Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Raih Laba Rp4,26 Triliun pada 2022, BSI (BRIS) Ungkap Dampak Merger

Bank Syariah Indonesia atau BSI (BRIS) mengungkap dampak merger terhadap raihan lama Rp4,26 triliun pada 2022.
Nasabah bertransaksi di salah satu pusat anjungan tunai mandiri (ATM) Bank Syariah Indonesia di Jakarta, Senin (9/1/2022). /Bisnis-Arief Hermawan P
Nasabah bertransaksi di salah satu pusat anjungan tunai mandiri (ATM) Bank Syariah Indonesia di Jakarta, Senin (9/1/2022). /Bisnis-Arief Hermawan P

Bisnis.com, JAKARTA – PT Bank Syariah Indonesia Tbk. (BRIS) mencatatkan laba Rp4,26 triliun pada 2022, tumbuh 42,3 persen secara tahunan (year on year/yoy) dibandingkan perolehan laba pada 2021 yang mencapai Rp3,02 triliun. Direktur Utama BSI Hery Gunardi mengatakan bahwa kinerja moncer BSI tidak lepas dari dampak merger.

"BSI masuk tahun kedua merger. Dampak merger membawa dampak positif ke perbankan syariah," katanya dalam paparan kinerja BSI triwulan IV 2022 pada Rabu (1/2/2023).

Berdasarkan laporan keuangan, BSI mencatatkan pendapatan penyaluran dana 10 persen yoy dari Rp18,6 triliun per Desember 2021 menjadi Rp20,46 triliun per Desember 2022.

Dari sisi rasio profitabilitas, BSI mencatatkan peningkatan net operating margin (NOM) 42 basis poin (bps) menjadi 2,17 pada 2022. Bank berkode emiten BRIS ini juga mencatatkan return on equity (ROE) sebesar 16,84 persen dan return on asset (ROE) 1,98 persen sepanjang 2022.

Direktur Finance & Strategy BSI Ade Cahyo Nugroho juga mengatakan bahwa merger memang telah memberi dampak positif bagi kinerja keuangan BSI.

"Merger memberikan skala dan jumlah nasabah yang besar," imbuhnya. 

BSI sendiri mencatat jumlah nasabah 17,78 juta pada 2022 naik dibandingkan tahun sebelumnya 15,93 juta nasabah. Sementara itu, jumlah aset BSI juga melesat setelah merger. Pada 2022, BSI mencatatkan jumlah aset Rp306 triliun, naik 15 persen yoy.

Kemudian, perseroan juga mencatatkan pembiayaan sebesar Rp208 triliun pada 2022, naik 21,3 persen yoy. Pertumbuhannya ditopang oleh kemampuan BSI dalam menjaga kualitas pembiayaan. 

Rasio pembiayaan macet atau nonperforming financing (NPF) gross BSI turun dari 2,9 persen per 2021 menjadi 2,4 persen per 2022. Lalu, NPF nett BSI juga turun dari 0,8 persen per 2021 menjadi 0,5 pada tahun lalu.

Dari sisi pendanaan, BSI juga mencatat peningkatan dana simpanan wadiah berupa giro dan tabungan, yakni 13,28 persen yoy menjadi Rp66,01 triliun. Kemudian, dana investasi non profit sharing naik 11,06 persen ke angka Rp195,47 triliun.

Kemudian, peningkatan laba BSI juga terdorong oleh pendapatan berbasis komisi atau fee based income yang naik 25 persen dari Rp1,2 triliun pada 2021 menjadi Rp1,5 triliun pada 2022. Hal ini membuat laba operasional BSI naik dari Rp4,09 triliun pada akhir 2021 menjadi Rp5,64 triliun pada 2022.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper