Milenial Harus Tahu Diri Atur Dana Aktualisasi

Melansir hasil survei yang dilakukan MoneySmart.id belum lama ini, kegiatan travelling menjadi komponen gaya hidup terbesar yang menjadi kegemaran para milenial, yakni mencapai 43% dari total biaya gaya hidup setiap bulan.
Asteria Desi Kartika Sari | 29 Desember 2018 09:42 WIB
Wisatawan mancanegara berjemur di pantai Kuta yang berada dalam Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Mandalika di Desa Kuta, Kecamatan Pujut, Praya, Lombok Tengah, NTB, Kamis (31/8). - ANTARA/Ahmad Subaidi

Bisnis.com, JAKARTA -- Jika dulu penikmat kopi hanya didominasi oleh pria paruh baya, kini trennya mulai meluas hingga kalangan anak muda. Bahkan, tempat untuk menikmati kopi juga mengalami pergeseran dari warung kopi pinggir jalan menjadi kafe kekinian. Starbucks, Coffee Bean, Animo, hingga Kopi Kenangan kini jamak jadi tempat nongkrong generasi milenial.

Tak hanya soal kopi, anak zaman kiwari pun tak ketinggalan tren gaya hidup digital. Mereka sering kali menghabiskan waktunya dengan gawai untuk berseluncur di media sosial, menikmati film dan musik lewat aplikasi, hingga berbelanja lewat platform digital.

Anak-anak muda masa kini juga tercatat menyukai berpelesir, dari sekadar ke bioskop maupun jalan-jalan hingga ke luar negeri. Tentu saja, gaya hidup anak muda ini bukan tanpa biaya.

Melansir hasil survei yang dilakukan MoneySmart.id belum lama ini, kegiatan travelling menjadi komponen gaya hidup terbesar yang menjadi kegemaran para milenial, yakni mencapai 43% dari total biaya gaya hidup setiap bulan.

Komponen terbesar kedua, setidaknya sebesar 25% dari total biaya gaya hidup per bulan dihabiskan untuk pergi ke kafe, disusul pengeluaran untuk belanja, baik di mal ataupun lewat aplikasi daring sebesar 21,1%. Sementara itu, sebesar 10,9% dari pengeluaran mereka digunakan untuk menonton ke bioskop, dan internet sebesar 7,1%.

Gaya hidup menjadi komponen pengeluaran yang patut diperhatikan, apalagi dengan fenomena yang dicatat oleh survei MoneySmart.id itu. Seberapa banyak sebenarnya kocek yang harus dirogoh untuk menuruti gaya hidup seorang milenial? Apakah dengan standar upah provinsi (UMP) saat ini bisa untuk menutup kebutuhan gaya hidup?

Perencana keuangan OneShildt Budi Raharjo menyebut bahwa fenomena gaya hidup seperti tergambar di atas adalah hal yang lumrah di kalangan milenial. Mereka memiliki rata-rata tingkat penghasilan awal karier yang lebih tinggi karena pendidikan yang lebih tinggi juga. Alhasil, kalangan milenial memiliki disposable income atau sisa penghasilan di luar kebutuhan dasar yang lebih besar pula dibandingkan dengan generasi sebelumnya.

“Milenial memiliki karakter keuangan yang berbeda, lebih percaya diri untuk membelanjakan uangnya untuk aktualisasi dan gaya hidup,” jelas Budi.

Gaya hidup itu dipengaruhi oleh faktor arus informasi dari internet dan media sosial. Kini kita semakin mudah menemukan informasi mengenai tempat-tempat menarik dan layak dikunjungi. Tambah lagi, kini semakin banyak tawaran dan pilihan produk atau jasa terkait dengan gaya hidup.

Selain itu, secara naluriah, manusia menyukai hal-hal yang dapat menghibur atau untuk melepaskan stres. Apalagi jika mereka memiliki lebih banyak waktu luang.

Namun, fenomena peningkatan pengeluaran untuk memenuhi gaya hidup bisa juga disebabkan oleh kurangnya pengetahuan dalam mengelola keuangan. Hal ini tentu patut Anda waspadai, karena bisa-bisa bukan kesenangan yang didapat, tapi malah tambah stres di akhir bulan.

Budi merekomendasikan paling tidak batas maksimal yang dikeluarkan untuk kebutuhan gaya hidup adalah sekitar 5%—8% per tahun. Dia menjelaskan yang paling penting adalah memastikan kapasitas keuangan yang memadai terlebih dahulu.

“Apabila penghasilan masih UMP, maka sebaiknya pengeluaran yang sifatnya tersier seperti gaya hidup dan travelling dihindari. Akan lebih baik jika pengeluaran tersebut baru dilakukan ketika penghasilan sudah lebih dari dua kali UMP,” jelas Budi.

Dia menambahkan bahwa alokasi untuk rekreasi dapat dibatasi maksimal 8% dari penghasilan setahun, kemudian untuk nongkrong dan nonton film dapat dibatasi sekitar satu-dua kali sebulan.  

Pasalnya, UMP adalah perhitungan upah berdasarkan standar hidup layak bagi seseorang dengan keluarga inti. Artinya, dalam perhitungan UMP memang tidak memasukkan elemen gaya hidup.

Menurut Budi, hal yang tidak disadari bahwa gaji dengan standar UMP tersebut akan surplus saat seseorang masih melajang, namun akan cukup pas ketika sudah berkeluarga dengan satu pencari nafkah utama. “Sehingga memang tidak disarankan untuk bergaya hidup melebihi batas kapasitas dengan penghasilan UMP,” katanya.

Maka, agar tidak melebihi batas, hindarilah pengeluaran yang sifatnya tersier. Jangan sekali-kali memaksakan diri untuk memenuhi kebutuhan tersier tersebut, karena bakal membuat Anda kehabisan dana untuk tabungan atau investasi, termasuk jika Anda mendapat akses pinjaman.

“Akhirnya pengeluaran itu akan membebani cash flow bulanan. Jadi sebaiknya disiplin terhadap pengelolaan keuangan serta menyusun prioritas selalu dalam membelanjakan uang yang dimiliki,” jelasnya.

Dalam hal mengatur keuangan, pepatah lama ini masih tetap berlaku: Berakit-rakit ke hulu, berenang-renang ke tepian. Bersakit-sakit dahulu, bersenang-senang kemudian. Jangan sampai, gara-gara travelling setitik, rusak rencana jangka panjang Anda.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
generasi milenial

Editor : M. Taufikul Basari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top