Proporsi Investasi di 2019, Pegang Saham dan Hindari Obligasi Jangka Panjang

Untuk memilih instrumen investasi, yang paling penting adalah mengetahui profil risiko dan tujuan investasi. Setelah mengetahui profil risiko, maka bisa dibedah portofolio yang akan dibangun oleh investor ritel, termasuk dengan mempertimbangkan kondisi eksternal.
Asteria Desi Kartika Sari | 05 Januari 2019 16:12 WIB
Ilustrasi Sukuk Negara Ritel. - JIBI/Nurul Hidayat

Bisnis.com, JAKARTA -- Memasuki 2019, diproyeksikan masih ada angin segar bagi para investor untuk membangun portofolio investasi. Instrumen investasi berbasis saham dan obligasi berpotensi memberikan imbal hasil yang menarik.

Jika menilik pada tahun lalu, pergerakan nilai tukar rupiah, saham, obligasi, dan reksa dana bisa dikatakan sangat fluktuatif, dipengaruhi oleh berbagai isu domestik dan eksternal. Wajar jika tahun ini investor tetap berhati-hati.

CEO Jagartha Advisor FX Iwan memaparkan untuk memilih instrumen investasi, yang paling penting adalah mengetahui profil risiko dan tujuan investasi. Setelah mengetahui profil risiko, maka bisa dibedah portofolio yang akan dibangun oleh investor ritel, termasuk dengan mempertimbangkan kondisi eksternal.

Secara umum, melihat kondisi global secara keseluruhan pada 2019, potensi peningkatan suku bunga masih bisa berlanjut. Jadi instrumen obligasi jangka panjang harus dihindari.

“Kalau untuk jangka menengah, pendek salah satu instrumen yang dapat dimanfaatkan bisa dimulai dari obligasi ritel dari pemerintah. Nanti ada SBR 005 yang ditawarkan mulai 10 Januari. Itu bisa jadi pilihan utama untuk investor ritel, terutama untuk profil risiko menengah ke bawah,” jelas Iwan.

Obligasi pemerintah bagi investor ritel, menurutnya sangat terjangkau. Apalagi rata-rata ditawarkan dengan tenor 3 tahun dan pembagian kupon dilakukan secara reguler. Dari sisi imbal hasil, obligasi pemerintah bisa lebih baik daripada deposito. Selain itu, obligasi pemerintah memiliki faktor risiko yang rendah.

“Imbal hasilnya 7,25% itu sudah setara dengan deposito. Jika uang Rp5 juta-Rp10 juta ditaruh ke deposito, dengan nilai segitu rate-nya akan sangat rendah, mungkin hanya 8,5% dipotong pajak hanya sisa 5,5%,” katanya.

Sementara itu, untuk investor yang lebih agresif, dia mengatakan investasi di pasar saham tentunya menjadi pilihan yang menarik tahun ini, walaupun pada penutupan 2018 indeks harga saham gabungan (IHSG) mencatat kinerja yang kurang positif.

Rekomendasi proporsi investasi untuk 2019: 60% di reksa dana saham atau saham langsung, 30% di obligasi ritel, 10% pada instrumen P2P lending.

Menurutnya, pada Tahun Babi Tanah terdapat potensi pasar saham yang bisa naik di atas rata-rata dibandingkan dengan instrumen lainnya, seperti deposito atau obligasi jangka pendek dan panjang. IHSG ditargetkan mencapai level 6.800.

“Tidak dapat dipungkiri walaupun tahun 2018 kinerja indeks masih negatif, tapi laba mengalami pertumbuhan. Dasar dari proyeksinya karena laba perusahaan kurang lebih ditargetkan dapat tumbuh sekitar 10%-12%,” jelas Iwan.

Ada beberapa faktor yang dapat mendorong laju indeks saham, terutama sentimen dari penyelenggaraan pemilihan umum. Harapannya, kegiatan atau aktivitas konsumen pada semua lini akan tergerak jelang pesta demokrasi.

Selain itu, kondisi ekonomi domestik akan lebih baik apabila keadaan global juga mendukung. Dia mengatakan perang dagang antara Amerika Serikat dan China tentu masih menjadi sorotan hingga 2019. “Kalau hasilnya positif tentu pasar modal secara global ikut positif.”

HARGA KOMODITAS

Faktor lain adalah seputar kemungkinan kenaikan suku bunga Bank Sentral Amerika Serikat (The Fed). Iwan mengatakan bahwa kenaikan suku bunga The Fed berpotensi naik 2-3 kali meskipun segmentasinya jauh lebih rendah dibandingkan dengan tahun sebelumnya.

“Kalau pergerakan tidak seagresif yang dibayangkan maka dapat memberikan angin segar terhadap pasar saham,” katanya.

Tak kalah penting adalah faktor harga komoditas. Hingga pekan terakhir 2018, harga minyak mentah sempat mengalami penurunan cukup signifikan. Pergerakan atau stabilitas harga minyak itu dapat mempengaruhi pergerakan pasar modal secara keseluruhan. Secara umum, faktor tersebut patut dicermati untuk melihat potensi lanjutan dari pasar saham.

Lantas, sektor apa yang menjadi pilihan? Menurut Iwan, dengan melihat kondisi domestik dengan adanya pemilu, sektor konsumer potensial terkerek. Selain itu Anda juga bisa mencermati sektor telekomunikasi, pasalnya penggunaan data juga akan meningkat di masa pemilu.

Lebih lanjut, untuk instrumen lain seperti investasi emas memang tidak disarankan. Pasalnya, harga emas saat ini pergerakannya cenderung stagnan dan kenaikannya cenderung terbatas.

Namun, emas masih bisa dikoleksi sebagai bagian dari portofolio, tetapi bukan diarahkan untuk investasi dengan kenaikan tinggi. Sama halnya dengan properti, meski harga tanah akan mengalami kenaikan, namun hal itu terjadi dalam jangka panjang.

Menurutnya, apabila ingin bereksplorasi sah-sah saja. Misalnya masuk ke portofolio lain seperti peer-to-peer lending. Namun, investor tetap harus hati-hati karena di P2P memiliki risiko yang lebih besar dari peminjam.

Instrumen tersebut memang menjadi trending pada tahun lalu, namun P2P bukan pilihan terbaik. Seperti halnya cryptocurrency yang sempat menjadi primadona, namun ternyata sebih banyak jadi alat spekulasi, bukan investasi.

“Faktanya, banyak yang pindah ke situ, namun sampai hari ini tidak bisa merealisasikan keuntungan, bahkan malah rugi. Jadi, sebenarnya kuncinya bukan ke instrumennya tetapi lebih ke proporsi untuk membangun investasi.”

Iwan mengatakan memang tidak ada patokan pasti porsi instrumen karena tergantung dari profil risiko atau tujuan investasi masing-masing individu. Namun untuk gambaran di tahun ini, dia merekomendasikan bisa berinvestasi sebesar 60% di reksa dana saham atau saham langsung, 30% di obligasi ritel, 10% pada instrumen P2P lending. “Itu yang harus dipilah-pilah, komposisinya memang penting,” kata Iwan.

Tag : investasi, Obligasi
Editor : M. Taufikul Basari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top