serta ekspansi bisnis perseroan.

Menyikapi kabar tersebut, Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas Maximilianus Nico Demus menilai BSI memiliki peluang bisnis yang cerah tercermin dari realisasi kinerja hingga langkah strategis perseroan.

Dari sisi kinerja, BSI mencatatkan perolehan laba pada kuartal I/2022 tumbuh 33,18 persen secara tahunan menjadi Rp987,69 miliar. Pada saat bersamaan, aset perseroan mencapai Rp271,29 triliun atau naik 2,21 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Sementara itu, penyaluran pembiayaan BSI tercatat tumbuh 11,59 year-on-year (yoy) menjadi Rp177,51 triliun hingga Maret 2022. Pembiayaan konsumer naik 20,73 persen, pembiayaan mikro tumbuh 22,42 persen dan gadai emas meningkat 8,96 persen. Adapun, rasio non-performing finance (NPF) net hanya sebesar 0,9 persen.

Realisasi dana pihak ketiga (DPK) BSI juga tidak kalah mentereng. Sepanjang tiga bulan pertama tahun ini, DPK perseroan mencapai Rp228,53 triliun tumbuh sekitar 16,07 persen yoy.

“Hal tersebut memberikan sebuah gambaran bahwa customer BSI pun tumbuh, dan ini merupakan salah satu modal penting bagi perbankan,” ujarnya kepada Bisnis, Kamis (19/5).

Nico menambahkan bahwa potensi bisnis BSI ke depan juga terlihat dari langkah perseroan yang baru saja meresmikan kantor perwakilan di Dubai International Financial Center (DIFC). Menurutnya, ini menjadi langkah positif bagi BSI untuk mulai mendunia.

Dia menambahkan kehadiran BSI di Dubai sekaligus membuka peluang bagi perseroan untuk memperluas kerja samanya dengan entitas di Persatuan Emirat Arab (PEA) atau Timur Tengah.

“Oleh sebab itu, dengan positifnya bisnis di masa kini dan yang akan datang, tentu prospeknya positif apabila mereka menginginkan untuk melaksanakan rights issue. Tapi ingat, harga juga menjadi salah satu perhatian utama dalam hal ini,” kata Niko.

Secara terpisah, Duta Besar RI untuk PEA, Husin Bagis mengatakan bahwa kehadiran BSI di DIFC merupakan langkah tepat bagi perseroan untuk menuju kancah global.

Menurut Husin, Indonesia sebagai negara dengan jumlah penduduk muslim terbesar di dunia sudah selayaknya memiliki performa keuangan syariah yang kuat. Oleh sebab itu, BSI diharapkan menjadi daya ungkit untuk membangun ekosistem perbankan syariah di Tanah Air.

Selain itu, emiten bank dengan kode saham BRIS ini, dibentuk untuk memperkuat dan mengembangkan ekosistem ekonomi syariah dan industri halal Indonesia. Upaya ini dilakukan melalui kerja sama dengan berbagai institusi syariah lain, korporasi, ritel, hingga UMKM.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

BUMN rights issue Bank Syariah Indonesia
Editor : Hadijah Alaydrus

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

To top