Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Ada Pedagang Masih Ogah Pakai QRIS, BI Upayakan Percepatan Settlement

Saat ini BI mendorong penyedia jasa pembayaran (PJP) QRIS agar mempercepat masuknya uang masuk ke merchant (settlement) setelah transaksi selesai.
Pembeli melakukan pembayaran melalui pemindaian QRIS di Pasar Minggu, Rabu (2/8/2023). Bisnis/Arief Hermawan P
Pembeli melakukan pembayaran melalui pemindaian QRIS di Pasar Minggu, Rabu (2/8/2023). Bisnis/Arief Hermawan P

Bisnis.com, JAKARTA – Masih banyak pedagang yang enggan mengadopsi metode pembayaran dengan standar pembayaran berbasis QR code alias quick response code Indonesian standard (QRIS), di antara alasannya karena lamanya uang masuk atau settlement saat memakai QRIS.

Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI) Filianingsih Hendarta mengatakan memang saat ini BI sedang mendorong penyedia jasa pembayaran (PJP) QRIS seperti bank agar mempercepat masuknya uang masuk ke merchant setelah transaksi QRIS selesai.  

"Kita juga lihat PJP sedang berusaha mempercepat disbursment dana ke merchant," katanya dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI pada Rabu (20/3/2024).

Saat ini menurutnya hampir 55% PJP bisa menyelesaikan settlement atau proses penyelesaian dari transaksi pembayaran QRIS dalam H+0 atau pada hari yang sama. "Ada beberapa bank settlement dua kali dalam sehari. Ini upaya percepatan," tuturnya.

Sementara itu, masih banyak pedagang yang enggan memakai QRIS karena sejumlah alasan. Samsul pemilik toko Alfaha di Blok B Tanah Abang misalnya memilih untuk tetap mengandalkan pembayaran secara tunai, meski kerap kali disuguhi skema baru dengan QRIS di kiosnya.

Dia beralasan, proses masuknya uang setelah transaksi lama, bisa sehari setelahnya. Padahal, dia membutuhkan dana untuk keperluan penyediaan barang dengan cepat. "Setahu saya QRIS itu susah. Masuk uangnya lama. Banyak kasus sih," katanya kepada Bisnis saat ditemui di kiosnya pada Selasa (19/3/2024).

Dia juga mengatakan transaksi yang ada di kiosnya serta pedagang lain di Tanah Abang cukup deras. Apalagi momen ramadan dan lebaran transaksi bisa naik dua kali lipat. Alhasil, pedagang merasa rumit untuk mencocokkan jumlah transaksi dengan barang terjual.

Pemilik RL Muslim Fashion di Blok F Tanah Abang, Muhammad Reza juga memilih tidak memakai QRIS untuk kebutuhan pembayaran di kiosnya. Dia sempat menolak memakai QRIS ketika ditawari layanan tersebut oleh perbankan.

"Alasannya, ada kendala agak lama dikit masuk uangnya. Walau saya dikasih QRIS, enggak pernah dipakai. Di pembeli juga rata-rata cash, kadang transfer saja," ungkapnya.

Astrid pemilik kios Astrid Busana di blok A Tanah Abang juga mengatakan lebih memilih untuk tidak menggunakan QRIS karena pembelinya belum banyak yang bertransaksi non-tunai. "Pembeli di sini jarang juga pakai QRIS," katanya.

Kalau pun ada pembeli yang memilih bertransaksi secara non-tunai, Astrid menyediakan pilihan transfer ke rekening perbankan miliknya yakni BCA dan BSI.

Berdasarkan pantauan Bisnis, di Tanah Abang, para pedagang masih banyak yang mengandalkan pembayaran secara tunai. Dalam satu blok, hanya satu atau dua kios saja yang menyediakan pembayaran dengan QRIS.

Kalaupun menyediakan pembayaran secara non-tunai, pedagang hanya memanfaatkan nomor rekening sejumlah bank saja untuk kebutuhan transfer.

Meski begitu, di tengah masih adanya keengganan kalangan masyarakat memakai QRIS, nyatanya penggunaan QRIS kian melesat. BI mencatat, nominal transaksi QRIS tumbuh 161,51% secara tahunan (year on year/yoy), dengan jumlah pengguna mencapai 46,98 juta dan jumlah merchant mencapai 31,27 juta.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper