Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Permintaan KPR hingga Kartu Kredit Lesu di Tengah Tren Suku Bunga Tinggi

Permintaan kredit pemilikan rumah (KPR) hingga kartu kredit akan mengalami tren lesu di tengah kenaikan suku bunga acuan.
Ilustrasi suku bunga perbankan./ Dok. Freepik.
Ilustrasi suku bunga perbankan./ Dok. Freepik.

Bisnis.com, JAKARTA -- Bank Indonesia (BI) mencatat permintaan kredit rumah tangga seperti kredit pemilikan rumah (KPR) hingga kartu kredit akan mengalami tren lesu seiring dengan kenaikan suku bunga acuan.

Berdasarkan Survei Permintaan dan Penawaran Pembiayaan Perbankan yang dirilis BI, pada Maret 2024 permintaan pembiayaan oleh rumah tangga mengalami tren perlambatan.

Responden rumah tangga yang melakukan penambahan pembiayaan melalui utang atau kredit pada Maret 2024 mencapai 10,9% dari total responden, menyusut dibandingkan bulan sebelumnya yang tumbuh 12,5%.

Sumber utama pemenuhan pembiayaan rumah tangga pada Maret 2024 berasal dari pinjaman bank umum dengan pangsa sebesar 41,2%. Sementara itu, alternatif sumber pembiayaan lain yang digunakan untuk memenuhi kebutuhan pembiayaan rumah tangga adalah leasing dan koperasi.

Berdasarkan jenis penggunaan, mayoritas pembiayaan yang diajukan oleh responden rumah tangga pada Maret 2024 adalah kredit multi guna (KMG) sebesar 35%, menurun dibandingkan periode sebelumnya 37,7%. Responden yang mengajukan KPR pun mengalami penyusutan dari 11,5% menjadi 10,3%.

"Rencana penambahan pembiayaan oleh rumah tangga ke depan diprakirakan relatif stabil," tulis BI dalam surveinya pada Senin (29/4/2024).

Porsi responden yang berencana mengajukan pembiayaan ke depan tercatat sebesar 6,8%. Bank umum diprakirakan masih menjadi sumber utama pembiayaan rumah tangga ke depan, yakni sebesar 52,9%, meski tidak sebesar hasil survei periode sebelumnya sebesar 59,6%.

Lebih lanjut, alternatif pembiayaan rumah tangga ke depan adalah koperasi dan leasing, dengan pangsa masing-masing sebesar 16,6% dan 12,5%.

Sementara itu, responden yang berencana mengajukan KPR ke depan menurun dari 20% menjadi 19,4%. Pengajuan KPR ke depan juga turun dari 2,8% menjadi 1,3%.

Laju permintaan kredit terjadi di tengah kenaikan suku bunga acuan BI. Keputusan menaikan suku bunga acuan diambil BI dalam agenda Rapat Dewan Gubernur (RDG) periode 23-24 April 2024.

BI rate pun kini menyentuh level 6,25%, naik 25 basis poin (bps) setelah sebelumnya tertahan di level 6% sejak Oktober 2023.

Kenaikan bunga acuan tersebut dinilai akan berdampak terhadap kinerja kredit perbankan, termasuk kredit sektor rumah tangga.

Senior Faculty Lembaga Pengembangan Perbankan Indonesia (LPPI) Amin Nurdin mengatakan kenaikan suku bunga acuan BI akan memberi dampak terhadap perlambatan kredit dalam jangka waktu 6 bulan ke depan. 

"Manakala pertumbuhan kredit melemah dan beberapa debitur mengalami kesulitan pembayaran, ini akan memengaruhi NPL [nonperforming loan/kredit bermasalah] bank. Akhirnya akan mempengaruhi kinerja secara umum nantinya," ujar Amin kepada Bisnis pada pekan lalu (25/4/2024).

Begitu juga dengan kredit rumah tangga seperti KPR yang tersengat kenaikan suku bunga acuan. Meskipun, menurutnya bunga KPR perbankan tidak akan langsung naik. "Perlu waktu 3 sampai 6 bulan dan idealnya 100 basis poin [bps]," jelas Amin.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper