Cari berita
Bisnis.com

Konten Premium

Bisnis Plus bisnismuda Koran Bisnis Indonesia tokotbisnis Epaper Bisnis Indonesia Konten Interaktif Bisnis Indonesia Group Bisnis Grafik bisnis tv

Di bawah Bayang-Bayang Resesi, Ini Kondisi Ekonomi Indonesia 2023 Menurut Bank Asing

Bank UOB, Bank DBS, dan Citibank memproyeksikan bahwa ekonomi Indonesia akan tetap tumbuh relatif pesat tahun depan.
Fahmi Ahmad Burhan
Fahmi Ahmad Burhan - Bisnis.com 05 Desember 2022  |  18:04 WIB
Di bawah Bayang-Bayang Resesi, Ini Kondisi Ekonomi Indonesia 2023 Menurut Bank Asing
Ilustrasi inflasi - Freepik
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA - Resesi global menjadi kekhawatiran bagi semua negara, tanpa terkecuali Indonesia. Sementara itu, sejumlah bank asing seperti UOB Group (Bank UOB), DBS Bank Ltd. (Bank DBS), dan Citigroup Inc. (Citibank) memproyeksikan bahwa ekonomi Indonesia akan tetap tumbuh relatif pesat di tengah ketidakpastian ekonomi global itu.

Berdasarkan laporan Quarterly Global Outlook Q1 2023 yang dirilis Bank UOB, perekonomian Indonesia yang tumbuh lebih cepat pada kuartal III/2022 sebesar 5,7 persen didukung oleh pembukaan kembali aktivitas pasca pandemi yang stabil. Kondisi itu terus mendorong kegiatan ekonomi domestik dan ekspor komoditas yang tetap kuat.

UOB pun merevisi pertumbuhan setahun penuh 2022 menjadi 5,4 persen dari sebelumnya 4,8 persen. UOB memperkirakan kinerja ekspor yang kuat dapat berkontribusi menjadi pada pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal IV/2022.

Meskipun, lajunya akan lebih lambat karena harga komoditas global diperkirakan akan menurun ke depan di tengah meningkatnya ketidakpastian.

Sementara, pada 2023 UOB memproyeksikan bahwa ekonomi Indonesia akan menghadapi tantangan ketidakpastian global. Di tingkat nasional, akan ada dampak kenaikan harga pangan dan BBM yang dirasakan oleh rumah tangga serta dunia usaha.

Kondisi ini ditambah dengan risiko eksternal seperti meningkatnya risiko resesi di negara maju dan pemulihan ekonomi China yang lebih lemah dari perkiraan.

"Oleh karena itu, kami memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia 4,8-5,0 persen untuk tahun depan," kata UOB dalam laporan Quarterly Global Outlook Q1 2023 beberapa waktu lalu.

Sementara itu, Bank DBS memproyeksikan produk domestik bruto (PDB) Indonesia pada 2023 dan inflasi masing-masing sebesar 5,3 persen dan 3,6 persen. Sementara ekspektasi pertumbuhan tertahan, perkiraan inflasi kemungkinan bisa di atas target.

DBS juga memproyeksikan bahwa pada 2023, defisit fiskal Indonesia dan Singapura menurun mendekati posisi fiskal sebelum pandemi. Senior Economist Bank DBS Eurozone, India, Indonesia Radhika Rao menjelaskan bahwa upaya tersebut dilakukan salah satunya untuk menekan inflasi dan ekspektasi inflasi pada tahun depan.

"Hal ini diperlukan karena tiga alasan: untuk menjaga kebijakan fiskal selaras dengan perubahan kebijakan moneter (kebijakan suku bunga acuan rendah), melengkapi upaya untuk menekan inflasi dan ekspektasi inflasi dan menjaga agar kondisi fiskal dan posisi utang tidak memburuk seiring dengan kenaikan bunga pinjaman," jelas Radhika dikutip pada bulan lalu (27/11/2022).

Selain itu, Citibank, N.A., Indonesia menyebutkan bahwa Indonesia akan menghadapi tiga tantangan ekonomi pada tahun depan. Chief Economist Citibank Indonesia (Citi Indonesia), Helmi Arman mengatakan, tantangan pertama adalah perkiraan terjadinya resesi secara bergilir di negara maju. Menurutnya, karena negara di Eropa hadapi inflasi tinggi dan ketegangan geopolitik, maka Eropa akan masuk resesi terlebih dahulu.

Kemudian, paruh pertama tahun depan resesi akan terjadi pada Amerika Serikat (AS). "Tentunya, dengan outlook global yang menantang, industri-industri tertentu akan terdampak," ujarnya dalam konferensi pers beberapa waktu lalu.

Kedua, kenaikan biaya dana di korporasi. "Ini terjadi di seluruh dunia, pengaruhnya bagi korporasi dalam mencari pembiayaan dari luar negeri," ujarnya.

Ketiga, penurunan penanaman modal asing atau foreign direct investment (FDI). "Ini karena krisis energi di Eropa, biaya manufaktur naiknya tinggi sekali, setahun terakhir 45 persen secara tahunan (year on year/yoy)," ungkapnya.

Meski begitu, menurutnya Indonesia relatif siap menghadapi tiga tantangan tersebut. "Bantalan dari sisi ekspor Indonesia masih cukup besar. Porsi komoditas mentah seperti batu bara jadi bantalan tahun depan," ungkapnya. Harga dari batu bara walau turun, tapi diperkirakan jauh lebih tinggi dibandingkan 2021.

Kemudian, inflasi di Indonesia juga relatif lebih terkendali. Citibank Indonesia awalnya memperkirakan inflasi Indonesia pada level 6,5 persen. Kemudian, perkiraan itu diturunkan jadi di bawah 6 persen.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Resesi ekonomi global bank asing uob dbs citibank
Editor : Aprianto Cahyo Nugroho
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

back to top To top