Bersaing dengan Fintech, Bank Perlu Turunkan Biaya Transaksi

Bank perlu menurunkan atau bahkan membebaskan biaya transaksi agar dapat memenangi persaingan dengan fintech.
Farodilah Muqoddam
Farodilah Muqoddam - Bisnis.com 21 Februari 2019  |  15:45 WIB
Bersaing dengan Fintech, Bank Perlu Turunkan Biaya Transaksi
Ilustrasi pembayaran mobile menggunakan ponsel pintar - flickr

Bisnis.com, JAKARTA — Persaingan antara perbankan dengan perusahaan fintech (financial technology) dalam bisnis pembayaran digital atau digital payment semakin ketat. Jika ingin memenangi persaingan, salah satu hal  yang perlu dilakukan adalah mengurangi biaya transaksi.

Menurut survei AlphaWise yang dipublikasikan oleh Morgan Stanley pada Kamis (21/2/2019), bank perlu mempertimbangkan kembali model bisnis mereka dalam mencari pendapatan komisi. Di tengah maraknya persaingan dengan layanan serupa yang ditawarkan oleh fintech, bank perlu menghitung ulang keputusan untuk membebankan biaya transaksi kepada nasabah.

“Bank perlu menurunkan atau bahkan bila perlu membebaskan biaya transaksi agar dapat memenangi disrupsi fintech,” tulis laporan tersebut. 

Strategi lainnya, masih menurut survei yang sama, adalah bank perlu meningkatkan kemudahan dan kenyamanan transaksi. Fitur dalam layanan digital banking harus memperhatikan user experience. 

Berdasarkan survei AlphaWise yang melibatkan 1.582 responden tersebut, perusahaan fintech dinilai lebih unggul dibandingkan dengan perbankan, e-commerce, dan perusahaan telekomunikasi dalam hal pengembangan layanan uang elektronik.

Para responden survei menilai fintech unggul karena memiliki sejumlah kelebihan dibandingkan dengan para pesaingnya.

Pertama, uang elektronik yang diterbitkan oleh fintech lebih praktis digunakan untuk berbagai keperluan. Hal ini terjadi karena fintech terlebih dahulu membangun ekosistem digital, kemudian uang elektronik melengkapinya.

Pengguna fintech telah terbiasa memanfaatkan layanan transportasi online, memesan makanan dan minuman, atau melakukan transaksi lain dalam sistem yang dibangun oleh fintech. Penambahan fitur uang elektronik memudahkan pengguna untuk bertransaksi.

Kedua, layanan top-up secara mandiri melalui jaringan mitra pengemudi dinilai lebih praktis oleh para responden survei, daripada top-up melalui bank.

Ketiga, jaringan merchant yang menerima pembayaran menggunakan uang elektronik yang disediakan oleh fintech semakin luas. Sampai saat ini, jaringan merchant yang bekerja sama dengan perbankan masih jauh lebih banyak, namun perlahan fintech menyusul.

Menurut data Bank Indonesia, nilai transaksi uang elektronik sepanjang tahun lalu mencapai Rp47,19 triliun. Nilai tersebut meningkat sekitar empat kali lipat dibandingkan dengan nilai transaksi pada tahun sebelumnya senilai Rp12,37 triliun.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
fintech

Editor : Farodilah Muqoddam

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top