Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Meramal Era Digital Industri Asuransi, Bagaimana Nasib Agen dan Pegawai?

Pelaku industri asuransi meyakini transformasi digital tidak akan berdampak terhadap pengurangan karyawan.
Denis Riantiza Meilanova
Denis Riantiza Meilanova - Bisnis.com 10 Juni 2022  |  07:29 WIB
Meramal Era Digital Industri Asuransi, Bagaimana Nasib Agen dan Pegawai?
Karyawan beraktivitas di kantor Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia (AAJI), Jakarta, Sabtu (22/1/2022). Bisnis - Eusebio Chrysnamurti

Bisnis.com, SOLO – Digitalisasi di industri asuransi jiwa diperkirakan makin meningkat perannya dalam beberapa tahun mendatang. Tetapi, pelaku usaha meyakini transformasi digital tidak akan berdampak terhadap pengurangan karyawan ataupun kerja sama dengan agen asuransi.

Business Director PT Asuransi Allianz Life Indonesia Bianto Surodjo menilai pasar digital adalah pasar masa depan yang akan terus berkembang. Apalagi dengan adanya pandemi Covid-19, popularitas dari kanal distribusi digital di industri asuransi semakin meningkat.

"Oleh karena itu, Allianz selalu memberikan perhatian yang sangat besar pada pengembangan bisnis secara digital. Kami percaya bahwa dari waktu ke waktu signifikansi kanal digital akan semakin meningkat, walaupun saat ini porsi digital di industri asuransi jiwa di Indonesia belum terlalu besar. Saat ini, pangsa pasar Allianz berdasarkan laporan AAJI kuartal VI/2021 adalah kurang lebih 15 persen," ujar Bianto kepada Bisnis, dikutip Kamis (9/6/2022).

Meski demikian, Allianz menilai transformasi digital tersebut tidak lantas mengurangi peran dari kanal distribusi konvensional, seperti keagenan dan bancassurance. Bianto menyebut, sampai dengan kuartal IV/2021 pun, kontribusi pendapatan premi bruto dari kanal distribusi keagenan Allianz Life masih bertumbuh sebesar 13 persen, sedangkan bancassurance bertumbuh sebesar 10 persen.

Bianto memperkirakan dalam 5-10 tahun ke depan, peranan agen dan perbankan masih sangat penting untuk asuransi jiwa. Kerja sama, baik dengan para agen maupun perbankan, diperkirakan masih akan terus meningkat. Hal ini mengingat penetrasi asuransi di Indonesia masih sangat rendah, yakni baru sekitar 3 persen dari total PDB.

Selain itu, ia juga menilai transformasi digital tidak akan berdampak pada pengurangan jumlah karyawan perusahaan ke depan. Meski demikian, ia tak memungkiri seiring makin gencarnya digitalisasi diperlukan peningkatan kemampuan dari sisi SDM.

"Dengan peluang pertumbuhan asuransi di Indonesia yang sangat besar, kami percaya bahwa organisasi kami akan terus berkembang, tentu saja diperlukan peningkatan serta penyesuaian skill set dari karyawan dalam menyongsong era digital ini," katanya.

Sementara itu, Direktur Keuangan PT BNI Life Insurance (BNI Life) Eben Eser Nainggolan mengatakan kinerja kanal distribusi bancassurance di BNI Life pada tahun lalu masih mengalami pertumbuhan yang cukup baik hingga 26,1 persen.

Sebaliknya, kinerja kanal distribusi keagenan mengalami penurunan sebesar 17,9 persen, seiring dengan penurunan kinerja kanal distribusi keagenan yang dicatatkan industri asuransi jiwa. Namun, Eben optimistis kanal distribusi keagenan dapat berpeluang tumbuh di tahun ini.

"Untuk prospek distribusi keagenan di 2022, kami melihat adanya peluang yang sangat baik untuk bertumbuh positif dan bounce back dari keadaan negatif di 2021. Seiring dengan semakin membaiknya situasi pandemi dan juga disertai dengan peningkatan kompetensi agen, kami melihat bahwa 2022 adalah tahun di mana momen kebangkitan untuk distribusi keagenan dalam menghasilkan pencapaian yang lebih baik dibandingkan 2021," kata Eben kepada Bisnis.

Selain mengembangkan kanal distribusi bancassurance dan keagenan, BNI Life juga melihat potensi pengembangan kanal distribusi alternatif lain tahun ini, meski pertumbuhannya belum signifikan.

"Untuk potensi kanal alternatif tahun ini adalah Bisnis Usaha Selain Bank (BUSB), di mana banyak sekali model bisnis yang bisa dieksplor mulai dari lead generator, bundling, maupun kerjasama penjualan secara digital," katanya.

Sebelumnya, Ketua Dewan Pengurus Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia (AAJI) Budi Tampubolon memperkirakan porsi kanal distribusi digital di industri asuransi jiwa akan semakin meningkat dalam 5-10 tahun ke depan.

Meski demikian, ia yakin kanal bancassurance dan keagenan masih memiliki peran penting sebagai kanal distribusi utama di industri asuransi jiwa.

"Kalau bicara tenaga pemasar, agen, dan bancassurance akan selalu ada. Tapi 5-10 tahun dari sekarang kanal-kanal distribusi lainnya, termasuk digital akan ambil proporsi yang tidak kecil," ujar Budi, belum lama ini.

Berdasarkan data AAJI, kanal distribusi bancassurance memiliki kontribusi terbesar terhadap total pendapatan premi industri asuransi jiwa, yakni sebesar 48,1 persen dengan pertumbuhan sebesar 5,3 persen di 2021. Disusul oleh kanal distribusi keagenan yang berkontribusi sebesar 29 persen terhadap total pendapatan premi industri asuransi jiwa.

Adapun, perolehan dari kanal keagenan selama 2 tahun terakhir terus mengalami penurunan sebesar 18,1 persen pada 2020 dan 9,7 persen di 2021.

Sementara itu, kanal distribusi lainnya, termasuk digital di dalamnya, menunjukan pertumbuhan signifikan sebesar 56,2 persen di 2021. Kanal distribusi lainnya ini pun saat ini tercatat menyumbang sebesar 22,9 persen terhadap total pendapatan premi industri asuransi jiwa.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

asuransi jiwa bancassurance agen asuransi jiwa
Editor : Amanda Kusumawardhani

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini

back to top To top