Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

BISNIS INDONESIA AWARD 2014: Profil Nominee Sektor Aneka Industri

Berikut ini daftar nominee Bisnis Indonesia Award 2014 di sektor aneka industri.
Gajah Kusumo
Gajah Kusumo - Bisnis.com 24 Juni 2014  |  10:26 WIB
Kegiatan Bisnis Indonesia Award.   -  Bisnis.com
Kegiatan Bisnis Indonesia Award. - Bisnis.com

Bisnis.com, JAKARTA--Harian Bisnis Indonesia hari ini menggelar Bisnis Indonesia Award (BI Award) sebagai ajang pemberian penghargaan tahunan kepada perusahaan yang sahamnya diperdagangkan di bursa efek Indonesia dan perusahaan pendukung lain di pasar finansial.

Berikut ini daftar nominee Bisnis Indonesia Award 2014 di sektor aneka industri.

SEKTOR ANEKA INDUSTRI

PT Indomobil Sukses Internasional Tbk (IMAS)

PT Indomobil Sukses Internasional Tbk (Perseroan) merupakan suatu kelompok usaha terpadu yang memiliki beberapa anak perusahaan yang bergerak di bidang otomotif yang terkemuka di Indonesia.
Perseroan didirikan pada 1976 dengan nama PT. Indomobil Investment Corporation dan pada 1997 dilakukan penggabungan usaha (merger) dengan PT. Indomulti Inti Industri Tbk.
Sejak saat itulah status perseroan berubah menjadi perusahaan terbuka dengan nama PT. Indomobil Sukses Internasional Tbk.
Bidang usaha utama perseroan yang dikelola oleh Jusak Kertowidjojo  meliputi pemegang lisensi merek, distributor penjualan kendaraan, layanan purna jual, jasa pembiayaan kendaraan bermotor, distributor suku cadang dengan merek IndoParts, perakitan kendaraan bermotor, produsen komponen otomotif serta kelompok usaha pendukung lainnya.
Perseroan mengelola merk-merk terkenal dengan reputasi internasional yang meliputi Audi, Foton, Great Wall, Hino, Kalmar, Liugong, Manitou, Nissan, Renault, Renault Trucks, Suzuki, Volkswagen, Volvo, Volvo Trucks, dan Mack Trucks.
Sepanjang 2013 PT Indomobil Sukses Internasional Tbk (IMAS) meraih laba  Rp532,46 miliar, turun sekitar 33,6% dibandingkan dengan tahun sebelumnya Rp801,73 miliar. Penurunan laba dipicu pembengkakan beban usaha sebanyak 9,8% sehingga laba usaha terpangkas dari Rp1,04 triliun menjadi Rp951 miliar.
Adapun penjualan bersih sepanjang tahun lalu naik tipis 1,6% menjadi Rp20,09 triliun, dari tahun sebelumnya Rp19,78 triliun. Penurunan laba membuat laba bersih per saham IMAS menyusut menjadi Rp193, dari Rp290 per saham.


PT Nipress Tbk (NIPS)

Nipress berdiri pada  November 1970 dan menjadi satu-satunya perusahaan publik terdaftar  pada perdagangan saham di Bursa Efek Jakarta untuk produsen baterai timbal di Indonesia sejak 1991.
Perseroan yang dipimpin oleh Jackson Tandiano ini memproduksi jajaran produk baterai mobil, baterai motor, baterai mobil golf dan motive power battery terlengkap.    
Emiten yang bergerak dalam produksi baterai otomotif dan industri itu berencana untuk membangun pabrik baru di kuartal II/2014 untuk mendukung ekspansi dan target pertumbuhan pendapatan perseroan di tahun ini.
Pengembangan pabrik dan penambahan mesin yang membutuhkan waktu sekitar 1 tahun tersebut membutuhkan investasi mencapai Rp337,8 miliar dengan menggunakan sumber pembiayaan yang berasal dari dana hasil right issue sekitar Rp147,1 miliar dan sisanya Rp170,7 miliar menggunaan pendanaan dari bank.
Pembangunan pabrik baru tersebut diprediksi akan mendorong pertumbuhan penjualan baterai industri mencapai 40% di tahun ini. Pertumbuhan penjualan tersebut juga disebabkan tingginya permintaan pasar, dan posisi perseroan sebagai satu-satunya produsen baterai industri di Indonesia dinilai menguntungkan.
Dengan peluang bisnis yang masih besar di sektor di baterai industri, perseroan di tahun ini fokus untuk mengembangkannya dan menambah kapasitas produksi dengan pembangunan pabrik baru di daerah Cileungsi Bogor.
Melalui pengembangan industrial battery itu, kinerja keuangan perseroan akan terdongkrak, di tahun ini, di mana penjualan ditargetkan tumbuh 35% atau bisa mencapai Rp1,2 triliun. Angka tersebut juga diprediksi akan tumbuh lebih tinggi setelah pembangunan pabrik rampung.
Adapun, di sepanjang tahun lalu perseroan berhasil mencatatkan pertumbuhan pendapatan hingga 29,64% menjadi Rp911,06 miliar dibandingkan dengan perolehan tahun sebelumnya sebanyak Rp702,72 miliar.
Namun, laba komprehensif perseroan melemah 22,12% dari Rp43,49 miliar menjadi Rp33,87 miliar karena tertekan meningkatnya beban bunga dan keuangan sebanyak 46,78% menjadi Rp31,28 miliar dan naiknya beban pajak penghasilan sebanyak 51% menjadi Rp11,71 miliar.


PT Polychem Indonesia Tbk (ADMG)

PT Polychem Indonesia Tbk, yang sebelumnya bernama PT GT Petrochem Industries Tbk (ADMG) dan berdiri pada 25 April 1986,  adalah produsen serat sintetis yang memiliki dua divisi bisnis, yaitu poliester dan kimia.
Perusahaan yang dimiliki oleh grup Gajah Tunggal dan Yasinta ini dikomandoi oleh Gautama Hartarto.
Emiten berkode saham ADMG ini  membukukan laba bersih selama 9 bulan pertama tahun 2013 sebesar US$9,82 juta, atau meningkat sebesar 12% dari periode yang sama 2012, sebesar US$8,78 juta.
Perusahaan itu juga mencatat kenaikan penjualan sebesar 2,3% menjadi  US$374,37 juta  dibandingkan dengan penjualan pada periode yang sama 2012 sebesar US$366,03 juta.
Adapun komposisi penjualan hingga September 2013, produk kimia masih memberikan kontribusi pendapatan terbesar, yaitu 44.4% dari total atau US$166 juta. Kontribusi terbesar selanjutnya ditempati oleh polyester sebesar 42.3% atau US$158 juta, sementara produk nylon menyumbang sebesar 13.3% atau US$50 juta.
Sementara itu,  nilai debt ratio 42%, turun dibandingkan akhir 2012, yakni 47%. Debt to equity ratio per 30 September 2013 sebesar 56%, turun dibanding per 31 Desember 2012 sebesar 72%.
Nilai ekuitas yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk tercatat US$330 juta, meningkat sebesar 3% dibanding posisi per 31 Desember 2012. Net working capital per September 2013 juga meningkat sebesar 35% menjadi US$126 juta dibandingkan Desember 2012.

PT Star Petrochem Tbk (STAR)

PT.Star Petrochem Tbk didirikan berdasarkan akta No.34 tanggal 19 Mei 2008 dari Pahala Sutrisno Amijojo Tampubolon, S.H., notaris di Jakarta dengan nama PT.Star Asia International, yang kemudian dengan akta No.35 tanggal 13 Oktober 2010 dari Yulia, S.H., notaris di Jakarta, diubah namanya menjadi PT.Star Petrochem, Tbk.
Pada 2013, emiten berkode saham STAR yang dikelola oleh Asep Mulyana, meraih kenaikan pendapatan sebesar 33,9% menjadi Rp274,14 miliar, dibandingkan dengan pendapatan tahun sebelumnya  Rp204,74 miliar.
Laporan keuangan 2013 menyebutkan beban pokok penjualan naik menjadi Rp226,39 miliar, dari sebelumnya Rp160,89 miliar dan laba kotor naik menjadi Rp47,75 miliar, dari Rp43,84 miliar.
Adapun beban usaha naik menjadi Rp9,64 miliar, dari sebelumnya Rp9,37 miliar, sedangkan laba usaha naik menjadi Rp38,11 miliar, dari laba usaha tahun sebelumnya Rp34,46 miliar.


PT Tifico Fiber Indonesia (TFCO)

PT Tifico Fiber Indonesia, Tbk semula didirikan dengan nama PT Teijin Indonesia Fiber Corporation pada 25 Oktober 1973 dan memulai kegiatan produksi komersial pertama pada Juli 1976.
TIFICO merupakan salah satu produsen serat polyester terkemuka di Indonesia dengan kapasitas produksi 200.000 ton/tahun dan menghasilkan produk dengan kualitas mutu yang baik dan harga yang bersaing untuk Polyester Filament Yarn (PFY), Polyester Staple Fiber (PSF) dan Polyester CHIP.
Pada tanggal 15 April 2010, perseroan yang dipimpin oleh Anton Wiratama itu diambil alih oleh sebuah konsorsium, sehingga namanya diganti menjadi PT Tifico Fiber Indonesia, Tbk
Emiten berkode saham TFCO itu mengalokasikan belanja modal pada tahun ini senilai US$13 juta atau Rp154,45 miliar yang terutama dialokasikan untuk power plant seiring dengan kenaikan tarif dasar listrik.
Pada kuartal I/2014, TFCO sudah menggunakan belanja modal senilai US$2,7 atau Rp32 miliar untuk membeli mesin. Alokasi belanja modal emiten ini pada tahun ini diambil dari kas internal dan pinjaman bank dengan porsi 50:50.
Tifico berhasil mencatatkan peningkatan laba bersih sebesar 31,17% menjadi US$878,81 ribu dari tahun sebelumnya US$604,88. Tapi, penjualan TFCO mengalami penurunan sebesar 4,25% menjadi US$78,78 juta, dari tahun sebelumnya US$82,28 juta.
Pada 2013, TFCO mencatatkan kerugian senilai US$9 juta atau Rp106,93 miliar. Padahal tahun sebelumnya emiten ini mencatatkan laba senilai US$8 juta atau Rp95,05 miliar. Penjualan TFCO juga mengalami penurunan sebesar 15,27% menjadi US$305 juta dari tahun sebelumnya senilai US$360 juta.
TFCO menargetkan penjualan pada 2014 meningkat 10% menjadi US$335,5 juta atau Rp3,98 triliun dibandingkan dengan tahun sebelumnya senilai US$305 juta atau Rp3,62 triliun. Emiten ini juga berencana meningkatkan harga produknya sebesar 1%.
Perseroan beralasan kenaikan sebesar 1% ini untuk menyeimbangkan kenaikan beban pokok penjualan yang semakin tinggi.

