BNI Minta Restu Stock Split di RUPSLB, Simak Emiten Bank Jumbo Telah Lakukan Aksi Serupa

Bank Negara Indonesia (BBNI) atau BNI tengah meminta restu pemecahan nilai saham dengan rasio 1:2 dalam RUPSLB besok (19/9/2023).
Gedung BNI/Istimewa
Gedung BNI/Istimewa

Bisnis.com, JAKARTA -- PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk. (BBNI) atau BNI akan melakukan pemecahan saham atau stock split dengan rasio 1:2. Rencana aksi korporasi ini akan dimintakan persetujuan pada rapat umum pemegang saham luar biasa (RUPSLB) pada esok, Selasa (18/9/2023).

Aksi stock split Meski ini merupakan pertama kalinya BBNI lakukan meski bank cikal bakal Bank Indonesia itu IPO pada November 1996.

Sebagai informasi, stock split merupakan aksi korporasi memecah nominal harga saham sesuai rasio tertentu yang menyebabkan harga saham per lembar menjadi lebih murah dan transaksi akan semakin aktif.

Adanya aksi korporasi dalam bentuk stock split diharapkan mampu menarik investor menjadi lebih banyak, terutama investor ritel. Emiten yang melakukan stock split biasanya merupakan emiten yang memiliki fundamental bagus tapi harga sahamnya telah mencapai titik jenuh.

Berdasarkan keterbukaan informasi, Manajemen BNI akan menggelar Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) guna meminta persetujuan stock split

"Perseroan menyampaikan pemanggilan kepada para pemegang saham bahwa perseroan akan menyelenggarakan RUPSLB Tahun 2023," tulis Corporate Secretary BNI Okki Rushartomo pada Selasa (29/8/2023). 

RUPSLB BNI sendiri akan digelar pada 19 September 2023 pukul 14.00 WIB di Ballroom Menara BNI Lantai 6, Jakarta Pusat.

Mengacu pada prospektusnya, manajemen BBNI menjelaskan tujuan melaksanakan stock split untuk meningkatkan demand atas saham perseroan dengan memperluas basis investor.

Lantas, mana saja perbankan yang pernah melakukan aksi stock split? Berikut catatan Bisnis: 

1. Bank Mandiri 

PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. (BMRI) pernah melakukan stock split saham sebanyak dua kali. 

Aksi korporasi kedua ini, kala BMRI menetapkan nilai nominal saham seri B perseroan setelah stock split adalah Rp125 per saham dengan jumlah saham sebesar 93,33 miliar (93.333.333.332) saham.

"Telah menyetujui pelaksanaan pemecahan saham perseroan dengan rasio 1:2 atau dari Rp250 per saham menjadi Rp125 per saham," jelas manajemen BMRI dalam keterbukaan informasi, Rabu (29/3/2023).

Direkur Utama BMRI Darmawan Junaidi menjelaskan bahwa keputusan tersebut diharapkan dapat mendorong peningkatan likuiditas perdagangan saham di Bursa Efek Indonesia (BEI).  

"Keputusan pemecahan saham ini tentunya telah melalui proses dan kajian yang mendalam untuk turut meningkatkan minat investasi, dan pada saat yang sama, juga meningkatkan inklusi keuangan di Tanah Air, sejalan dengan komitmen Bank Mandiri,” jelasnya, dalam konferensi pers beberapa waktu lalu.

Lebih lanjut, stock split BMRI dilakukan sebagai upaya perluasan distribusi kepemilikan saham melalui penyesuaian harga saham sehingga mencapai trading range yang optimal untuk menjangkau berbagai lapisan investor.Sebagai informasi, perseroan juga pernah melakukan aksi serupa pada enam tahun silam, di mana Bank Mandiri menggelar aksi stock split pada 13 September 2017 dengan rasio sebesar 1:2.

2. BRI

PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. pernah mengalami dua kali pemecahan saham yaitu pada Januari 2011 dan November 2017. Terbaru, pada Oktober 2017, melalui RUPSLB disepakati PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. melakukan stock split saham BBRI dengan rasio 1:5.

