Literasi Rendah Jadi Tantangan Utama Bank Syariah

Bisnis.com, JAKARTA Moody's Investor Service, penyedia jasa analisisi keuangan global, mengapresiasi langkah pemerintah Indonesia yang semakin serius mengeluarkan regulasi guna mendukung pengembangan keuangan syariah.
Abdul Rahman | 18 Maret 2018 20:51 WIB

 

 

 

 

Bisnis.com, JAKARTA — Moody's Investor Service, penyedia jasa analisisi keuangan global, mengapresiasi langkah pemerintah Indonesia yang semakin serius mengeluarkan regulasi guna mendukung pengembangan keuangan syariah.

Pada Juni 2017 Otoritas Jasa Keuangan (OJK) telah meluncurkan peta jalan keuangan syariah yang diikuti oleh pembentukan Komite Nasional untuk Keuangan Syariah (KNKS).

Namun demikian, Moody's menyoroti rendahnya penetrasi perbankan syariah di Indonesia. Bersama dengan Turki, penetrasi perbankan syariah masuk kategori rendah yakni di bawah 10%. Padahal, pengenalan bank syariah di kedua negara tersebut sudah sekitar dua dekade.

Padahal, baik Indonesia dan Turki memiliki potensi yang amat besar, terutama di daerah perdesaan. Masyarakat di kawasan rural seringkali kesulitan mencari produk keuangan yang sesuai dengan prinsip etika dan moral mereka.

Pelaksana Tugas Direktur Utama PT Bank BNI Syariah Abdullah Firman Wibowo mengatakan, meskipun pemerintah telah menerbitkan banyak regulasi untuk mendukung pengembangan keuangan syariah, tantangan paling besar yang dihadapi oleh para pelaku industri ini adalah minimnya pengetahuan masyarakat mengenai keuangan syariah itu sendiri.

"Indeks literasi perbankan syariah nasional di bawah 10%," katanya kepada Bisnis, belum lama ini.

Indeks literasi bank syariah jauh di bawah indeks literasi perbankan umum yang sebesar 28,94%. Itu menurut survei Otoritas Jasa Keuangan (OJK) pada 2016. Sementara itu, tingkat inklusi keuangan syariah tak kalah rendah, hanya 8%, sangat jauh jika dibandingkan indeks inklusi perbankan nasional yang sebesar 63%.

Di sisi lain, pendiri Karim Consulting Adiwarman Azwar Karim berpendapat bahwa hasil riset dari lembaga analisis seperti Moody's dan S&P terlalu pesimistis. Namun, dia setuju jika peran pemerintah harus ditingkatkan terutama dalam hal harmonisasi kebijakan dari berbagai otoritas. Hal tersebut pula yang melatarbelakangi dibentuknya KNKS yang dipimpin langsung oleh Presiden Joko Widodo.

Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia KH Ma'ruf Amin dalam peluncuran biografinya baru-baru ini mengutarakan keyakinannnya bahwa industri syariah Indonesia akan maju lebih cepat.

Optimismenya didasari oleh dukungan pemerintah yang nyata. Salah satu buktinya adalah pendirian Lembaga Keuangan Mikro di pesantren-pesantren dan pembentukan bank wakaf mikro.

"Kalau dulu membangun ekonomi dari atas dengan harapan berdampak ke bawah. Tapi sekarang harus dibalik, membangun dari bawah ke atas," tegasnya.

Pada kesempatan lain, dia menggaungkan semangat  era baru industri keuangan syariah Indonesia tahun ini. Menurutnya, setelah beberapa tahun terakhir pelaku industri berbenah, tahun ini adalah waktu yang pas untuk tinggal landas.

John Kosasih, Direktur Utama PT Bank Central Asia Syariah (BCA Syariah) mengatakan, kondisi perbankan syariah Indonesia cukup baik. Menurutnya, dukungan regulasi baik untuk menopang industri. Namun, pertumbuhan perbankan syariah sebenarnya lebih ditopang oleh kondisi ekonomi.       

"Kalau pertumbuhan bank syariah selalu di atas konvensional," katanya.         

Tag : bank syariah
Editor : Farodlilah Muqoddam

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top