Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia tokotbisnis Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Citigroup Bocorkan Peluang Pembiayaan Berkelanjutan di Balik Transisi Hijau Indonesia

“Ini [pembiayaan hijau] adalah kebutuhan pendanaan yang besar dan akan membutuhkan dukungan dari modal publik dan swasta."
Leo Dwi Jatmiko
Leo Dwi Jatmiko - Bisnis.com 10 Agustus 2022  |  13:22 WIB
Citigroup Bocorkan Peluang Pembiayaan Berkelanjutan di Balik Transisi Hijau Indonesia
CEO Citibank Indonesia Batara Sianturi - Dokumen Citibank Indonesia
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA - Citigroup Inc. menyebutkan upaya Indonesia melakukan penurunan emisi karbon termasuk dengan shifting energi membuka peluang pembiayaan berkelanjutan dengan potensi kebutuhan jumbo. 

Head of Sustainability and Corporate Transitions Citi Asia Pacific Rapheal Erasmus mengatakan transaksi hijau menghadirkan peluang investasi yang besar bagi Indonesia. Indonesia, kata Rapheal, telah menetapkan tujuannya untuk mencapai emisi nol bersih pada 2060, dan berkomitmen untuk mengurangi emisi karbon sebesar 29 persen pada 2030 hingga 41 persen dengan dukungan keuangan internasional.

Dalam program menuju rendah karbon tersebut, sambungnya, diperkirakan Indonesia membutuhkan US$150 miliar hingga US$200 miliar per tahun untuk memenuhi tujuan nol bersihnya pada tahun 2060 atau lebih cepat.

“Ini adalah kebutuhan pendanaan yang besar dan akan membutuhkan dukungan dari modal publik dan swasta,” kata Rapheal kepada Bisnis di Jakarta, Rabu (10/8).

Secara khusus, kata Rapheal, dekarbonisasi sistem energi sangat penting untuk mencapai target nol bersih negara. Bahan bakar fosil – terutama pembangkit batubara termal – masih mendominasi bauran energi dan sumber daya alam energi terbarukan yang melimpah di Indonesia sebagian besar masih kurang dimanfaatkan.

Rapheal juga menuturkan, meski Indonesia telah menetapkan target untuk mencapai 23 persen energi terbarukan dalam bauran energi pada tahun 2025 dan 51 persen pada 2030, untuk mempercepat investasi terbarukan memerlukan kerangka peraturan yang mendukung dan jaringan aset bankable yang kuat.

Untuk mendukung dan menghadapi tantangan dalam implementasi ESG, Rapheal mengatakan membutuhkan tindakan kolektif sektor swasta.

“Kita perlu melihat sektor swasta berpartisipasi dalam aksi iklim dan mendiversifikasi bisnis mereka ke teknologi bersih,” kata Rapheal.

Sebagai mesin pertumbuhan dan penciptaan lapangan kerja, sektor swasta memainkan peran kunci dalam mendongkrak investasi. Sektor swasta juga sering menjadi agen perubahan dan inovasi.

Dengan mengintegrasikan ESG ke dalam bisnis, sektor swasta dapat membantu memacu inovasi dan mendorong solusi baru untuk mengatasi tantangan lingkungan dan sosial. Selain itu, seperti disebutkan, sektor swasta akan sangat penting untuk membantu mendukung pendanaan yang diperlukan untuk transisi nol bersih.

“Namun, sektor swasta tidak dapat mencapai transisi itu sendiri. Upaya dari sektor swasta harus dilengkapi dengan tindakan pemerintah untuk menciptakan kerangka kebijakan yang penting untuk merangsang permintaan akan teknologi bersih dan memberikan landasan untuk transisi nol bersih,” kata Rapheal.

Sementara itu, Head of Indonesia Corporate & Investment Banking, Citi Indonesia Anthonius Sehonamin mengatakan Citi Indonesia telah membantu pemerintah dan beberapa perusahaan swasta dalam mengembangkan ESG.

Dia menuturkan pada Juni 2021 Citi Indonesia memimpin penawaran sukuk senilai US$3 miliar untuk Pemerintah Indonesia yang mencakup obligasi hijau 30 tahun, yang merupakan penawaran syariah hijau terlama di dunia.

Citi juga pernah memimpin US$1,8 miliar penawaran obligasi global dua mata uang pada September 2021 untuk Pemerintah Indonesia yang mencakup kerangka sekuritas

“Tujuan penerbitan obligasi tersebut untuk Pembangunan Berkelanjutan (SDG). Melalui ini, Indonesia menjadi negara Asia pertama yang memanfaatkan pembiayaan berlabel SDG,” kata Anthonius.

Kemudian, Citi juga memimpin penawaran obligasi global Pemerintah Indonesia senilai US$4,3 miliar pada April 2020 untuk mendukung upaya penanggulangan Covid.

Transaksi tersebut merupakan jumlah terbesar yang pernah dihargai oleh Republik Indonesia.

“Hal itu juga menunjukkan kepercayaan investor global terhadap fundamental negara dan dukungan dalam memerangi COVID-19,” kata Anthonius.

Sementara itu, Chief Executive Officer Citi Indonesia Batara Sianturi mengatakan perusahaan akan terus berperan dalam mendorong industri perbankan ke era berkelanjutan.

Citi Indonesia memahami untuk mewujudkan hal tersebut, tidak dapat dilakukan dalam sekejap. Citi Indonesia telah memulai agenda ESG sejak beberapa tahun .

ESG telah menjadi bagi dari identitas Citi Indonesia, sebagai perusahaan dan bank.Perusahaan melakukan transisi dengan bijaksana, membantu dan mendorong klien mempercepat transisi rendah karbo.

“Bagi kami ini bukan hanya tentang angka, tetapi kami juga membantu masyarakat untuk mencapai nol emisi karbon, ” kata Batara.

Kiprah Citi Indonesia dalam mendorong ESG konsisten. Selain memberi kontribusi bagi Indonesia, di Asia Pasifik Citigroup Inc., juga gencar dalam mengkampanyekan proyek-proyek berkelanjutan.

Citigroup telah mengumpulkan US$40 miliar atau Rp572 triliun untuk membiayai proyek-proyek keberlanjutan pada 2022 untuk Asia Pasifik. Angka ini meningkat enam kali lipat dari tahun 2020 sejalan dengan pemenuhan target global Amerika Serikat.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

pembiayaan green economy citibank
Editor : Anggara Pernando
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

back to top To top