“Dengan adanya stock split maka harga saham BBRI akan lebih terjangkau oleh masyarakat sehingga diharapkan likuiditas perdagangan akan semakin meningkat. Pemecahan nominal saham juga merupakan sinyal kuat yang mencerminkan optimistis perseroan terhadap pertumbuhan bisnis BBRI ke depan," ujar Suprajarto kala itu. Adapun, hal ini bersamaan dengan PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. yang memperingati 14 tahun perseroan melantai di Bursa Efek indonesia sejak 10 November 2003.

Sebelumnya, PT Bank Rakyat Indonesia Tbk melakukan stock split saham dengan rasio 1:2 pada 11 Januari 2011. 

Sekretaris Perusahaan BRI Muhammad Ali menyatakan pemecahan nilai nominal saham itu dilakukan dari Rp500 per lembar saham menjadi Rp250 per lembar per 11 Januari 20211. Keputusan itu merupakan hasil Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa Bank BRI pada 24 November 2010.

3. BCA

PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA) tercatat kerap melakukan aksi stock split.  Teranyar, dalam rapat umum pemegang saham luar biasa (RUPSLB), yang menyetujui aksi korporasi pemecahan saham yang beredar (stock split). Pemegang saham memberikan restu atas aksi korporasi stock split dengan rasio 1 : 5 pada 13 Oktober 2021 (1 saham yang ada saat ini dipecah menjadi 5 saham baru).

Ini merupakan stock split keempat kali yang dilakukan BCA semenjak melantai di Bursa pada tahun 2000 di harga Rp1.400 per saham. Di mana, hal ini dilakukan untuk menarik perhatian investor ritel.

Kala itu Corporate Secretary BCA, Raymon Yonarto mengatakan banyak investor muda yang meminta BCA untuk melakukan stock split dengan rasio 1:5. Hal ini dikarenakan harga saham BBCA saat ini dinilai cukup mahal untuk para investor muda.  

"Kan harga saham BCA sudah sampai Rp 30.000, sepertinya buat mereka jumlahnya cukup signifikan, terlalu tinggi ,” ujar Raymon dalam public expose live, Rabu (8/9/2021).

Sehingga, stock split ini pun dilakukan oleh BCA untuk memberikan kesempatan kepada investor ritel dan investor muda agar bisa berpartisipasi untuk membeli saham BBCA. Pasalnya, selama ini mayoritas kepemilikan saham BBCA dimiliki investor institusi.Adapun, aksi stock split pertama kali yang dilakukan BCA yakni pada 15 Mei 2001 dengan rasio 1:2 sehingga nilai nominalnya turun dari Rp500 menjadi Rp250, sehingga jumlah saham beredar naik dari 2,94 miliar saham menjadi 5,88 miliar saham.

BCA kembali melakukan stock split pada 8 Juni 2004 dengan rasio 1:2 sehingga nominal kembali turun menjadi Rp125 dan jumlah saham beredar naik menjadi 12,26 miliar saham. 

Pada 2008, BBCA kembali memecah sahamnya dengan rasio yang sama yakni 1:2 sehingga nominal sahamnya menjadi Rp62,5 dan jumlah saham beredar kembali naik menjadi 24,65 miliar saham. 

Nilai nominal per saham BBCA saat ini adalah Rp62,5, sedangkan nilai nominal per saham BBCA setelah stock split akan menjadi sebesar Rp12,5.

4. Bank Panin

Selanjutnya, PT Bank Pan Indonesia Tbk. yang tercatat tiga kali melakukan aksi stock split yakni Mei 1997, Oktober 1999, dan September 2002.

Melansir dari situs resminya, pada  September 2002, Perseroan melakukan pemecahan nilai nominal saham (stock split) dimana setiap satu lembar saham lama dengan nilai nominal Rp500 per lembar saham dipecah menjadi dua saham baru dengan nilai nominal Rp250 per lembar saham. 

Saham dengan nilai nominal baru tersebut mulai dicatatakan di Bursa Efek Jakarta pada tanggal 23 September 2002

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Penulis : Arlina Laras
Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper