BNI Tawarkan Perlindungan Kredit ke Debitur

PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk. memberikan fasilitas lindung nilai suku bunga kredit kepada debitur untuk menjaga kualitas aset di tengah tren kenaikan suku bunga.
Ilman A. Sudarwan | 26 November 2018 22:03 WIB
Karyawati Bank BNI (kanan) melayani nasabah di Jakarta, Selasa (6/11/2018). - JIBI/Felix Jody Kinarwan

Bisnis.com, JAKARTA—PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk. memberikan fasilitas lindung nilai suku bunga kredit kepada debitur untuk menjaga kualitas aset di tengah tren kenaikan suku bunga.

Direktur Tresuri dan Internasional BNI Rico Rizal Budidarmo mengatakan, saat ini lindung nilai suku bunga sudah dilakukan oleh beberapa debitur perseroan. Hal itu dilakukan debitur sebelum ada tren kenaikan suku bunga.

“Beberapa debitur BNI sudah melakukannya sejak suku bunga rendah dengan tujuan agar kewajibannya tidak naik di saat suku bunga bergerak naik,” katanya kepada Bisnis, Senin (26/11).

Rico menuturkan, produk lindung nilai yang digunakan oleh nasabah BNI adalah Interest Swap Rate (IRS). Adapun produk yang belum digunakan adalah Overnight Index Swap (OIS) lantaran pasarnya belum tersedia saat ini.

Dia menjelaskan, OIS dapat digunakan oleh nasabah yang membutuhkan lindung nilai atau hedging suku bunga jangka pendek dengan tenor antara 1—6 bulan. Sebaliknya, instrumen IRS lebih cocok digunakan oleh debitur untuk tenor jangka panjang.

Rico mengutarakan, dengan menggunakan instrumen tersebut, debitur menjadi lebih terlindung dari risiko suku bunga atupun kurs sehingga arus kas nasabah lebih terukur dan kondisi keuangannya menjadi lebih sehat.

Hal itu, lanjutnya, akan membuat risiko kualitas aset dapat lebih terkendali. “Hal ini tentunya akan memberi dampak positif terhadap bank. Bank juga dapat melakukan IRS untuk memitigasi risiko dalam rangka meng-cover biaya dana,” ujarnya.

Saat ini, lanjutnya, permintaan IRS lebih banyak diajukan debitur dengan pinjaman dalam denominasi valuta asing. Sebaliknya, dia menuturkan debitur dengan pinjaman rupiah, belum banyak menggunakan fasilitas tersebut.

Direktur Korporasi BNI Putrama Wahju Setyawan sebelumnbya mengatakan, sampai dengan Oktober, pertumbuhan kredit korporasi sudah mencapai 18% secara tahunan. Namun, sampai dengan akhir tahun pertumbuhan diproyeksikan mencapai 15%.

Kredit korporasi perseroan, lanjutnya, masih disokong oleh pertumbuhan beberapa sektor industri unggulan, seperti infrastruktur dan manufaktur. Dia menerangkan, kedua sektor industri tersebut juga masih akan menjadi tumpuan kredit korporasi perseroan pada tahun depan.

Sampai dengan September, penyaluran kredit emiten perbankan berkode saham BBNI tersebut mencapai Rp487,04 triliun, tumbuh 15,6% secara tahunan. Adapun kredit korporasi swasta dan badan usaha milik negara (BUMN) masing-masing meningkat 14,4% dan 24,9% secara tahunan.

Berdasarkan jenis penggunaannya, kredit modal kerja (KMK) dan kredit Investasi perseroan tercatat sebesar Rp257,27 triliun dan Rp123,76 triliun. Keduanya mengalami pertumbuhan masing-masing sebesar 19,0% dan 11,6%.

Pada periode tersebut, kualitas kredit korporasi BNI juga terbilang membaik dengan rasio kredit bermasalah mencapai sekitar 1,5%, turun dari posisi September pada tahun lalu sebesar 2,4%. 

 

Tag : bni
Editor : Hendri Tri Widi Asworo

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top