PT KMI Wire and Cable Tbk (KBLI)

PT KMI Wire and Cable Tbk didirikan pada 19 Januari 1972 sebagai penanaman modal asing oleh kabel –Und Metallwerke Quetehoffnung Shuette AG dari Jerman. Kegiatan produksinya dimulai pada 1974 di pabrik seluas 10 hektare di Cakung.
Sejak 1985, Gajah Tunggal Grup menjadi pemegang saham mayoritas perusahaan. Hubungan kerja tetap dijalin dengan kabel metal elektro Gmbh melalui bantuan perjanjian teknis yang meliputi pengembangan produk-produk baru.
Emiten berkode saham KBLI dan dipimpin oleh Herman Nursalim itu adalah pemasok kabel listrik tegangan rendah dan menengah untuk PT. PLN dan kabel–kabel telepon berisolasi padat (solid) dan berisolasi busa (foam) bagi PT. Telekomunikasi Indonesia Tbk.
Perusahaan yang tercatat di bursa sejak 1992 itu pada kuartal I/2014 membukukan laba bersih sebesar Rp14,69 miliar atau Rp3,67 per saham. Laba bersih kuartal I tahun 2014 menunjukan penurunan sebesar 48,64% bila dibandingkan dengan laba bersih pada kuartal I tahun 2013 sebesar Rp28,60 miliar atau Rp7,14 per saham.
Hal ini disebabkan oleh pendapatan pokok perseroan yang mengalami penurunan dari Rp588,77 miliar pada kuartal I tahun 2013 menjadi Rp495,18 miliar pada kuartal I tahun 2014.
Beban Pokok perseroan mengalami penurunan dari Rp521,15 miliar menjadi Rp454,61 miliar. Beban usaha dan Lainnya juga mengalami penurunan dari Rp28,04 miiliar menjadi Rp24,88 miliar.


PT Supreme Cable Manufacturing & Commerce (SCCO)

PT Supreme Cable Manufacturing & Commerce Tbk (SCCO) atau dikenal dengan Sucaco didirikan pada 9 November 1970 dan mulai beroperasi secara komersial pada 2 Oktober 1972.
Pada tahun ini, emiten berkode saham SCCO dan dipimpin oleh Elly Soepono itu membidik pendapatan sebesar Rp3,8 triliun pada tahun ini atau tumbuh konservatif hanya sebesar 1,3% dari pencapaian tahun lalu sebesar Rp3,75 triliun.
Tahun ini, SCCO memprediksi volume produksi kabel tembaga sebesar 28.000 ton, sedangkan kabel alumunium sebanyak 10.000 ton. Itu berasal dari empat pabrik yang dimiliki perseroan, yakni pabrik Daan Mogot (Jakarta Barat), Tangerang, Cikarang (Bekasi), dan Bekasi.
Kendati penjualan diprediksi tumbuh moderat, Sucaco memproyeksikan laba bersih sebesar Rp150 miliar pada tahun ini atau tumbuh 43,4% dari realisasi tahun lalu sebesar Rp104,6 miliar.
Lebih jauh, pada tahun ini, Sucaco mengalokasikan belanja modal sebesar Rp85 miliar yang sebagian besar digunakan untuk membeli mesin untuk memproduksi kabel optik.
Dari alokasi Rp85 miliar itu, dana sebesar Rp55 miliar di antaranya akan digunakan untuk penambahan aktiva tetap Sucaco, termasuk pembelian beberapa mesin. Adapun sisanya sebesar Rp30 miliar, untuk kegiatan pemeliharaan (maintenance) fasilitas produksi.
Pada perkembangan lain, Sucaco membagikan dividen sebesar Rp30,8 miliar atau 30% dari pencapaian laba bersih tahun lalu sebesar Rp104,6 miliar.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

bi award 2013 bi award
Editor : Setyardi Widodo

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode bisnis indonesia logo epaper

BisnisRegional

To top