Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Pasang Surut Laba Bank KBMI III pada Kuartal I/2024, Banyak yang Susut?

Kinerja keuangan bank kelas dua alias KBMI III tengah pasang surut, di mana sederet bank sukses mencapai pertumbuhan laba, sementara sisinya harus terpuruk.
Kinerja keuangan bank kelas dua alias KBMI III tengah pasang surut, di mana sederet bank sukses mencapai pertumbuhan laba, sementara sisinya harus terpuruk. /Bisnis-Eusebio Chrysnamurti
Kinerja keuangan bank kelas dua alias KBMI III tengah pasang surut, di mana sederet bank sukses mencapai pertumbuhan laba, sementara sisinya harus terpuruk. /Bisnis-Eusebio Chrysnamurti

Bisnis.com, JAKARTA — Pasang surut kinerja keuangan tengah dialami bank kelas dua alias KBMI III, di mana sederet bank sukses mencapai pertumbuhan laba, sementara sisinya harus terpuruk pada awal 2024.

Berdasarkan laporan bulanan, bank pelat merah seperti PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk. (BBTN) dan anak usaha BUMN seperti PT Bank Syariah Tbk. alias BSI (BRIS) mampu membukukan kenaikan laba bersih per Februari 2024.

Tercatat laba BTN mencapai Rp555,76 miliar, tumbuh 4,4% dari sebelumnya Rp532,33 miliar pada Februari 2023.

Direktur Utama BTN Nixon L.P. Napitupulu mengatakan dari sisi kinerja keuangan, BTN telah mencapai level tertinggi sepanjang sejarah atau all time high pada 2023.

"Masa kesulitan sudah lewat, hari ini recovery dan jaga growth agar baik," katanya dikutip Rabu (17/4/2024).

Sementara, cuan BSI juga terpantau moncer, tumbuh 16,31% mencapai Rp1,06 triliun dari sebelumnya Rp907,08 miliar.

Direktur Utama BSI Hery Gunardi menyebut keyakinannya untuk mempertahankan pertumbuhan laba bersih di atas 30% pada 2024.

BSI pun menyiapkan sejumlah strategi untuk menjaga pertumbuhan laba itu, salah satunya adalah mendongkrak pembiayaan yang menghasilkan margin bagi hasil. BSI sendiri menargetkan penyaluran pembiayaan tumbuh di level 16% sampai 18% pada 2024.

Selain itu, BSI mendorong dari sisi pendapatan berbasis komisi (fee based income). BSI menargetkan pertumbuhan FBI di atas 10% pada 2024.

"Ini [fee based income] bersumber dari transaksi treasury, investasi syariah, reksadana dan lainnya. Ada juga fee admin deposit hingga transaksi digital," tutur Hery.

Pemain lain yang juga mencatatkan pertumbuhan laba signifikan pada Februari 2024 adalah PT Bank Permata Tbk. (BNLI) sebesar 58,83%. Per Februari 2024 laba BNLI mencapai Rp604,93 miliar dari periode yang sama tahun sebelumnya Rp380,86 miliar pada Februari 2023.

Selanjutnya, Panin Bank (PNBN) juga mencatatkan kenaikan laba hingga 71,52% menjadi Rp525,3 miliar pada Februari 2024 dari sebelumnya Rp306,27 miliar pada Februari 2023.

Tak mau kalah, kelompok keuangan Singapura PT Bank OCBC NISP Tbk. (NISP) membukukan  pertumbuhan laba sebesar 33,73% menjadi Rp759,54 miliar dari sebelumnya Rp567,98 miliar.

Selain itu, PT Bank HSBC Indonesia (HSBC Indonesia) mencatat kenaikan laba 12,18% menjadi Rp549,35 miliar dari sebelumnya Rp489,72 miliar.

Terjadi Penyusutan Laba

Sayangnya, sederet bank seperti PT Bank CIMB Niaga Tbk. (BNGA) Cs mengalami penurunan kinerja per Februari 2024.

Laba CIMB Niaga turun 4,69% menjadi Rp948,89 miliar dari sebelumnya Rp995,6 miliar pada Februari 2023. Kemudian, PT Bank Danamon Indonesia Tbk. (BDMN) juga turun 13,81% menjadi Rp480,44 miliar dari sebelumnya Rp557,43 miliar.

Penyusutan cuan pada awal tahun juga terjadi pada PT Bank Mega Tbk. (MEGA) sebesar 34,4% menjadi Rp391,08 miliar dari sebelumnya Rp596,17 miliar.

Bahkan, PT Bank UOB Indonesia juga mengalami penyusutan laba hingga 68,38% per Februari 2024 menjadi Rp75,75 miliar dari sebelumnya Rp239,54 miliar.

Adapula PT Bank BTPN Tbk. dan Maybank Indonesia yang membukukan penyusutan laba masing-masing sebesar 50,34% dan 61,67%. Di mana, per Februari 2024 laba Bank BTPN mencapai Rp208,89 miliar dan Maybank sebesar Rp80,56 miliar.

Senior Vice President Lembaga Pengembangan Perbankan Indonesia (LPPI) Trioksa Siahaan mengatakan laba bank KBMI III dapat bertumbuh namun tidak secemerlang tahun sebelumnya.

Hal ini karena, adanya tekanan dari eksternal seperti geopolitik, ancaman inflasi dan nilai tukar rupiah hingga kondisi likuiditas yang membuat biaya dana lebih tinggi.

Nantinya, kinerja cuan para pemain perbankan bakal membaik seiring dengan pulihnya kondisi ekonomi dan meredanya tekanan geopolitik.

“[Sementara] dari sisi internal, ketika bank dapat meningkatkan efisiensi operasional dan menjaga kualitas kredit atau rasio kredit bermasalah [nonperforming loan] di level rendah,” ujarnya pada Bisnis, Rabu (17/4/2024).

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Penulis : Arlina Laras
Editor : Ibad Durrohman
Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper