Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Simpanan Bank Digital Tumbuh Mini Dibanding Jumlah Rekening, Apa Artinya?

LPS melaporkan nominal simpanan bank digital pada akhir Mei 2022 mencapai Rp49,3 triliun.
Dionisio Damara
Dionisio Damara - Bisnis.com 04 Agustus 2022  |  16:15 WIB
Simpanan Bank Digital Tumbuh Mini Dibanding Jumlah Rekening, Apa Artinya?
Ilustrasi daftar bank digital di Indonesia - Freepik

Bisnis.com, JAKARTA – Data Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) mengemukakan bahwa jumlah nominal simpanan atau tabungan di bank digital tidak mengalami pertumbuhan secepat peningkatan jumlah rekeningnya.

LPS melaporkan bahwa nominal simpanan bank digital pada akhir 2020 mencapai Rp31,6 triliun. Sementara itu, jumlah nominal simpanan pada Mei 2022 sebesar Rp49,3 triliun. Artinya dalam kurun waktu tersebut, jumlah tabungan di bank digital tumbuh sekitar 56 persen.

Hal ini cukup kontras dengan pertumbuhan jumlah rekening bank digital. LPS mencatat pada akhir 2020 hanya ada 179.000 rekening simpanan di bank digital. Namun, jumlah tersebut melesat menjadi 28,3 juta rekening pada Mei 2022.

“Jumlah rekening memang tumbuhnya cukup cepat, tumbuhnya sampai 8.000 persen di Mei 2022. Tumbuhnya cepat karena pada Mei 2021 [jumlahnya] hampir nol,” ujar Ketua Dewan Komisioner LPS Purbaya Yudhi Sadewa dalam diskusi, Rabu (3/8/2022).

Di sisi lain, data ini menunjukkan bahwa pemegang rekening bank digital tidak cukup aktif menyimpan dananya. Direktur Center of Economic and Law Studies (Celios) Bhima Yudhistira sempat mengatakan hal ini karena nasabah bank digital cenderung mengejar promo.

Dia juga menilai para nasabah tersebut hanya ingin mencoba fitur-fitur dari bank digital. Selain itu, orientasi nasabah lebih condong pada layanan yang menguntungkan atau mencoba pengalaman baru, sehingga aktivitas mereka di bank digital dinilai tidak bertahan lama.

“Mereka hanya penasaran dengan bank digital, tetapi ketika sudah mencoba kemudian tetap beralih ke bank tradisional,” kata Bhima.

Sementara itu, Analis Mirae Asset Sekuritas Handiman Soetoyo dalam risetnya menuturkan bahwa basis pelanggan merupakan salah satu faktor alasan mengapa bank digital dinilai sulit bersaing dengan bank konvensional yang sudah mapan.

Menurutnya, bank konvensional memiliki basis pelanggan yang jauh lebih beragam, dari generasi muda hingga tua, dari kota besar sampai pedesaan. Adapun bank digital cenderung berfokus pada target pasar milenial dengan ukuran simpanan yang lebih kecil.

Tak cuma itu, Handiman menyatakan bank konvensional yang sudah berdiri sejak lama, telah memiliki reputasi dan kepercayaan dari nasabahnya. Hal itu membuat bank konvensional menjadi pilihan bagi pebisnis, institusi dan individu. “Sementara itu, sebagian besar bank digital tidak memiliki hak istimewa ini,” tuturnya. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

lps Bank Digital BBYB
Editor : Anggara Pernando

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini

back to top To top