NPL Tinggi dan Konsumsi Rumah Tangga Stagnan Bikin Permintaan Kredit Lesu

Bisnis.com, JAKARTA - Permintaan kredit bank di awal tahun ini masih sulit terdongkrak lantaran kredit bermasalah (non performing loan/NPL) yang masih cukup tinggi.
Abdul Rahman | 20 Februari 2018 13:35 WIB
Ilustrasi

Bisnis.com, JAKARTA - Permintaan kredit bank di awal tahun ini masih sulit terdongkrak lantaran kredit bermasalah (non performing loan/NPL) yang masih cukup tinggi.

Chief Economist PT Bank Danamon Indonesia Tbk Anton Hendranata mengatakan, per Desember 2017 rata-rata NPL perbankan memang sudah turun menjadi 2,6%. Namun, level tersebut masih tergolong tinggi apabila dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya.

"Tahun 2014 hanya 2,2%. Bahkan 2012-2013 bisa di bawah 2%," katanya kepada Bisnis, Selasa (20/2).

Hal tersebut ditambah dengan permintaan yang masih lemah karena pertumbuhan konsumsi rumah tangga yang stagnan di angka 5%.

Anton pernah memaparkan bahwa pertumbuhan kredit bank di Indonesia terlalu bergantung pada konsumsi khususnya konsumsi rumah tangga.

Berdasarkan riset Danamon, kredit konsumsi tumbuh 10,3% hingga November 2017. Angka tersebut naik dari periode yang sama tahun sebelumnya yang sebesar 8,8%.

"Sejak tahun 60-an kita terlalu bergantung pada sektor konsumsi. Porsinya bisa sampai 55%," imbuhnya.

Berdasarkan data Bank Indonesia, pertumbuhan kredit 2017 tercatat hanya tumbuh sebesar 8,2% (yoy). Meskipun demikian, angka tersebut lebih baik jika dibandingkan dengan pertumbuhan tahun sebelumnya sebesar 7,9% (yoy).

Rasio kredit bermasalah (non performing loan/NPL) bank juga membaik. Pada akhir tahun lalu NPL bank turun menjadi 2,6% (gross) atau 1,2% (net).

Tag : kredit bermasalah
Editor : Farodlilah Muqoddam

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top